Tampilkan postingan dengan label rs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rs. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2021

Pelatihan Internal Emergency Neonatus di RSU Permata Madina Panyabungan: Meningkatkan Kompetensi untuk Keselamatan Pasien

Pada Selasa–Rabu, 13–14 April 2021, Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan internal sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Kegiatan kali ini mengusung tema Emergency Neonatus, sebuah pelatihan yang sangat penting mengingat kegawatdaruratan pada bayi baru lahir membutuhkan respon cepat, tepat, dan terstandar.

Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina PanyabunganSuasana antusias terlihat sejak awal, dimana peserta yang terdiri dari perawat, bidan, serta tenaga kesehatan terkait hadir dengan semangat untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani kasus-kasus neonatal emergensi.

Pemateri Berkompeten: dr. Bambang Herianto, MM

Sebagai pemateri, RSU Permata Madina menghadirkan dr. Bambang Herianto, MM, seorang dokter dengan pengalaman luas dalam manajemen kegawatdaruratan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dalam dua hari pelatihan, beliau menyampaikan materi secara komprehensif, mulai dari:

Dipadukan dengan pendekatan interaktif, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melakukan simulasi langsung, sehingga memahami bagaimana tindakan cepat dan terkoordinasi dapat menyelamatkan nyawa bayi baru lahir.

Komitmen RSU Permata Madina untuk Pelayanan Lebih Baik

Kegiatan diklat seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen RSU Permata Madina Panyabungan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang pelayanan neonatal. Dengan meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi gawat darurat pada neonatus, rumah sakit berharap dapat memberikan pelayanan yang semakin aman, profesional, dan sesuai standar nasional.

Penutup

Diklat Internal Emergency Neonatus ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan tim medis RSU Permata Madina. Semangat peserta, kualitas pemateri, serta dukungan manajemen menjadi modal berharga dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang unggul, khususnya bagi pasien-pasien terkecil dan paling rentan: bayi baru lahir.

Senin, 07 Oktober 2019

Mengenal Pentingnya Pelatihan Early Warning System dan Code Blue di Rumah Sakit






Di rumah sakit, setiap detik bisa berarti nyawa. Karena itu, pelayanan gawat darurat harus bekerja cepat, tepat, dan profesional. Di ruang IGD, perawat dan dokter menghadapi pasien dengan kondisi yang bisa berubah mendadak—mulai dari sakit yang memburuk tiba-tiba, kecelakaan, hingga situasi yang sama sekali tak terduga.
Berbeda dengan ruang perawatan biasa, perawat IGD harus mengambil keputusan dalam hitungan menit. Informasi sering terbatas, waktu sangat sempit, dan prioritasnya jelas: menyelamatkan pasien dari ancaman nyawa. Evaluasi dilakukan cepat, bukan jam atau hari.

Apa itu Code Blue?
Di banyak rumah sakit, ada satu isyarat yang sangat penting: Code Blue.
Begitu pengumuman ini terdengar, artinya ada pasien yang mengalami henti jantung atau henti napas. Tim Code Blue—kelompok tenaga medis terlatih yang siap siaga 24 jam—akan segera datang untuk menangani keadaan darurat tersebut. Respons cepat ini bisa menjadi penentu hidup dan mati.

Early Warning System: Mendeteksi Bahaya Sebelum Terlambat
Sebelum pasien sampai pada kondisi gawat, ada sistem bernama Early Warning Scoring System (EWSS). Sistem ini membantu petugas memantau tanda-tanda vital pasien secara berkala, lalu memberikan skor berdasarkan kondisi fisiologis mereka.
Dengan skor ini, tenaga medis bisa mengetahui apakah pasien masih stabil, mulai memburuk, atau sudah dalam kondisi yang perlu tindakan segera.
EWSS sangat penting terutama di IGD, di mana overcrowding sering terjadi. Ketika ruang penuh sesak dan waktu tunggu memanjang, pemantauan bisa kurang optimal. Akibatnya, pasien yang tadinya kategori kuning (butuh observasi ketat) bisa tiba-tiba berubah menjadi merah (gawat darurat).

Fungsi utama EWS adalah:
  • Melacak perubahan kondisi pasien sedini mungkin
  • Memicu respons cepat dari tim medis sebelum keadaan menjadi kritis

Dengan deteksi awal, kondisi mengancam jiwa bisa ditangani lebih cepat, bahkan dicegah sebelum terjadi.

Diklat Internal EWS & Code Blue di RSU Permata Madina
Untuk meningkatkan pengetahuan staf klinis dan Tim Code Blue—terutama bagi yang belum familiar dengan EWS—RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan “Diklat Internal Early Warning System (EWS) dan Simulasi Code Blue”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja tahun 2019 dan diprakarsai oleh Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina.

Tujuan Diklat:
  • Memahami prinsip dan komponen EWS–Code Blue
  • Mempelajari parameter fisiologi yang digunakan dalam penilaian
  • Mengetahui cara pelaksanaan EWS dan alur aktivasi Code Blue

Pelaksanaan Kegiatan:
  • Hari/Tanggal: Senin, 07 Oktober 2019
  • Waktu: 14.00 – 18.00 WIB
  • Tempat: Aula Saung RSU Permata Madina Panyabungan
  • Pemateri: dr. Sofian Hasibuan, Sp.An.

Pesertanya adalah seluruh staf klinis dan tenaga medis di RSU Permata Madina. Selain materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan simulasi Code Blue agar peserta dapat memahami situasi nyata di lapangan.


Sabtu, 05 Oktober 2019

Pelatihan Bantuan Hidup Lanjutan untuk Staf Klinis RSU Permata Madina Panyabungan Tahun

Sebagai bagian dari implementasi program kerja Diklat RSU Permata Madina Panyabungan tahun 2019, Unit Personalia dan Diklat kembali melaksanakan kegiatan pelatihan internal yang bertujuan meningkatkan kompetensi staf klinis. Pada hari Sabtu, 05 Oktober 2019, sebuah Diklat Bantuan Hidup Lanjutan (BHL) atau Advanced Life Support digelar di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pelatihan ini menghadirkan pemateri berpengalaman, dr. Sofian Hasibuan, Sp.An, yang membagikan ilmu dan praktik terbaik dalam penanganan kegawatdaruratan.

Mengapa Bantuan Hidup Lanjutan Penting?

Bantuan Hidup Lanjutan merupakan tindakan lanjutan setelah Bantuan Hidup Dasar (BHD) diberikan. Jika BHD berfokus pada upaya mempertahankan jalan napas dan sirkulasi melalui metode seperti pernapasan bantuan dan kompresi dada, maka BHL melibatkan penggunaan obat-obatan serta teknik lanjutan untuk memperpanjang kehidupan pasien, terutama pada kasus henti jantung atau henti napas.

BHD sendiri dikenal luas sebagai bagian penting dari Resusitasi Jantung Paru (RJP)—sebuah keterampilan dasar yang dapat dilakukan siapa saja untuk membantu korban dalam keadaan darurat sebelum pertolongan medis profesional tiba.

Kebutuhan Kompetensi yang Bersifat Wajib

Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), penguasaan Bantuan Hidup Dasar merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki seluruh staf rumah sakit—baik yang terlibat langsung dalam asuhan pasien maupun yang bekerja di unit non-medis. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan tindakan penyelamatan awal sudah menjadi skill mendasar yang harus dimiliki setiap orang, bukan hanya tenaga medis.

