Rabu, 20 Mei 2026

Pemekaran Daerah: Benarkah Selalu Membawa Kemajuan?

Sejak era reformasi, Indonesia mengalami gelombang besar pemekaran daerah. Banyak kabupaten, kota, bahkan provinsi baru dibentuk dengan alasan agar pembangunan lebih merata dan pelayanan pemerintah lebih dekat kepada masyarakat. Secara teori, tujuan ini memang terdengar baik. Namun dalam praktiknya, banyak ahli menilai pemekaran daerah justru menimbulkan berbagai masalah baru.

Menurut banyak kajian akademik, pemekaran sering kali lebih menguntungkan elite politik dibanding masyarakat umum. Daerah baru berarti muncul jabatan baru: bupati baru, DPRD baru, dinas baru, hingga proyek-proyek baru. Karena itu, tidak sedikit pemekaran yang sebenarnya lebih didorong kepentingan politik daripada kebutuhan rakyat.

Ilmuwan politik Vedi R. Hadiz pernah menjelaskan bahwa desentralisasi di Indonesia melahirkan “oligarki lokal”, yaitu kelompok elite daerah yang memanfaatkan kekuasaan untuk memperkuat pengaruh dan jaringan mereka sendiri. Kekuasaan yang dulu terpusat di Jakarta akhirnya hanya berpindah ke elite-elite di daerah.

Selain itu, banyak daerah hasil pemekaran ternyata tidak mandiri secara ekonomi. Mereka sangat bergantung pada dana dari pemerintah pusat. Anggaran daerah sering habis untuk membangun kantor pemerintahan, membeli kendaraan dinas, dan membayar pegawai. Akibatnya, uang negara lebih banyak terserap untuk birokrasi dibanding pelayanan masyarakat.

Kajian dari World Bank juga menunjukkan bahwa banyak daerah baru mengalami kesulitan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Artinya, mendekatkan kantor pemerintahan belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Masalah lain adalah munculnya politik identitas. Dalam beberapa kasus, pemekaran daerah memunculkan persaingan antar kelompok masyarakat atas nama etnis, wilayah, atau “putra daerah”. Jika tidak dikelola dengan baik, hal seperti ini bisa memicu konflik sosial dan memperlemah persatuan.

Tentu tidak semua pemekaran gagal. Ada daerah tertentu yang memang membutuhkan pemekaran karena wilayahnya terlalu luas atau akses pelayanan sangat sulit. Namun pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa pemekaran bukan solusi ajaib untuk semua masalah pembangunan.

Karena itu, yang lebih penting sebenarnya bukan sekadar membentuk daerah baru, tetapi bagaimana membangun pemerintahan yang bersih, efektif, dan benar-benar bekerja untuk rakyat. Sebab kalau hanya memperbanyak kantor dan jabatan tanpa memperkuat ekonomi serta kualitas pelayanan, pemekaran justru bisa menjadi beban baru bagi negara.

Tidak ada komentar: