Waktu (sejarah) tercipta lewat murka Allah yang mengusir manusia dari keabadian (Firdaus). Sejak itu, sejarah juga berisi revolusi-revolusi besar dan kecil dan akan berakhir dengan murka Allah yang meluap pada hari kiamat. Murka adalah motor sejarah yang sesungguhnya. Murka yang oleh agama-agama monoteistis dilambungkan sampai ke langit-langit teologis ini hanya dapat dipadamkan lewat cinta kasih dan pengampunan yang mencapai akar-akar spiritualitas manusia.
Kumpulan aksara sebagai jejak perjalanan menembus ruang dan waktu dalam mengeksplorasi diri dan dunia.
Sabtu, 02 Juni 2012
Minggu, 05 Februari 2012
Fungsionaris Pemerintahan Tradisional Mandailing
Rabu, 01 September 2010
Menghayati Jejak Sejarah: Momen-Momen Indonesia yang Selalu Menggetarkan Hati
Ketika berbicara tentang Indonesia, saya selalu merasa ada getaran khusus yang muncul dari dalam diri. Seolah-olah setiap peristiwa besar yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini menyisakan jejak emosional yang tidak pernah benar-benar hilang. Kadang, saya membayangkan apa rasanya berada di tengah peristiwa-peristiwa itu—momen yang bukan hanya mengubah arah bangsa, tetapi juga membentuk identitas kita hari ini.
Melihat kembali semua momen ini, saya merasa semakin bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Setiap peristiwa menyimpan pelajaran: tentang perjuangan, persatuan, harapan, dan juga tentang keberanian untuk berubah. Sejarah bukan untuk disimpan di museum, tapi untuk terus dihidupkan dalam tindakan kita sehari-hari.
Selasa, 21 Juli 2009
Tanggal-Tanggal Penting di Sekitar Agresi Militer I Belanda
Agresi Militer Belanda I (Operatie Product) merupakan upaya Belanda untuk merebut wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan. Berikut adalah tanggal-tanggal penting terkait peristiwa ini:
21 Juli 1947
Agresi Militer Belanda I dimulai. Pasukan Belanda melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Republik Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra, dengan tujuan menguasai daerah-daerah yang kaya sumber daya.
24 Juli 1947
Dewan Keamanan PBB mulai membahas situasi di Indonesia
akibat agresi Belanda, setelah adanya pengaduan dari pihak Republik Indonesia.
4 Agustus 1947
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk mendesak
gencatan senjata antara Belanda dan Republik Indonesia.
5 Agustus 1947
Gencatan senjata mulai dibicarakan. Namun, pelanggaran tetap
terjadi di lapangan karena konflik kepentingan kedua belah pihak.
15 Agustus 1947
Belanda akhirnya menyatakan kesediaan untuk menghentikan
operasi militer, tetapi situasi tetap memanas hingga tercapainya perundingan
Renville.
17 Agustus 1947
Republik Indonesia memperingati dua tahun kemerdekaan dalam
suasana genting akibat agresi militer yang sedang berlangsung.
Renville Agreement (17 Januari 1948)
Meskipun perjanjian ini terjadi setelah agresi militer
berakhir, perjanjian ini merupakan upaya untuk meredakan konflik setelah agresi
tersebut.
Agresi Militer Belanda I berdampak besar terhadap situasi
politik dan militer di Indonesia, sekaligus menarik perhatian dunia internasional
terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sabtu, 02 Mei 2009
Sejarah Serikat Buruh
Asal-usul serikat pekerja dapat ditelusuri kembali ke Inggris abad ke-18, di mana perkembangan pesat masyarakat industri yang terjadi kemudian menarik perempuan, anak-anak, pekerja pedesaan dan imigran ke dalam angkatan kerja dalam jumlah besar dan dalam peran baru. Mereka menghadapi permusuhan besar pada awal keberadaan mereka dari para majikan dan kelompok pemerintah; pada saat itu, serikat pekerja dan anggota serikat pekerja secara teratur dituntut berdasarkan berbagai undang-undang perdagangan dan konspirasi.
