Oleh: Abdul Majid Nasution
Tidak banyak tokoh dari Sumatera
Utara pada abad ke-19 yang meninggalkan warisan intelektual sedemikian besar
sebagaimana Willem Iskander. Di tengah situasi masyarakat Nusantara yang masih
sangat terbatas memperoleh akses pendidikan, ia tampil sebagai seorang guru,
pemikir, penulis, sekaligus pelopor pendidikan modern bagi masyarakat
bumiputra.
Nama Willem Iskander memang belum
sepopuler Ki Hajar Dewantara atau Mohammad Syafei dalam sejarah pendidikan
Indonesia. Namun jika ditelusuri lebih jauh, gagasan dan perjuangan yang ia
lakukan telah hadir jauh sebelum pendidikan nasional berkembang seperti
sekarang. Oleh karena itu, sudah saatnya bangsa Indonesia memberikan
penghargaan yang layak kepada putra terbaik Mandailing ini melalui penetapannya
sebagai Pahlawan Nasional.
Putra Mandailing yang
Mendedikasikan Hidup untuk Pendidikan
Willem Iskander lahir di
Mandailing dengan nama asli Sati Nasution pada tahun 1840. Ia tumbuh dalam
lingkungan masyarakat yang pada masa itu masih memiliki akses yang sangat
terbatas terhadap pendidikan formal. Sejak usia muda, ia dikenal memiliki
kecerdasan, semangat belajar yang tinggi, serta kemampuan intelektual yang
menonjol dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Potensi tersebut kemudian
membawanya memperoleh kesempatan yang sangat langka, yaitu menempuh pendidikan
di Belanda. Kesempatan itu menjadi titik balik yang membentuk dirinya sebagai
seorang intelektual yang kelak memberikan kontribusi besar bagi perkembangan
pendidikan di tanah air.
Pada pertengahan abad ke-19,
memperoleh pendidikan tinggi di Eropa merupakan sebuah privilese yang hampir
mustahil diraih oleh seorang pribumi. Sistem kolonial pada masa itu belum
memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat bumiputra untuk mengenyam
pendidikan yang setara dengan bangsa Eropa. Di tengah berbagai keterbatasan
tersebut, Willem Iskander berhasil membuktikan bahwa anak bangsa memiliki
kemampuan intelektual yang tidak kalah apabila diberi akses, kesempatan, dan
lingkungan belajar yang memadai. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kualitas
seseorang tidak ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan oleh kesempatan untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Setelah menyelesaikan
pendidikannya di Belanda, Willem Iskander dihadapkan pada berbagai pilihan
untuk meniti karier yang menjanjikan dalam lingkungan pemerintahan kolonial.
Dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, ia sesungguhnya memiliki
peluang untuk memperoleh jabatan yang lebih mapan dan kehidupan yang lebih
nyaman. Namun, ia memilih jalan pengabdian yang berbeda dengan kembali ke
Mandailing, daerah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Keputusan tersebut
didasari oleh keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bermakna apabila
dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang masih tertinggal
dalam bidang pendidikan.
Pilihan hidup Willem Iskander
menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar profesi untuk mencari
penghidupan, melainkan sebuah panggilan moral dan bentuk pengabdian kepada
bangsa. Ia meyakini bahwa kemajuan suatu masyarakat hanya dapat dicapai apabila
rakyatnya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik. Oleh
karena itu, seluruh kemampuan yang diperolehnya selama belajar di Eropa
diarahkan untuk membangun sistem pendidikan yang mampu melahirkan
generasi-generasi terdidik di Mandailing. Semangat pengabdian inilah yang
kemudian menjadikan Willem Iskander dikenang sebagai salah seorang pelopor
pendidikan modern yang meletakkan dasar penting bagi kemajuan sumber daya
manusia di Nusantara.
Mendirikan Kweekschool
Tanobato
Salah satu warisan terbesar yang
ditinggalkan Willem Iskander adalah pendirian Kweekschool Tanobato pada tahun
1862 di Tanobato, Mandailing. Lembaga ini merupakan sekolah pendidikan guru
yang didirikan untuk mempersiapkan tenaga pendidik pribumi yang memiliki
pengetahuan, keterampilan mengajar, serta karakter yang baik. Pada masanya,
keberadaan sekolah tersebut menjadi sebuah terobosan penting karena merupakan
salah satu lembaga pendidikan modern pertama bagi masyarakat pribumi di luar
Pulau Jawa. Kehadiran Kweekschool Tanobato menandai dimulainya upaya sistematis
untuk membangun kualitas pendidikan melalui pembentukan guru-guru yang
profesional dan berwawasan luas.
Keberadaan Kweekschool Tanobato
memiliki arti yang sangat strategis dalam sejarah perkembangan pendidikan di
Indonesia. Willem Iskander memahami bahwa keberhasilan suatu sistem pendidikan
sangat bergantung pada kualitas para guru yang berada di garis depan proses
pembelajaran. Menurut pandangannya, membangun sekolah tanpa menyiapkan tenaga
pendidik yang kompeten hanya akan menghasilkan kemajuan yang bersifat
sementara. Oleh karena itu, ia lebih memilih mendirikan lembaga yang secara
khusus mencetak calon guru, sehingga manfaat pendidikan dapat menyebar secara
lebih luas dan berkelanjutan ke berbagai daerah.
Gagasan tersebut menunjukkan
bahwa Willem Iskander memiliki visi yang jauh melampaui zamannya. Ia menyadari
bahwa seorang guru tidak hanya mendidik puluhan murid dalam satu kelas, tetapi
juga membentuk karakter, pola pikir, dan masa depan generasi yang akan datang.
Seorang guru yang berkualitas akan melahirkan murid-murid yang cerdas, yang
pada gilirannya dapat menjadi guru, pemimpin, maupun tokoh masyarakat di
kemudian hari. Dengan demikian, investasi pada pendidikan guru merupakan
investasi jangka panjang yang memberikan dampak berlipat ganda bagi kemajuan
bangsa.
Konsep pembangunan sumber daya
manusia melalui pendidikan guru yang diperjuangkan Willem Iskander tetap
relevan hingga saat ini. Berbagai kebijakan pendidikan modern, baik di
Indonesia maupun di berbagai negara, masih menempatkan peningkatan kualitas
tenaga pendidik sebagai salah satu prioritas utama dalam reformasi pendidikan.
Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Willem Iskander telah mendahului zamannya
dan sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan kontemporer yang menempatkan guru
sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan sosial. Atas dasar itu,
Kweekschool Tanobato tidak hanya dapat dipandang sebagai sebuah institusi
pendidikan, tetapi juga sebagai simbol lahirnya gagasan besar tentang
pentingnya membangun peradaban melalui penguatan kualitas guru.
Pendidikan sebagai Jalan
Kemajuan Bangsa
Willem Iskander memandang
pendidikan sebagai jalan utama untuk membebaskan manusia dari kebodohan,
kemiskinan, dan keterbelakangan. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses
transfer ilmu pengetahuan, melainkan sarana membentuk karakter, memperluas
wawasan, dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Ia meyakini bahwa
masyarakat yang terdidik akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan
kehidupan serta mengambil keputusan secara bijaksana. Oleh karena itu,
pendidikan ditempatkannya sebagai fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang
maju, mandiri, dan bermartabat.
Menurut Willem Iskander, kemajuan
suatu masyarakat tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan infrastruktur
atau peningkatan kesejahteraan ekonomi semata. Pembangunan yang sesungguhnya
harus diawali dengan pembangunan kualitas manusia sebagai pelaku utama
perubahan. Manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan akhlak yang
baik akan mampu mengelola sumber daya secara lebih efektif serta menciptakan
berbagai inovasi bagi kemajuan masyarakatnya. Pandangan tersebut menunjukkan
bahwa jauh sebelum konsep pembangunan sumber daya manusia menjadi perhatian
dunia modern, Willem Iskander telah menempatkan manusia sebagai pusat
pembangunan.
Melalui berbagai karya tulis dan
aktivitas pendidikannya, Willem Iskander terus mendorong masyarakat agar
menghargai pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bekal kehidupan. Ia mengajarkan
bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui disiplin,
ketekunan, kerja keras, serta kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memberikan pendidikan yang baik
kepada anak-anak sejak usia dini karena merekalah yang akan menentukan masa
depan masyarakat. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat
Mandailing, gagasan-gagasan tersebut mampu menjangkau kalangan yang lebih luas
dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.