Komitmen RSU Permata Madina terhadap Mutu Pelayanan

Melalui diklat seperti BHL ini, RSU Permata Madina Panyabungan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan setiap staf memiliki pengetahuan memadai dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Pelatihan ini bukan hanya memenuhi kewajiban akreditasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar rumah sakit untuk membentuk SDM yang kompeten, sigap, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
















Jumat, 04 Oktober 2019

Menguatkan Kompetensi Staf Non Klinis: Pengalaman Saya Menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar 2019

Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa mutu layanan rumah sakit bukan hanya ditentukan oleh tenaga klinis, tetapi juga oleh kesiapan seluruh unsur yang bekerja di dalamnya. Karena itu, setiap tahun saya berusaha memastikan bahwa program kerja diklat benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas SDM kami.

Salah satu kegiatan yang sangat berkesan bagi saya adalah penyelenggaraan Diklat Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi staf non klinis pada Jumat, 4 Oktober 2019. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program kerja diklat tahun 2019, dan menjadi momen penting untuk memperkuat kesiapsiagaan staf non medis dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. Saya masih ingat bagaimana antusiasme peserta begitu terasa sejak awal kegiatan. Walaupun mereka bukan tenaga klinis, namun semangat mereka untuk belajar dan memahami keterampilan dasar penyelamatan nyawa benar-benar luar biasa.

Untuk memberikan pelatihan yang komprehensif dan akurat, kami menghadirkan dr. Sofian Hasibuan, Sp.An sebagai pemateri. Beliau menyampaikan materi dengan sangat jelas, mulai dari prinsip dasar Bantuan Hidup Dasar, teknik kompresi dada yang benar, hingga praktik penanganan kondisi henti napas dan henti jantung pada korban.

Melihat para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, bahkan berlatih langsung dengan serius, membuat saya semakin yakin bahwa diklat seperti ini penting untuk terus ditingkatkan. Bagi saya, keselamatan pasien adalah tanggung jawab seluruh komponen rumah sakit, dan memberikan pemahaman tentang BHD kepada staf non klinis adalah salah satu langkah strategis untuk memastikan itu terwujud.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Saya pribadi merasa bersyukur dapat memimpin unit yang memiliki peran penting dalam membangun budaya kompetensi dan kesiapan darurat di rumah sakit.

Semoga pelatihan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh staf serta pasien RSU Permata Madina Panyabungan.



















Minggu, 04 Agustus 2019

Orientasi PPI untuk Karyawan Baru: Karena Kerja di Rumah Sakit Bukan Sekadar Masuk, Absen, Pulang.

Setiap orang yang pertama kali bekerja di rumah sakit pasti punya momen “kaget”—mulai dari bau desinfektan yang khas, aturan cuci tangan yang ketat, sampai kewajiban pakai APD. Nah, supaya kagetnya nggak kepanjangan, kami di Unit Personalia dan Diklat punya agenda wajib: Orientasi PPI (Pencegahan & Pengendalian Infeksi) untuk semua karyawan baru.

Pada Jumat, 3 Agustus 2019, kami kembali menggelar sesi orientasi ini, dan seperti biasa—saya bertugas sebagai koordinator kegiatan. Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat, tugas saya bukan cuma memastikan karyawan masuk kerja, tapi juga memastikan mereka paham cara bekerja dengan benar, aman, dan sesuai standar rumah sakit.

Kenapa Harus Ada Orientasi PPI?

Karena bekerja di rumah sakit itu beda. Kita bukan hanya berhadapan dengan pasien, tapi juga berhadapan dengan risiko infeksi. Jadi sebelum mereka mulai pegang berkas, alat, makanan pasien, atau bahkan sapu sekalipun, mereka harus paham dulu:

•   Apa itu infeksi dan bagaimana penularannya
   Kenapa cuci tangan itu bukan formalitas tapi senjata utama
   Kapan harus pakai APD, dan jangan sampai dipakai cuma buat gay
   Cara membuang limbah medis supaya nggak jadi masalah baru
   Apa yang harus dilakukan kalau kena pajanan (misal tertusuk jarum)

Intinya: mencegah lebih baik daripada kena infeksi lalu panik.

Jalannya Acara

Suasananya santai, tapi tetap serius. Direktur membuka kegiatan dengan pengantar bahwa orientasi ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi pondasi keselamatan kerja. Setelah itu materi disampaikan oleh tim PPI, lengkap dengan sesi tanya jawab—dan yang paling seru: praktik cuci tangan 6 langkah.

Harapan

Sebagai orang yang bertanggung jawab memastikan semua pegawai siap kerja, bukan sekadar hadir, saya berharap:

•    Mereka paham bahwa PPI bukan tanggung jawab komite saja, tapi semua orang
    Keselamatan pasien dimulai dari kebersihan tangan pegawainya
    Bekerja di rumah sakit berarti punya budaya kerja bersih, disiplin, dan peduli

Kalau semua orang patuh PPI, kita bukan cuma menyelamatkan pasien — kita juga menyelamatkan diri sendiri.





Jumat, 09 Maret 2018

Perayaan HUT Kab. Madina Tahun 2018

 


Pengenalan SNARS: Langkah Awal Menuju Mutu Pelayanan Rumah Sakit

 


Tanggal 9 Maret 2018 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan profesional saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari ini, saya mengikuti kegiatan pengenalan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit)—sebuah standar baru yang pada saat itu mulai diperkenalkan secara luas sebagai pedoman peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.

Awalnya, saya hanya membayangkan kegiatan ini sebagai pertemuan reguler mengenai standar kerja. Namun ternyata, pengenalan SNARS membuka cara pandang saya mengenai bagaimana rumah sakit semestinya dikelola secara sistematis, aman, dan fokus pada keselamatan pasien serta tata kelola organisasi yang lebih profesional.

Apa itu SNARS?

SNARS atau Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit adalah seperangkat standar yang disusun oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) untuk memastikan rumah sakit di Indonesia memberikan pelayanan terbaik, aman, dan bermutu tinggi.

Berbeda dari standar sebelumnya, SNARS menghadirkan beberapa penekanan baru:

Sebagai seseorang yang bekerja di Unit Personalia dan Diklat, saya langsung merasa bahwa SNARS bukan sekadar standar untuk unit medis, tetapi juga acuan penting bagi seluruh sistem pendukung rumah sakit—termasuk pengelolaan SDM, pelatihan, serta pengembangan kompetensi pegawai.

Refleksi dan Kesiapan Saya Menerapkan SNARS

Saat mengikuti pengenalan SNARS tersebut, saya menyadari bahwa peran saya di unit personalia dan diklat bukanlah sekadar peran administratif biasa. Justru, unit inilah yang menjadi fondasi bagi kesiapan rumah sakit dalam memenuhi berbagai tuntutan standar akreditasi.

Beberapa hal yang langsung saya siapkan setelah mengikuti kegiatan tersebut adalah:

1. Penataan Ulang Dokumen SDM

Saya mulai merapikan kembali dokumen kepegawaian, memastikan semua staf memiliki file kompetensi, SK, uraian tugas, hingga bukti pelatihan yang diperlukan SNARS.

2. Penyusunan Program Diklat yang Relevan

Saya mengintegrasikan materi-materi seperti keselamatan pasien, komunikasi efektif, PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), serta K3RS ke dalam agenda pelatihan tahunan.

3. Meningkatkan Kesadaran Mutu di Internal Staf

Setiap pegawai harus memahami bahwa mutu bukan hanya tugas komite mutu, tetapi budaya yang harus dibangun bersama.

4. Berkomitmen pada Prinsip "Do – Document – Prove"

Tiga hal ini menjadi pedoman saya: setiap proses harus dikerjakan, didokumentasikan, dan bisa dibuktikan saat audit.

Melangkah Bersama Menuju Rumah Sakit yang Lebih Baik

Pengenalan SNARS pada 9 Maret 2018 bukan sekadar kegiatan sosialisasi, tetapi titik awal transformasi cara kerja kami di RSU Permata Madina Panyabungan. Dari sana, saya semakin memahami bahwa akreditasi bukan sekadar memenuhi indikator, tetapi membentuk budaya kerja yang disiplin, tertib, dan mengutamakan keselamatan.

Saya percaya, komitmen pribadi untuk menerapkan SNARS—mulai dari pengelolaan SDM hingga diklat—adalah bagian kecil yang dapat saya kontribusikan untuk memastikan rumah sakit ini terus berkembang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terpercaya di Mandailing Natal.

Mutu adalah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Dan saya bersyukur telah melangkah di dalamnya sejak hari itu.

Minggu, 04 Februari 2018

Karyawan sebagai Sasaran Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan

Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa kekuatan utama rumah sakit bukan hanya pada fasilitas atau teknologi yang dimiliki, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Di tengah pesatnya perkembangan industri pelayanan kesehatan, tuntutan terhadap ketepatan, kecepatan, dan kepuasan pelanggan semakin tinggi. Karena itu, saya merasa penting untuk memastikan bahwa manajemen SDM di RSU Permata Madina selalu berjalan secara profesional, terarah, dan berkelanjutan.

Bagi saya, SDM adalah jantung dari organisasi. Mereka bukan sekadar bagian dari struktur rumah sakit, tetapi penggerak utama yang membawa visi dan misi RSU Permata Madina Panyabungan menjadi nyata. Oleh sebab itu, saya berkewajiban memastikan bahwa setiap tenaga yang bekerja di lingkungan rumah sakit memiliki kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan kompetensinya.

Salah satu langkah yang terus saya dorong adalah penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi seluruh karyawan. Program ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga bentuk komitmen kami dalam menciptakan SDM yang profesional, tangguh, dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan masa kini dan masa depan.

Melalui pengembangan SDM yang terarah, saya percaya RSU Permata Madina Panyabungan dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Dengan SDM yang unggul, visi besar rumah sakit bukan hanya sekadar cita-cita, tetapi sesuatu yang benar-benar dapat diwujudkan.




Minggu, 28 Januari 2018

Cara Pelaksanaan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan

Penyelenggaraan pelatihan diusahakan sebisa mungkin mengikuti dasar-dasar umum pelatihan agar dapat bermanfaat bagi peserta dan dapat mencapai tujuan secara optimal. Dale Yoder, dalam bukunya Personal Principles and Policies, menyebutkan sembilan dasar yang berlaku umum dalam kegiatan pelatihan yaitu (1) Individual differences, (2) relation to job analysis, (3) motivation, (4) active participation, (5) selection of trainees, (6) Selection of trainers, (7) trainer’s of training, (8) training method’s dan (9) principles of learning (1962:235).

1.            Persiapan peralatan dan perlengkapan diklat internal.

a.            Proposal diklat,
b.            Daftar hadir peserta,
c.             Materi dan narasumber diklat,
d.            Tempat atau ruangan diklat,
e.            Perlengkapan, Transportasi, Konsumsi, dll.

2.            Koordinasi untuk pelaksanaan diklat yang tidak bisa dilakukan dengan diklat internal RSU Permata Madina Panyabungan.

a.            Nama atau materi diklat,
b.            Jadwal pelaksanaan,
c.             Biaya diklat,
d.            Persyaratan dan jumlah peserta yang dikirim diklat.

3.            Koordinasi dengan unit/instalasi untuk peserta yang akan dikirim diklat (baik diklat internal maupun eksternal).

4.            Koordinasi dengan bagian keuangan untuk biaya diklat.





Minggu, 21 Januari 2018

Tahapan Program Pendidikan dan Pelatihan di RSU Permata Madina Panyabungan

Kegiatan pokok yang akan dilaksanakan oleh Unit Personalia dan Diklat sepanjang tahun adalah penyusunan dan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan bagi karyawan RSU Permata Madina Panyabungan. Tahapan penyusunan dan pelaksanaan program pelatihan ini dapat dipaparkan sebagai berikut.

a.            Identifikasi Kebutuhan Pelatihan (Training Need Analysis)

Tahapan identifikasi kebutuhan untuk perencanaan program pelatihan merupakan tahapan paling awal yang dianggap paling penting karena menjadi penentu isi dari pelatihan. Dalam proses ini, perencanaan program pendidikan dan pelatihan (diklat) karyawan RSU Permata Madina Panyabungan menuju rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan terbaik dilakukan dengan beberapa cara.

Penilaian kebutuhan (need assessment) pelatihan merupakan langkah yang paling penting dalam pengembangan program pelatihan. Langkah penilaian kebutuhan ini merupakan landasan yang sangat menentukan pada langkah-langkah berikutnya. Dalam penilaian kebutuhan dapat digunakan tiga tingkat analisis yaitu analisis pada tingkat organisasi, analisis pada tingkat program atau operasi dan analisis pada tingkat individu. Sedangkan teknik penilaian kebutuhan dapat digunakan analisis kinerja, analisis kemampuan, analisis tugas maupun survey kebutuhan (need survey).

Informasi analisis kebutuhan yang dilakukan di tingkat organisasi didasarkan pada pertimbangan di tingkat manajemen yang kemudian diinstruksikan kepada Kepala Unit Personalia dan Diklat untuk ditampung dalam rencana program yang disusun. Sementara untuk analisis kebutuhan pelatihan di tingkat jabatan atau posisi, semua kebutuhan diklat terpusat pada Kepala Bagian/Bidang/Unit. Kabag/Kabid/Kanit melakukan observasi sendiri terhadap tugas-tugas yang dilakukan oleh staf pelaksana. Kebutuhan tersebut seperti mengajukan kegiatan diklat tahunan sehingga tidak berbeda pada program diklat karyawan menuju rumah sakit dengan pelayanan terbaik. Analisis kebutuhan yang terakhir adalah analisis kebutuhan pelatihan individu. Untuk kebutuhan individu, ada yang berupa pengembangan karir. Ada pula yang memang dilihat berdasarkan kebutuhan individu untuk menunjang pekerjaannya.

b.            Penetapan Tujuan Pelatihan

Menurut Cut Zurnali (2004), the goal of training is for employees to master knowledge, skills, and behaviors emphasized in training programs and to apply them to their day-to-day activities. Hal ini berarti bahwa tujuan pelatihan adalah agar para pegawai dapat menguasai pengetahuan, keahlian dan perilaku yang ditekankan dalam program-program pelatihan dan untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari para karyawan. Pelatihan juga mempunyai pengaruh yang besar bagi pengembangan perusahaan.

Dalam tahap penetapan tujuan pendidikan dan pelatihan ini dilakukan oleh masing-masing unit maupun koordinator diklat, pada saat yang sama dengan  mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Penetapan tujuan pelatihan dapat dilakukan sekaligus karena ketika menemukan suatu kebutuhan maka tujuannya dapat langsung ditentukan dari kebutuhan tersebut.

Tujuan sangat penting karena berfungsi sebagai pemandu arah dari seluruh kegiatan diklat. Dalam hal ini ditetapkan tujuan diklat baik tujuan umum maupun tujuan khusus bagi setiap pelaksanaan diklat.

c.             Pemilihan dan Perancangan Program

Pemilihan dan perancangan program pendidikan dan pelatihan langsung dilaksanakan oleh Koordinator Diklat setelah menerima kebutuhan pelatihan melalui usul dari masing-masing unit. Setelah kebutuhan pelatihan sudah Koordinator Diklat rangkum dan kumpulkan, maka Koordinator Diklat akan memfasilitasi menyampaikan atau mengajukan usulan ke manajemen RS agar pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan segera dapat disetujui untuk dilaksanakan.