Kumpulan tenaga kerja tidak
terampil dan semi-terampil ini secara spontan diatur sesuai dan dimulai
sepanjang permulaannya, dan kemudian menjadi arena penting untuk pengembangan
serikat pekerja. Serikat buruh kadang-kadang dilihat sebagai penerus serikat
dari Eropa abad pertengahan, meskipun hubungan antara keduanya diperdebatkan,
sebagai majikan dari serikat pekerja mempekerjakan (magang dan pekerja harian)
yang tidak diizinkan untuk berorganisasi.
Serikat pekerja dan perundingan bersama dilarang paling lambat pertengahan abad ke-14, ketika Ordonansi Buruh diberlakukan di Kerajaan Inggris , tetapi cara berpikir mereka bertahan selama berabad-abad, menginspirasi evolusi dan kemajuan dalam pemikiran yang akhirnya memberi pekerja hak-hak mereka yang diperlukan. Ketika perundingan bersama dan serikat pekerja awal tumbuh dengan dimulainya Revolusi Industri , pemerintah mulai menekan apa yang dilihatnya sebagai bahaya kerusuhan rakyat pada saat Perang Napoleon.
Pada 1799, Undang-Undang
Kombinasi disahkan, yang melarang serikat pekerja dan perundingan bersama oleh
pekerja Inggris. Meskipun serikat pekerja sering mengalami penindasan hebat
hingga tahun 1824, mereka sudah tersebar luas di kota-kota seperti London .
Militansi tempat kerja juga memanifestasikan dirinya sebagai Luddisme dan telah
menonjol dalam perjuangan seperti Kebangkitan 1820 di Skotlandia, di mana
60.000 pekerja melakukan pemogokan umum , yang segera dihancurkan. Simpati atas
penderitaan para pekerja membawa pencabutan tindakan pada tahun 1824, meskipun
Undang-Undang Kombinasi 1825 sangat membatasi aktivitas mereka.
Pada tahun 1810-an, organisasi
buruh pertama yang mengumpulkan pekerja dari berbagai jenis pekerjaan dibentuk.
General Union of Trades, juga dikenal sebagai Philanthropic Society, didirikan
pada tahun 1818 di Manchester. Nama terakhir adalah untuk menyembunyikan tujuan
sebenarnya dari organisasi di saat serikat pekerja masih ilegal.
Senin, 22 September 2008
Asal Nama Indonesia
Minggu, 17 Agustus 2008
Tanggal-Tanggal Penting Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Rabu, 16 Juli 2008
Kolonialisasi Portugis di Indonesia
Minggu, 13 Juli 2008
Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.
Selasa, 01 Juli 2008
Ringkasan Sejarah Perkembangan dan Pengaruh Islam di Indonesia
Rabu, 18 Juni 2008
Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Minggu, 08 Juni 2008
Sejarah Kerajaan Hindu-Buddha
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, dari mana asal identitas bangsa ini, dan bagaimana peradaban yang pernah berdiri mempengaruhi cara kita hidup hari ini. Dari berbagai babak sejarah Nusantara, periode kerajaan Hindu–Buddha selalu menjadi salah satu yang paling memikat bagi saya. Bukan hanya karena kejayaannya, tetapi karena warisan intelektual, budaya, dan nilai-nilai yang masih terasa hingga kini.
Awal Peradaban Hindu–Buddha di Nusantara
Masuknya pengaruh Hindu–Buddha ke kepulauan Indonesia bukanlah proses paksaan, melainkan interaksi panjang antara pedagang India dan masyarakat lokal sejak abad pertama Masehi. Dari pertukaran dagang, muncul pertukaran gagasan—tentang religi, filsafat, sastra, hingga tata kelola pemerintahan. Di sinilah Nusantara mulai mengenal konsep kerajaan, hierarki sosial, dan administrasi politik yang lebih terstruktur.
Kerajaan pertama yang mendapat catatan sejarah adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur, dengan prasasti Yupa yang memuat nama Raja Mulawarman. Dari sini, kita melihat bahwa bangsa kita sejak awal sudah mampu menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitasnya.
