Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

Murka adalah Motor Sejarah

Waktu (sejarah) tercipta lewat murka Allah yang mengusir manusia dari keabadian (Firdaus). Sejak itu, sejarah juga berisi revolusi-revolusi besar dan kecil dan akan berakhir dengan murka Allah yang meluap pada hari kiamat. Murka adalah motor sejarah yang sesungguhnya. Murka yang oleh agama-agama monoteistis dilambungkan sampai ke langit-langit teologis ini hanya dapat dipadamkan lewat cinta kasih dan pengampunan yang mencapai akar-akar spiritualitas manusia.

(Sloterdijk, Zorn und Zeit, 2006)

Minggu, 05 Februari 2012

Fungsionaris Pemerintahan Tradisional Mandailing


Pada masa dahulu di Mandailing terdapat suatu bentuk pemerintahan tradisional yang memiliki banyak fungsionaris. Masing-masing fungsionaris itu menjalankan tugasnya untuk memelihara dan membina masyarakat yang rukun, aman, tenteram, arif, bijaksana, dan sejahtera lahir dan batin.

Adapun fungsionaris-fungsionaris pemerintahan tradisional tersebut adalah sebagai berikut.

1. Raja Panusunan Bulung (kepala adat, kepala pemerintahan),
2. Imbang Raja (wakil Raja Panusunan Bulung),
3. Jombeng Raja (sepadan Mangkubumi kalau di Jawa),
4. Pangkalbiri (sekretaris),
5. Mutia Raja (bendahara),
6. Suhut Raja (juru bicara),
7. Martua Raja (panglima perang),
8. Orang Kaya Bayo-Bayo (penanggung jawab urusan generasi muda),
9. Malim Maulana (datu pangubati, tabib),
10. Manjuang Kato (wartawan),
11. Tungkot Raja (ajudan raja),
12. Goruk-Goruk Hapinis (penjaga dan pemelihara ketertiban),
13. Imbang Lelo (penasihat),
14. Barita Raja (penyiasat, intelijen),
15. Tongku Imom (penanggung jawab urusan keagamaan),
16. Panto Raja (ahli sejarah, sastera, parturi),
17. Sialang Raja (jaksa),
18. Khotib Maraja (juru penerang),
19. Manyusun Dagang (pengawas, pembina penduduk pendatang)
20. Gading Raja (penanggung jawab urusan luar kampung)
21. Gading Na Poso (wakil gading raja),
22. Paima Raja (ketua delegasi, juru runding),
23. Mangkampi Raja (hakim ketua),
24. Kahanggi Ni Raja (pengawas kelompok masyarakat),
25. Satia Raja (golongan hulubalang).

Sumber: Greget Tuanku Rao, Basyral Hamidy Harahap (2007).

Rabu, 01 September 2010

Menghayati Jejak Sejarah: Momen-Momen Indonesia yang Selalu Menggetarkan Hati

Ketika berbicara tentang Indonesia, saya selalu merasa ada getaran khusus yang muncul dari dalam diri. Seolah-olah setiap peristiwa besar yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa ini menyisakan jejak emosional yang tidak pernah benar-benar hilang. Kadang, saya membayangkan apa rasanya berada di tengah peristiwa-peristiwa itu—momen yang bukan hanya mengubah arah bangsa, tetapi juga membentuk identitas kita hari ini.

Setiap kali mendengar rekaman suara Bung Karno membacakan teks proklamasi, saya selalu merinding. Di balik dua kalimat pendek itu, ada ratusan tahun penderitaan, perlawanan, dan doa jutaan rakyat.

2. Lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara
Saya sering berpikir: bagaimana jadinya Indonesia jika tidak punya Pancasila? Dari sidang-sidang BPUPKI hingga 18 Agustus 1945, para pendiri bangsa memikirkan masa depan dengan sangat visioner. Dan sampai hari ini, saya merasa Pancasila bukan hanya ideologi, tapi kompas moral dalam kehidupan sosial kita.

3. Peran BPUPKI & PPKI dalam Mendirikan Negara
Melihat dokumen-dokumen sejarah masa itu, saya kagum dengan kesigapan para tokoh dalam merumuskan konstitusi, membentuk negara, dan menyiapkan pemerintahan—semua dalam waktu yang sangat singkat. Betapa luar biasanya energi persatuan saat itu.

Peristiwa ini selalu membuat saya sadar bahwa kemerdekaan tidak pernah gratis. Aksi heroik tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih berdiri dan berjuang. Setiap kali membaca kisahnya, saya merasa ikut tertular semangat juang para prajurit muda itu.

