Kumpulan aksara sebagai jejak perjalanan menembus ruang dan waktu dalam mengeksplorasi diri dan dunia.
Rabu, 23 Oktober 2024
Menguatkan Layanan dari Dalam: Pentingnya Koordinasi Antar Unit di Rumah Sakit
Rabu, 14 April 2021
Pelatihan Internal Emergency Neonatus di RSU Permata Madina Panyabungan: Meningkatkan Kompetensi untuk Keselamatan Pasien
Pada Selasa–Rabu, 13–14 April 2021, Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan internal sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Kegiatan kali ini mengusung tema “Emergency Neonatus”, sebuah pelatihan yang sangat penting mengingat kegawatdaruratan pada bayi baru lahir membutuhkan respon cepat, tepat, dan terstandar.
Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina Panyabungan. Suasana antusias terlihat sejak awal, dimana peserta yang terdiri dari perawat, bidan, serta tenaga kesehatan terkait hadir dengan semangat untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani kasus-kasus neonatal emergensi.
Pemateri Berkompeten: dr. Bambang Herianto, MM
Sebagai pemateri, RSU Permata Madina menghadirkan dr. Bambang Herianto, MM, seorang dokter dengan pengalaman luas dalam manajemen kegawatdaruratan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dalam dua hari pelatihan, beliau menyampaikan materi secara komprehensif, mulai dari:
Dipadukan dengan pendekatan interaktif, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melakukan simulasi langsung, sehingga memahami bagaimana tindakan cepat dan terkoordinasi dapat menyelamatkan nyawa bayi baru lahir.
Komitmen RSU Permata Madina untuk Pelayanan Lebih Baik
Kegiatan diklat seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen RSU Permata Madina Panyabungan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang pelayanan neonatal. Dengan meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi gawat darurat pada neonatus, rumah sakit berharap dapat memberikan pelayanan yang semakin aman, profesional, dan sesuai standar nasional.
Penutup
Diklat Internal Emergency Neonatus ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan tim medis RSU Permata Madina. Semangat peserta, kualitas pemateri, serta dukungan manajemen menjadi modal berharga dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang unggul, khususnya bagi pasien-pasien terkecil dan paling rentan: bayi baru lahir.
Senin, 07 Oktober 2019
Mengenal Pentingnya Pelatihan Early Warning System dan Code Blue di Rumah Sakit
- Melacak perubahan kondisi pasien sedini mungkin
- Memicu respons cepat dari tim medis sebelum keadaan menjadi kritis
- Memahami prinsip dan komponen EWS–Code Blue
- Mempelajari parameter fisiologi yang digunakan dalam penilaian
- Mengetahui cara pelaksanaan EWS dan alur aktivasi Code Blue
- Hari/Tanggal: Senin, 07 Oktober 2019
- Waktu: 14.00 – 18.00 WIB
- Tempat: Aula Saung RSU Permata Madina Panyabungan
- Pemateri: dr. Sofian Hasibuan, Sp.An.
Sabtu, 05 Oktober 2019
Pelatihan Bantuan Hidup Lanjutan untuk Staf Klinis RSU Permata Madina Panyabungan Tahun
Sebagai bagian dari implementasi program kerja Diklat RSU Permata Madina Panyabungan tahun 2019, Unit Personalia dan Diklat kembali melaksanakan kegiatan pelatihan internal yang bertujuan meningkatkan kompetensi staf klinis. Pada hari Sabtu, 05 Oktober 2019, sebuah Diklat Bantuan Hidup Lanjutan (BHL) atau Advanced Life Support digelar di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pelatihan ini menghadirkan pemateri berpengalaman, dr. Sofian Hasibuan, Sp.An, yang membagikan ilmu dan praktik terbaik dalam penanganan kegawatdaruratan.
Mengapa Bantuan Hidup Lanjutan Penting?
Bantuan Hidup Lanjutan merupakan tindakan lanjutan setelah Bantuan Hidup Dasar (BHD) diberikan. Jika BHD berfokus pada upaya mempertahankan jalan napas dan sirkulasi melalui metode seperti pernapasan bantuan dan kompresi dada, maka BHL melibatkan penggunaan obat-obatan serta teknik lanjutan untuk memperpanjang kehidupan pasien, terutama pada kasus henti jantung atau henti napas.
BHD sendiri dikenal luas sebagai bagian penting dari Resusitasi Jantung Paru (RJP)—sebuah keterampilan dasar yang dapat dilakukan siapa saja untuk membantu korban dalam keadaan darurat sebelum pertolongan medis profesional tiba.
Kebutuhan Kompetensi yang Bersifat Wajib
Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), penguasaan Bantuan Hidup Dasar merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki seluruh staf rumah sakit—baik yang terlibat langsung dalam asuhan pasien maupun yang bekerja di unit non-medis. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan tindakan penyelamatan awal sudah menjadi skill mendasar yang harus dimiliki setiap orang, bukan hanya tenaga medis.
Komitmen RSU Permata Madina terhadap Mutu Pelayanan
Melalui diklat seperti BHL ini, RSU Permata Madina Panyabungan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan setiap staf memiliki pengetahuan memadai dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Pelatihan ini bukan hanya memenuhi kewajiban akreditasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar rumah sakit untuk membentuk SDM yang kompeten, sigap, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Jumat, 04 Oktober 2019
Menguatkan Kompetensi Staf Non Klinis: Pengalaman Saya Menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar 2019
Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa mutu layanan rumah sakit bukan hanya ditentukan oleh tenaga klinis, tetapi juga oleh kesiapan seluruh unsur yang bekerja di dalamnya. Karena itu, setiap tahun saya berusaha memastikan bahwa program kerja diklat benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas SDM kami.
Salah satu kegiatan yang sangat berkesan bagi saya adalah penyelenggaraan Diklat Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi staf non klinis pada Jumat, 4 Oktober 2019. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program kerja diklat tahun 2019, dan menjadi momen penting untuk memperkuat kesiapsiagaan staf non medis dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.
Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. Saya masih ingat bagaimana antusiasme peserta begitu terasa sejak awal kegiatan. Walaupun mereka bukan tenaga klinis, namun semangat mereka untuk belajar dan memahami keterampilan dasar penyelamatan nyawa benar-benar luar biasa.
Untuk memberikan pelatihan yang komprehensif dan akurat, kami menghadirkan dr. Sofian Hasibuan, Sp.An sebagai pemateri. Beliau menyampaikan materi dengan sangat jelas, mulai dari prinsip dasar Bantuan Hidup Dasar, teknik kompresi dada yang benar, hingga praktik penanganan kondisi henti napas dan henti jantung pada korban.
Melihat para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, bahkan berlatih langsung dengan serius, membuat saya semakin yakin bahwa diklat seperti ini penting untuk terus ditingkatkan. Bagi saya, keselamatan pasien adalah tanggung jawab seluruh komponen rumah sakit, dan memberikan pemahaman tentang BHD kepada staf non klinis adalah salah satu langkah strategis untuk memastikan itu terwujud.
Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Saya pribadi merasa bersyukur dapat memimpin unit yang memiliki peran penting dalam membangun budaya kompetensi dan kesiapan darurat di rumah sakit.
Semoga pelatihan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh staf serta pasien RSU Permata Madina Panyabungan.
Minggu, 04 Agustus 2019
Orientasi PPI untuk Karyawan Baru: Karena Kerja di Rumah Sakit Bukan Sekadar Masuk, Absen, Pulang.
Setiap orang yang pertama kali bekerja di rumah sakit pasti punya momen “kaget”—mulai dari bau desinfektan yang khas, aturan cuci tangan yang ketat, sampai kewajiban pakai APD. Nah, supaya kagetnya nggak kepanjangan, kami di Unit Personalia dan Diklat punya agenda wajib: Orientasi PPI (Pencegahan & Pengendalian Infeksi) untuk semua karyawan baru.
Pada Jumat, 3 Agustus 2019, kami kembali menggelar sesi orientasi ini, dan seperti biasa—saya bertugas sebagai koordinator kegiatan. Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat, tugas saya bukan cuma memastikan karyawan masuk kerja, tapi juga memastikan mereka paham cara bekerja dengan benar, aman, dan sesuai standar rumah sakit.
Kenapa Harus Ada Orientasi PPI?Karena bekerja di rumah sakit itu beda. Kita bukan hanya
berhadapan dengan pasien, tapi juga berhadapan dengan risiko infeksi. Jadi
sebelum mereka mulai pegang berkas, alat, makanan pasien, atau bahkan sapu
sekalipun, mereka harus paham dulu:
• Apa itu
infeksi dan bagaimana penularannya
• Kenapa
cuci tangan itu bukan formalitas tapi senjata utama
• Kapan
harus pakai APD, dan jangan sampai dipakai cuma buat gay
• Cara
membuang limbah medis supaya nggak jadi masalah baru
• Apa yang
harus dilakukan kalau kena pajanan (misal tertusuk jarum)
Intinya: mencegah lebih baik daripada kena infeksi lalu panik.
Jalannya Acara
Suasananya santai, tapi tetap serius. Direktur membuka kegiatan dengan pengantar bahwa orientasi ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi pondasi keselamatan kerja. Setelah itu materi disampaikan oleh tim PPI, lengkap dengan sesi tanya jawab—dan yang paling seru: praktik cuci tangan 6 langkah.
Harapan
Sebagai orang yang bertanggung jawab memastikan semua
pegawai siap kerja, bukan sekadar hadir, saya berharap:
• Mereka
paham bahwa PPI bukan tanggung jawab komite saja, tapi semua orang
• Keselamatan
pasien dimulai dari kebersihan tangan pegawainya
• Bekerja
di rumah sakit berarti punya budaya kerja bersih, disiplin, dan peduli
Kalau semua orang patuh PPI, kita bukan
cuma menyelamatkan pasien — kita juga menyelamatkan diri sendiri.
Sabtu, 10 Maret 2018
Jumat, 09 Maret 2018
Pengenalan SNARS: Langkah Awal Menuju Mutu Pelayanan Rumah Sakit
Tanggal 9 Maret 2018 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan profesional saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari ini, saya mengikuti kegiatan pengenalan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit)—sebuah standar baru yang pada saat itu mulai diperkenalkan secara luas sebagai pedoman peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.
Awalnya, saya hanya membayangkan kegiatan ini sebagai pertemuan reguler mengenai standar kerja. Namun ternyata, pengenalan SNARS membuka cara pandang saya mengenai bagaimana rumah sakit semestinya dikelola secara sistematis, aman, dan fokus pada keselamatan pasien serta tata kelola organisasi yang lebih profesional.
Apa itu SNARS?
SNARS atau Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit adalah seperangkat standar yang disusun oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) untuk memastikan rumah sakit di Indonesia memberikan pelayanan terbaik, aman, dan bermutu tinggi.
Berbeda dari standar sebelumnya, SNARS menghadirkan beberapa penekanan baru:
-
Peningkatan mutu berkelanjutan (continuous improvement)
Sebagai seseorang yang bekerja di Unit Personalia dan Diklat, saya langsung merasa bahwa SNARS bukan sekadar standar untuk unit medis, tetapi juga acuan penting bagi seluruh sistem pendukung rumah sakit—termasuk pengelolaan SDM, pelatihan, serta pengembangan kompetensi pegawai.
Refleksi dan Kesiapan Saya Menerapkan SNARS
Saat mengikuti pengenalan SNARS tersebut, saya menyadari bahwa peran saya di unit personalia dan diklat bukanlah sekadar peran administratif biasa. Justru, unit inilah yang menjadi fondasi bagi kesiapan rumah sakit dalam memenuhi berbagai tuntutan standar akreditasi.
Beberapa hal yang langsung saya siapkan setelah mengikuti kegiatan tersebut adalah:
1. Penataan Ulang Dokumen SDM
Saya mulai merapikan kembali dokumen kepegawaian, memastikan semua staf memiliki file kompetensi, SK, uraian tugas, hingga bukti pelatihan yang diperlukan SNARS.
2. Penyusunan Program Diklat yang Relevan
Saya mengintegrasikan materi-materi seperti keselamatan pasien, komunikasi efektif, PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), serta K3RS ke dalam agenda pelatihan tahunan.
3. Meningkatkan Kesadaran Mutu di Internal Staf
Setiap pegawai harus memahami bahwa mutu bukan hanya tugas komite mutu, tetapi budaya yang harus dibangun bersama.
4. Berkomitmen pada Prinsip "Do – Document – Prove"
Tiga hal ini menjadi pedoman saya: setiap proses harus dikerjakan, didokumentasikan, dan bisa dibuktikan saat audit.
Melangkah Bersama Menuju Rumah Sakit yang Lebih Baik
Pengenalan SNARS pada 9 Maret 2018 bukan sekadar kegiatan sosialisasi, tetapi titik awal transformasi cara kerja kami di RSU Permata Madina Panyabungan. Dari sana, saya semakin memahami bahwa akreditasi bukan sekadar memenuhi indikator, tetapi membentuk budaya kerja yang disiplin, tertib, dan mengutamakan keselamatan.
Saya percaya, komitmen pribadi untuk menerapkan SNARS—mulai dari pengelolaan SDM hingga diklat—adalah bagian kecil yang dapat saya kontribusikan untuk memastikan rumah sakit ini terus berkembang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terpercaya di Mandailing Natal.
Mutu adalah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Dan saya bersyukur telah melangkah di dalamnya sejak hari itu.