Masa Kejayaan: Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit
Tidak bisa dipungkiri bahwa puncak kejayaan Hindu–Buddha tercermin pada dua kerajaan besar: Sriwijaya dan Majapahit.
-
Sriwijaya, dengan pusatnya di Sumatera, menjadi kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional. Namun di balik kejayaan ekonominya, Sriwijaya juga berkembang menjadi pusat pembelajaran Buddha berkelas dunia. Catatan I-Tsing menunjukkan bahwa banyak pelajar dari Asia datang ke Nusantara untuk belajar agama, bahasa, dan filsafat.
-
Majapahit, di sisi lain, melambangkan era konsolidasi politik dan budaya. Dibawah Gajah Mada, Indonesia mencapai penyatuan wilayah terluas dalam sejarahnya. Bukan hanya itu, Majapahit melahirkan karya-karya monumental seperti Nagarakretagama dan Sutasoma, karya yang kelak memberi kita semboyan Bhinneka Tunggal Ika—sebuah prinsip persatuan yang masih relevan hingga hari ini.
Pengaruh Hindu–Buddha dalam Kehidupan Indonesia Modern
Ketika menelusuri jejak sejarah itu, saya semakin yakin bahwa pengaruh Hindu–Buddha tidak berhenti pada masa lalu. Ia meresap hingga ke kehidupan kita hari ini—baik disadari maupun tidak.
-
Sistem pemerintahan dan konsepsi raja/negara dalam tradisi Nusantara banyak dipengaruhi oleh pola kerajaan Hindu-Buddha.
-
Bahasa Sanskerta menyumbang banyak istilah penting seperti desa, manusia, bahagia, agama, pustaka, raja, hingga nama bulan dalam kalender nasional.
-
Arsitektur dan seni masih terlihat dalam bentuk candi, motif batik, tarian, dan simbol-simbol kerajaan.
-
Bahkan nilai-nilai seperti toleransi, harmoni, dan persatuan dalam keberagaman merupakan warisan intelektual yang lahir dari interaksi budaya panjang di masa tersebut.
Sebagai seseorang yang menggemari sejarah, saya merasa bahwa memahami periode Hindu–Buddha tidak hanya membantu kita mengenali jati diri bangsa, tetapi juga mengajarkan bagaimana leluhur kita mampu merangkul perubahan tanpa kehilangan karakter lokal. Mereka menerima pengaruh luar, mengolahnya, dan menjadikannya bagian dari kebudayaan Nusantara—sebuah sikap bijak yang tetap relevan di tengah derasnya modernisasi zaman ini.
Mengapa Sejarah Ini Penting Bagi Saya?
Menengok kembali sejarah Hindu–Buddha membuat saya selalu teringat bahwa Indonesia adalah hasil dari proses panjang perjumpaan budaya. Periode ini menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang pasif, melainkan bangsa kreatif yang mampu berdialog, mengolah gagasan, dan membentuk peradaban sendiri.
Ketika melihat candi, membaca prasasti, atau mempelajari sistem kerajaan kuno, saya merasakan semacam “hubungan batin” dengan masa lalu—seakan kembali kepada akar yang memberi kekuatan bagi karakter bangsa kita hari ini.
Sejarah Hindu–Buddha bukan sekadar cerita kejayaan, melainkan fondasi yang membentuk cara berpikir, berbudaya, dan hidup sebagai bangsa Indonesia. Dan bagi saya pribadi, memahami sejarah ini seperti menyusun kepingan jati diri, satu per satu.
Kamis, 08 Mei 2008
Sejarah (Awal) Indonesia
Sabtu, 05 April 2008
Prasejarah Indonesia
Rabu, 05 Maret 2008
Sejarah: Konsep Dasar
Senin, 04 Februari 2008
Menjelajah Jejak Hukum Dunia: Dari Ma’at Mesir Kuno hingga Reformasi Modern
Sering kali saya berpikir, dari mana sebenarnya semua aturan yang mengatur hidup kita bermula? Mengapa sebuah masyarakat bisa berjalan tertib, sementara yang lain kacau? Rasa penasaran itulah yang membawa saya menelusuri sejarah hukum—sebuah perjalanan panjang yang ternyata jauh lebih menarik dari yang saya bayangkan.