Pemikiran Willem Iskander dapat
dikatakan sangat progresif untuk ukuran abad ke-19. Pada masa ketika sebagian
besar masyarakat Nusantara masih memiliki akses yang sangat terbatas terhadap
pendidikan formal, ia telah berbicara tentang pentingnya membangun manusia
melalui ilmu pengetahuan, karakter, dan etos kerja. Gagasan-gagasannya bahkan
memiliki kesesuaian dengan berbagai konsep pendidikan modern yang berkembang
pada abad ke-21, seperti pengembangan sumber daya manusia, pembelajaran
sepanjang hayat, dan pendidikan karakter. Nilai-nilai yang diperjuangkannya
tetap relevan hingga saat ini, ketika Indonesia terus berupaya meningkatkan
kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama untuk menghadapi tantangan
global dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Pelopor Sastra dan Literasi
Daerah
Selain dikenal sebagai seorang
pendidik, Willem Iskander juga merupakan sastrawan yang memiliki peran penting
dalam perkembangan literasi di Mandailing. Ia memanfaatkan kemampuan menulisnya
untuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang pendidikan, kehidupan bermasyarakat,
dan pentingnya perubahan sosial. Berbeda dengan banyak penulis pada zamannya
yang menggunakan bahasa kolonial atau bahasa Melayu, Willem Iskander memilih
menulis dalam bahasa Mandailing agar pesan-pesannya dapat dipahami secara luas
oleh masyarakat setempat. Pilihan tersebut menunjukkan kepeduliannya terhadap
pelestarian bahasa daerah sekaligus komitmennya untuk menjadikan sastra sebagai
sarana mencerdaskan rakyat.
Melalui kumpulan karya tulisnya,
Willem Iskander menjadikan sastra sebagai media pendidikan yang efektif. Ia
tidak hanya menyajikan keindahan bahasa, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai
moral, etika, dan semangat pembaruan yang dapat menjadi pedoman bagi
masyarakat. Tulisan-tulisannya mengajak pembaca untuk menghargai ilmu
pengetahuan, membangun kebiasaan hidup disiplin, bekerja keras, serta memiliki
tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan sosial. Dengan demikian,
karya-karyanya tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung
fungsi edukatif yang kuat.
Tema-tema yang diangkat Willem
Iskander mencerminkan kepeduliannya terhadap masa depan masyarakat Mandailing
dan Nusantara secara umum. Ia menulis mengenai pentingnya pendidikan bagi
anak-anak, penghormatan terhadap orang tua, kecintaan kepada tanah kelahiran,
serta perlunya membangun masyarakat yang beradab melalui ilmu pengetahuan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menurut pandangannya, proses
pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas melalui interaksi antara guru
dan murid, tetapi juga dapat dilakukan melalui bacaan yang membentuk cara
berpikir dan karakter masyarakat. Sastra, dalam pandangannya, merupakan salah
satu instrumen yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan dan
membangun kesadaran sosial.
Warisan literasi yang ditinggalkan
Willem Iskander menjadi bukti bahwa ia merupakan seorang intelektual yang mampu
memadukan pendidikan, budaya, dan bahasa lokal dalam satu kesatuan pemikiran
yang utuh. Ia memahami bahwa kemajuan suatu bangsa tidak cukup hanya dibangun
melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui penguatan budaya
literasi yang tumbuh di tengah masyarakat. Dengan menjadikan bahasa Mandailing
sebagai medium penyampaian gagasan, ia turut berkontribusi dalam menjaga
identitas budaya sekaligus memperkaya khazanah sastra Nusantara. Atas dasar
itulah, karya-karya Willem Iskander tidak hanya memiliki nilai historis dan
sastra, tetapi juga menjadi warisan intelektual yang memperlihatkan besarnya
kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat melalui kekuatan pendidikan dan
literasi.
Mengapa Layak Menjadi Pahlawan
Nasional?
Pahlawan Nasional tidak selalu
identik dengan perjuangan bersenjata atau keterlibatan langsung dalam medan
peperangan. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan untuk memajukan
bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang pengabdian, termasuk pendidikan,
ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesehatan, diplomasi, maupun pemikiran. Negara
memberikan penghargaan kepada individu yang telah memberikan kontribusi luar
biasa dan berdampak luas bagi perjalanan bangsa, tanpa membatasi bentuk
perjuangannya hanya pada perlawanan fisik terhadap penjajah. Pandangan ini
mencerminkan bahwa makna kepahlawanan dalam konteks Indonesia bersifat luas dan
mencakup setiap upaya yang secara nyata memperkuat kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Dalam konteks tersebut, jasa
Willem Iskander memiliki relevansi yang sangat kuat. Pertama, ia merupakan
pelopor pendidikan modern bagi masyarakat pribumi di Sumatera. Kedua, ia
mendirikan lembaga pendidikan guru yang memberikan dampak jangka panjang
terhadap perkembangan pendidikan di wilayah Sumatera. Ketiga, ia menghasilkan
karya-karya pemikiran yang mendorong kemajuan masyarakat melalui ilmu
pengetahuan. Keempat, seluruh pengabdiannya dilakukan jauh sebelum lahirnya
gerakan kebangkitan nasional pada awal abad ke-20.