Mendesain atau merancang adalah faktor terpenting dalam membuat program diklat. Perencanaan diusahakan sebaik dan setepat mungkin agar menghasilkan program diklat yang optimal dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia rumah sakit.

Merancang program diklat memang seharusnya mengacu pada sebuah model untuk memberikan langkah-langkah sistematik dan spesifik untuk kegiatan pelatihannya. Sistematik berarti metode pengidentifikasian, pengembangan, dan evaluasi teratur, mengatur target strategi untuk mencapai tujuan proyek. Spesifik berarti setiap elemen dari rencana perancangan instruksional perlu dilaksanakan dengan memperhatikan rinciannya. Model-model pelatihan tersebut proses dan langkah-langkahnya disesuaikan dengan kompetensi yang ingin dicapai, masalah-masalah yang ingin dipecahkan, metode atau strategi yang ingin digunakan.

d.            Pengembangan Kriteria Evaluasi

Perancangan evaluasi dari program pelatihan dilakukan dengan melihat efek apa yang terjadi setelah dilaksanakan pelatihan-pelatihan yang telah diprogramkan ini. Salah satu bentuk konkrit evaluasi yang dilakukan pada program pelatihan ini adalah adanya transfer knowledge oleh peserta pelatihan kepada rekan sekerja.



Minggu, 14 Januari 2018

Pentingnya Rencana Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) di RSU Permata Madina Panyabungan

RSU Permata Madina Panyabungan merupakan salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Mandailing Natal dengan visi menjadi RS dengan fasilitas dan pelayanan terbaik di daerah Tapanuli Bagian Selatan yang memiliki keunggulan dalam memberikan pelayanan yang paripurna dengan didukung oleh teknologi kesehatan terkini, SDM profesional, informatif, ramah, dan bersahabat. Dengan adanya visi ini sebagai pencapaian yang ingin diraih rumah sakit, maka SDM RSU Permata Madina Panyabungan perlu memiliki keterampilan, pengetahuan, kemampuan dan karakteristik tertentu yang menunjang. Pelayanan kesehatan paripurna yang berusaha diwujudkan oleh RSU Permata Madina Panyabungan.

Berangkat dari hal tersebut maka disimpulkan ada banyak hal yang perlu dioptimalkan dalam hal pelayanan yang baik itu, dalam hal pelayanan medis maupun non-medis. Untuk itu guna meningkatkan kualitas pelayanan, manajemen RSU Permata Madina Panyabungan dipandang perlu mencari pemecahannya salah satunya dengan mengadakan pelatihan yang programnya disusun oleh Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan. Walaupun tidak semua permasalahan di rumah sakit dapat ditangani dengan mengadakan pelatihan sebagaimana menurut Wickens (2004), tetapi pelatihan dapat dianggap sebagai suatu langkah efektif dilihat dari sisi psikologis untuk terus belajar melakukan pekerjaan pada tingkatan yang ingin dicapai. Maka dari itu, Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan membuat rencana program pendidikan dan pelatihan (diklat) setiap tahun guna menjawab tantangan pelayanan prima sebagai rumah sakit berkelas yang ada di wilayah Tapanuli Bagian Selatan.


Minggu, 07 Januari 2018

Manajemen Pelatihan dan Pengembangan Karyawan di RSU Permata Madina Panyabungan

Rumah sakit merupakan salah satu organisasi pelayanan kesehatan yang merupakan lembaga non-profit dengan 3 ciri khasnya yaitu padat modal, padat karya dan padat teknologi. Saat ini rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan masyarakat terus berlomba untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien yang datang sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Rumah sakit sebagai organisasi yang padat karya yang melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar harus mampu memperlakukan tenaga kerja sebagai aset dari rumah sakit. Tenaga medis maupun non-medis di rumah sakit yang bekerja dengan kompetensinya masing-masing merupakan bentuk pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Pynes dan Lombardi (2011) mengemukakan bahwa seluruh sumber daya manusia yang ada di rumah sakit merupakan lini terdepan yang membangun hubungan dengan pasien serta berperan untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan untuk masyarakat.

Dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, tenaga kesehatan perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang keahliannya. Kompetensi adalah karakteristik dan kualitas yang dibutuhkan oleh seseorang agar dapat berhasil dalam melaksanakan suatu pekerjaan (Pynes, 2011). Setiap bidang keahlian di rumah sakit memiliki kompetensi masing-masing yang telah disesuaikan dengan deskripsi kerja yang harus dijalankan. Salah satu wujud pengembangan kompetensi dapat dilakukan melalui program pendidikan dan pelatihan SDM. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mendefinisikan pelatihan kerja sebagai keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangakan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, etos kerja pada tingkat keahlian dan keterampilan tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan.

Untuk mendukung kegiatan pengembangan kompetensi SDM, terutama pada organisasi pelayanan kesehatan, yang dalam hal ini adalah rumah sakit, diperlukan suatu sistem manajemen pelatihan dan pengembangan karyawan. Fungsi manajemen yang mengelola pelatihan dan pengembangan karyawan di RSU Permata Madina Panyabungan berada di lingkup tugas dari Unit Personalia dan Diklat  RSU Permata Madina Panyabungan.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Belajar Menjaga Aset Rumah Sakit dari Sebuah Ruangan

Ada satu pekerjaan di rumah sakit yang sering luput dari perhatian, tetapi diam-diam sangat menentukan kelancaran pelayanan: pemeriksaan barang inventaris ruangan. Kegiatan ini mungkin terdengar administratif, namun ketika dijalani langsung, saya menyadari betapa pentingnya peran inventaris dalam menjaga mutu layanan kesehatan.

Hari itu, saya bersama tim mulai berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain. Kami membawa daftar inventaris, mencocokkan data di atas kertas dengan kondisi nyata di lapangan. Satu per satu barang diperiksa: meja, kursi, lemari, peralatan pendukung, hingga perlengkapan kecil yang selama ini dianggap sepele. Ternyata, detail-detail kecil inilah yang sering menentukan kenyamanan kerja dan keselamatan pelayanan.

Dalam proses pemeriksaan, kami tidak hanya menghitung jumlah barang, tetapi juga menilai kondisinya. Mana yang masih berfungsi baik, mana yang mulai rusak ringan, dan mana yang sudah tidak layak digunakan. Di sinilah saya belajar bahwa inventaris bukan sekadar soal ada atau tidak ada, melainkan soal kelayakan dan fungsi.

Yang menarik, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dengan penanggung jawab ruangan. Banyak cerita muncul: barang yang sering digunakan hingga cepat aus, peralatan yang jarang tersentuh karena tidak lagi sesuai kebutuhan, atau fasilitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan tetapi belum tersedia. Pemeriksaan inventaris berubah menjadi momen evaluasi bersama.

Hasil pemeriksaan kemudian kami tuangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan. Dokumen ini menjadi saksi bahwa aset rumah sakit telah dicek secara objektif dan bertanggung jawab. Dari sinilah lahir rekomendasi: perawatan rutin, perbaikan, hingga penghapusan atau penggantian barang. Semua berbasis data, bukan asumsi.

Bagi saya pribadi, kegiatan ini memberi pelajaran penting tentang tata kelola rumah sakit. Pelayanan yang baik tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada sistem pendukung yang tertib dan terawat. Barang inventaris yang terkelola dengan baik berarti lingkungan kerja yang aman, efisien, dan nyaman.

Di akhir kegiatan, saya semakin yakin bahwa pemeriksaan inventaris bukan pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional. Menjaga aset rumah sakit sama artinya dengan menjaga kualitas pelayanan bagi pasien. Dan dari sebuah ruangan, kita bisa belajar bagaimana sebuah rumah sakit dikelola dengan penuh tanggung jawab.