Ketika saya membaca kembali jejak-jejak hukum tua, saya merasa seperti membuka album sejarah umat manusia. Mari saya ajak Anda melihatnya sebentar saja.
Perjalanan ini dimulai dari Mesir Kuno, sekitar 3000 SM. Di sana, para leluhur jauh kita sudah mengenal konsep keadilan bernama Ma’at—gagasan tentang keseimbangan dan kebenaran yang menjadi dasar hukum mereka. Rasanya luar biasa membayangkan bahwa ribuan tahun lalu, manusia sudah memikirkan keadilan dengan cara yang begitu dalam.
Tidak lama kemudian, saya menemukan bahwa di tanah Sumeria, penguasa bernama Ur-Nammu mulai menuliskan hukum dalam bentuk “jika… maka…”. Saya membayangkan bagaimana masyarakat pada masa itu untuk pertama kalinya melihat aturan ditulis jelas untuk semua orang. Itu pasti menjadi perubahan besar.
Lalu ada Hammurabi, sosok yang barangkali paling terkenal dalam percakapan tentang hukum kuno. Ia menuliskan aturan di batu dan menyebarkannya ke seluruh Babilonia. Saya membayangkan rakyat yang berjalan melewati stela besar itu, membaca hukum tentang hidup mereka—sebuah langkah awal menuju keterbukaan dan kepastian hukum.
Ketika saya menengok ke Yunani dan Romawi, saya merasa seperti menyaksikan kelahiran dua tiang utama hukum modern. Yunani memperkenalkan gagasan demokrasi dan pembedaan antara hukum ilahi, kebiasaan, dan aturan negara. Sementara Romawi—dengan para ahli hukumnya—membangun fondasi yang kelak menjadi dasar banyak sistem hukum di dunia. Tidak heran jika hingga hari ini, kata-kata Latin masih menghiasi ruang-ruang akademik hukum.
Perjalanan sejarah lalu membawa saya ke Eropa Abad Pertengahan. Di sana, hukum tidak hanya berkembang di pengadilan, tetapi juga di pasar. Law Merchant lahir sebagai cara para pedagang membangun aturan bersama di tengah perbedaan lokal yang rumit. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa hukum sering lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan hanya dari kekuasaan.
Di India, Arthashastra dan Manusmriti memberikan nuansa budaya yang berbeda. Sementara di Asia Timur, Jepang dan Cina melewati perubahan besar ketika mereka mulai membuka diri terhadap modernisasi hukum ala Barat. Saya selalu terkesan melihat bagaimana budaya lokal dan pengaruh asing bisa berpadu membentuk sistem yang benar-benar baru.
Dan ketika memasuki abad ke-20, terutama di Cina, saya melihat bagaimana hukum dapat berubah drastis karena ideologi dan arah politik. Pergeseran dari hukum sosialis yang sangat administratif menuju sistem yang lebih ramah terhadap ekonomi pasar menunjukkan bahwa hukum adalah sesuatu yang selalu berproses—“makhluk hidup” yang bergerak mengikuti kebutuhan zaman.
Melihat perjalanan panjang ini, saya merasakan satu hal: Hukum bukan sekadar pasal-pasal kaku. Ia adalah jejak perjuangan manusia untuk mencari keadilan, keteraturan, dan martabat.
Mengapa saya mengajak Anda melihat sejarah hukum ini?
Karena dengan memahami dari mana hukum berasal, kita bisa melihatnya dengan lebih arif. Kita bisa mengerti mengapa sebuah aturan lahir, bagaimana ia bekerja, dan apa nilai-nilai yang dikandungnya. Dan barangkali—kita juga bisa lebih bijak dalam menyikapi hukum yang berlaku hari ini.