Kamis, 08 Maret 2018
Senin, 26 Februari 2018
Minggu, 04 Februari 2018
Karyawan sebagai Sasaran Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan
Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa kekuatan utama rumah sakit bukan hanya pada fasilitas atau teknologi yang dimiliki, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Di tengah pesatnya perkembangan industri pelayanan kesehatan, tuntutan terhadap ketepatan, kecepatan, dan kepuasan pelanggan semakin tinggi. Karena itu, saya merasa penting untuk memastikan bahwa manajemen SDM di RSU Permata Madina selalu berjalan secara profesional, terarah, dan berkelanjutan.
Bagi saya, SDM adalah jantung dari organisasi. Mereka bukan sekadar bagian dari struktur rumah sakit, tetapi penggerak utama yang membawa visi dan misi RSU Permata Madina Panyabungan menjadi nyata. Oleh sebab itu, saya berkewajiban memastikan bahwa setiap tenaga yang bekerja di lingkungan rumah sakit memiliki kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan kompetensinya.
Salah satu langkah yang terus saya dorong adalah penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi seluruh karyawan. Program ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga bentuk komitmen kami dalam menciptakan SDM yang profesional, tangguh, dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan masa kini dan masa depan.
Melalui pengembangan SDM yang terarah, saya percaya RSU Permata Madina Panyabungan dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Dengan SDM yang unggul, visi besar rumah sakit bukan hanya sekadar cita-cita, tetapi sesuatu yang benar-benar dapat diwujudkan.
Minggu, 28 Januari 2018
Cara Pelaksanaan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 21 Januari 2018
Tahapan Program Pendidikan dan Pelatihan di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 14 Januari 2018
Pentingnya Rencana Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 07 Januari 2018
Manajemen Pelatihan dan Pengembangan Karyawan di RSU Permata Madina Panyabungan
Sabtu, 05 Agustus 2017
Belajar Menjaga Aset Rumah Sakit dari Sebuah Ruangan
Ada satu pekerjaan di rumah sakit yang sering luput dari perhatian, tetapi diam-diam sangat menentukan kelancaran pelayanan: pemeriksaan barang inventaris ruangan. Kegiatan ini mungkin terdengar administratif, namun ketika dijalani langsung, saya menyadari betapa pentingnya peran inventaris dalam menjaga mutu layanan kesehatan.
Hari itu, saya bersama tim mulai berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain. Kami membawa daftar inventaris, mencocokkan data di atas kertas dengan kondisi nyata di lapangan. Satu per satu barang diperiksa: meja, kursi, lemari, peralatan pendukung, hingga perlengkapan kecil yang selama ini dianggap sepele. Ternyata, detail-detail kecil inilah yang sering menentukan kenyamanan kerja dan keselamatan pelayanan.
Dalam proses pemeriksaan, kami tidak hanya menghitung jumlah barang, tetapi juga menilai kondisinya. Mana yang masih berfungsi baik, mana yang mulai rusak ringan, dan mana yang sudah tidak layak digunakan. Di sinilah saya belajar bahwa inventaris bukan sekadar soal ada atau tidak ada, melainkan soal kelayakan dan fungsi.
Yang menarik, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dengan penanggung jawab ruangan. Banyak cerita muncul: barang yang sering digunakan hingga cepat aus, peralatan yang jarang tersentuh karena tidak lagi sesuai kebutuhan, atau fasilitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan tetapi belum tersedia. Pemeriksaan inventaris berubah menjadi momen evaluasi bersama.
Hasil pemeriksaan kemudian kami tuangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan. Dokumen ini menjadi saksi bahwa aset rumah sakit telah dicek secara objektif dan bertanggung jawab. Dari sinilah lahir rekomendasi: perawatan rutin, perbaikan, hingga penghapusan atau penggantian barang. Semua berbasis data, bukan asumsi.
Bagi saya pribadi, kegiatan ini memberi pelajaran penting tentang tata kelola rumah sakit. Pelayanan yang baik tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada sistem pendukung yang tertib dan terawat. Barang inventaris yang terkelola dengan baik berarti lingkungan kerja yang aman, efisien, dan nyaman.
Di akhir kegiatan, saya semakin yakin bahwa pemeriksaan inventaris bukan pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional. Menjaga aset rumah sakit sama artinya dengan menjaga kualitas pelayanan bagi pasien. Dan dari sebuah ruangan, kita bisa belajar bagaimana sebuah rumah sakit dikelola dengan penuh tanggung jawab.
-
Kesabaran dalam melaksanakan pekerjaan sering kali terdengar seperti nasihat klise, namun justru di sanalah letak kekuatannya. Di tengah dun...
-
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, da...
-
Ada dua istilah, yakni Logical Framework (LF atau Logframe) dan Logical Framework Approach (LFA) yang terkadang membingungkan. LogFr...








