Artinya, Willem Iskander telah
menanamkan benih-benih kemajuan bangsa melalui pendidikan pada masa ketika
kesadaran nasional Indonesia masih berada dalam tahap awal pembentukannya. Pada
pertengahan abad ke-19, identitas sebagai satu bangsa Indonesia belum
berkembang sebagaimana yang kemudian dimaknai pada era Kebangkitan Nasional.
Masyarakat di berbagai daerah masih lebih mengenal identitas kedaerahan,
sementara akses terhadap pendidikan modern bagi kaum pribumi masih sangat terbatas.
Dalam situasi seperti itulah Willem Iskander memilih menjadikan pendidikan
sebagai sarana untuk membangun cara berpikir yang lebih maju, terbuka, dan
berorientasi pada masa depan.
Momentum Menghargai Warisan
Intelektual Bangsa
Pengusulan Willem Iskander
sebagai Pahlawan Nasional bukan semata-mata untuk memberikan penghormatan
kepada seorang tokoh yang berasal dari Mandailing. Lebih dari itu, langkah ini
merupakan bentuk penghargaan negara terhadap kontribusi para pelopor pendidikan
yang telah meletakkan dasar-dasar kemajuan bangsa jauh sebelum Indonesia meraih
kemerdekaan. Pengakuan tersebut juga mencerminkan komitmen untuk menghadirkan
sejarah nasional yang lebih utuh dengan memberikan tempat yang layak bagi
tokoh-tokoh yang berjasa melalui bidang pendidikan, pemikiran, dan pengabdian
kepada masyarakat.
Selama ini, narasi sejarah
nasional sering kali lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh yang berasal dari
wilayah tertentu atau yang berperan dalam perjuangan politik dan militer.
Padahal, proses pembentukan bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan hasil
kontribusi kolektif dari putra-putri terbaik yang berasal dari berbagai daerah
di Nusantara. Setiap wilayah memiliki tokoh yang memberikan sumbangan penting
sesuai dengan konteks zamannya, baik melalui pendidikan, kebudayaan, keagamaan,
diplomasi, maupun perjuangan sosial. Oleh karena itu, pengakuan terhadap Willem
Iskander juga menjadi bagian dari upaya memperkaya perspektif sejarah nasional
agar lebih mencerminkan keberagaman kontribusi yang membentuk Indonesia.
Mengangkat Willem Iskander
sebagai Pahlawan Nasional berarti memperluas khazanah sejarah bangsa dengan
menghadirkan sosok yang membuktikan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama
bagi kemajuan masyarakat. Melalui pendirian Kweekschool Tanobato, karya-karya
tulisnya, serta gagasan-gagasan pembaruannya, ia telah menunjukkan bahwa
perubahan yang berkelanjutan dimulai dari pembangunan kualitas manusia.
Kontribusi tersebut memiliki dampak yang melampaui batas ruang dan waktu karena
nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap relevan dalam pembangunan bangsa hingga
saat ini. Dengan demikian, jasa Willem Iskander tidak hanya memiliki arti
penting bagi Mandailing, tetapi juga bagi sejarah pendidikan Indonesia secara
keseluruhan.
Pengakuan terhadap jasa Willem Iskander
juga akan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya
mengajarkan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui ilmu
pengetahuan, pendidikan, dan keteladanan, selain melalui perjuangan fisik di
medan perang. Sosoknya memperlihatkan bahwa ruang kelas, buku, pena, dan
dedikasi seorang guru mampu melahirkan perubahan yang dampaknya bertahan lintas
generasi. Atas dasar itu, penetapan Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional
tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas jasa masa lalu, tetapi juga
investasi moral untuk menanamkan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa kepada
generasi masa depan.
Penutup
Willem Iskander telah membuktikan
bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk membangun peradaban. Ia
mengabdikan ilmu, tenaga, dan pemikirannya demi mencerdaskan masyarakat pada
masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas.
Warisan yang ditinggalkannya
bukan hanya sebuah sekolah, melainkan sebuah visi tentang masa depan bangsa:
bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui manusia yang terdidik.
Atas jasa-jasa tersebut,
pengusulan Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional merupakan ikhtiar yang
memiliki landasan historis, akademis, dan moral yang kuat. Penghargaan itu
bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk menegaskan bahwa
bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pendidiknya.
Sudah saatnya nama Willem
Iskander menempati posisi yang semestinya dalam jajaran tokoh besar
Indonesia—sebagai pelopor pendidikan modern dari Tanah Mandailing dan salah
satu peletak fondasi kemajuan bangsa melalui ilmu pengetahuan.