Ini bukan sekadar cerita tentang bangsa-bangsa kuno. Ini adalah cerita tentang kita—tentang manusia yang terus belajar, berubah, dan berusaha menciptakan dunia yang lebih adil.
Sabtu, 02 Februari 2008
Apa Itu Sejarah?
Ada satu momen yang selalu saya ingat setiap kali mendengar kata sejarah: aroma buku catatan kuliah yang sudah mulai menguning, penuh coretan pensil dan garis stabilo yang saya buat bertahun-tahun lalu. Di salah satu halaman, ada kata Yunani yang dulu terasa begitu asing bagi saya: ἱστορία — historia. Dosen saya menjelaskan bahwa kata itu berarti penyelidikan, pengetahuan yang kita peroleh dengan mencari dan menggali. Saat itu saya baru benar-benar memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah proses memahami hidup manusia melalui bukti dan penyelidikan.
Sejarah, seperti yang saya catat kala itu, adalah studi tentang masa lalu yang terekam dalam bentuk dokumen tertulis. Apa pun yang terjadi sebelum adanya catatan disebut prasejarah—masa ketika manusia hidup, berjuang, dan berkembang tanpa meninggalkan tulisan, hanya jejak-jejak artefak.
Yang menarik, sejarah ternyata bukan cuma kumpulan tanggal atau nama tokoh. Dalam catatan saya tertulis bahwa sejarah mencakup ingatan, penemuan, pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, hingga interpretasi. Semua itu disusun oleh seseorang yang kita sebut sejarawan. Dengan kata lain, sejarah adalah jembatan yang dibangun manusia untuk memahami perjalanan hidupnya sendiri.
Dulu, saya juga sempat kagum ketika mempelajari bagaimana sejarawan menggunakan narasi untuk memetakan urutan kejadian, lalu mencari pola sebab-akibat di baliknya. Tidak heran jika banyak di antara mereka berdebat tentang bagaimana sejarah seharusnya ditulis, apa tujuannya, dan bagaimana sejarah dapat memberi kita sudut pandang baru terhadap persoalan masa kini.
Di perkuliahan, saya juga pertama kali mendengar bahwa tidak semua cerita masa lalu dianggap sejarah. Kisah-kisah seperti legenda King Arthur, karena tidak didukung sumber eksternal, lebih tepat disebut warisan budaya—bukan sejarah dalam arti akademis.
Nama yang paling sering muncul di catatan saya adalah Herodotus, yang dijuluki “Bapak Sejarah”. Bersama Thucydides, mereka menjadi fondasi cara kita mempelajari sejarah hingga sekarang. Herodotus dengan pendekatan budaya, Thucydides dengan pendekatan militer dan politik. Perbedaan pendekatan mereka, ternyata, masih menjadi perdebatan panjang hingga hari ini.
Di Asia pun tidak kalah menarik. Kita mengenal Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, salah satu kronik tertua yang disusun sejak 722 SM, meskipun naskah yang bertahan berasal dari abad ke-2 SM. Setiap kali mengingat hal ini, saya selalu merasa takjub—betapa seriusnya manusia sejak dahulu menjaga rekaman perjalanan hidupnya.
Hingga kini, pemahaman tentang sifat sejarah terus berkembang. Kajian sejarah modern semakin luas, mencakup studi wilayah tertentu hingga pendekatan teoritis yang lebih rumit. Dari ruang kelas sekolah dasar hingga bangku perguruan tinggi, sejarah selalu menjadi bagian penting dalam pendidikan kita.
Dan setiap kali saya membuka kembali catatan itu, saya selalu merasa bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara kita memahami diri sendiri—dan cara kita belajar melihat hari ini dengan lebih jernih.
-
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, da...
-
Kesabaran dalam melaksanakan pekerjaan sering kali terdengar seperti nasihat klise, namun justru di sanalah letak kekuatannya. Di tengah dun...
-
Ada dua istilah, yakni Logical Framework (LF atau Logframe) dan Logical Framework Approach (LFA) yang terkadang membingungkan. LogFr...