5. Kembalinya Irian Barat ke Indonesia (1963)
Saya membayangkan rasa haru para pejuang dan diplomat saat Irian Barat akhirnya kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Peristiwa ini adalah bukti bahwa diplomasi dan keberanian bisa berjalan beriringan.

6. Peristiwa G30S dan Pergolakan Politik 1965–1966
Bagian sejarah yang gelap ini selalu membuat saya merenung. Betapa rumitnya masa itu—ketegangan politik, konflik ideologi, dan perubahan besar arah negara. Ini momen yang mengajarkan saya bahwa sejarah tidak selalu indah, tapi selalu penting untuk dipahami.

Terlepas dari kontroversinya, saya melihat Supersemar sebagai titik balik yang mengubah struktur kekuasaan. Dari sini, Indonesia memasuki era Orde Baru yang kelak mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dalam jangka panjang.

Ini salah satu momen yang paling sering saya ingat, karena banyak dampaknya masih terasa sampai sekarang. Reformasi adalah suara rakyat yang meminta perubahan. Ketika saya membaca kembali catatan sejarahnya, saya merasa ada semangat kebangkitan yang luar biasa.

Saya membayangkan euforia rakyat waktu itu. Setelah puluhan tahun, akhirnya masyarakat bisa memilih secara bebas. Ini adalah nafas pertama demokrasi modern Indonesia, yang kini menjadi bagian penting kehidupan politik kita.

Bagi saya, ini adalah simbol kedewasaan bangsa. Untuk pertama kalinya rakyat memilih langsung pemimpin tertinggi negara. Sebuah momen penting yang membuat demokrasi kita semakin kokoh dan terasa lebih dekat dengan rakyat.

Melihat kembali semua momen ini, saya merasa semakin bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Setiap peristiwa menyimpan pelajaran: tentang perjuangan, persatuan, harapan, dan juga tentang keberanian untuk berubah. Sejarah bukan untuk disimpan di museum, tapi untuk terus dihidupkan dalam tindakan kita sehari-hari.

Selasa, 21 Juli 2009

Tanggal-Tanggal Penting di Sekitar Agresi Militer I Belanda

Agresi Militer Belanda I (Operatie Product) merupakan upaya Belanda untuk merebut wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan. Berikut adalah tanggal-tanggal penting terkait peristiwa ini:

21 Juli 1947

Agresi Militer Belanda I dimulai. Pasukan Belanda melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Republik Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra, dengan tujuan menguasai daerah-daerah yang kaya sumber daya.

24 Juli 1947

Dewan Keamanan PBB mulai membahas situasi di Indonesia akibat agresi Belanda, setelah adanya pengaduan dari pihak Republik Indonesia.

4 Agustus 1947

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk mendesak gencatan senjata antara Belanda dan Republik Indonesia.

5 Agustus 1947

Gencatan senjata mulai dibicarakan. Namun, pelanggaran tetap terjadi di lapangan karena konflik kepentingan kedua belah pihak.

15 Agustus 1947 

Belanda akhirnya menyatakan kesediaan untuk menghentikan operasi militer, tetapi situasi tetap memanas hingga tercapainya perundingan Renville.

17 Agustus 1947

Republik Indonesia memperingati dua tahun kemerdekaan dalam suasana genting akibat agresi militer yang sedang berlangsung.

Renville Agreement (17 Januari 1948)

Meskipun perjanjian ini terjadi setelah agresi militer berakhir, perjanjian ini merupakan upaya untuk meredakan konflik setelah agresi tersebut.

Agresi Militer Belanda I berdampak besar terhadap situasi politik dan militer di Indonesia, sekaligus menarik perhatian dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sabtu, 02 Mei 2009

Sejarah Serikat Buruh

Asal-usul serikat pekerja dapat ditelusuri kembali ke Inggris abad ke-18, di mana perkembangan pesat masyarakat industri yang terjadi kemudian menarik perempuan, anak-anak, pekerja pedesaan dan imigran ke dalam angkatan kerja dalam jumlah besar dan dalam peran baru. Mereka menghadapi permusuhan besar pada awal keberadaan mereka dari para majikan dan kelompok pemerintah; pada saat itu, serikat pekerja dan anggota serikat pekerja secara teratur dituntut berdasarkan berbagai undang-undang perdagangan dan konspirasi.

Kumpulan tenaga kerja tidak terampil dan semi-terampil ini secara spontan diatur sesuai dan dimulai sepanjang permulaannya, dan kemudian menjadi arena penting untuk pengembangan serikat pekerja. Serikat buruh kadang-kadang dilihat sebagai penerus serikat dari Eropa abad pertengahan, meskipun hubungan antara keduanya diperdebatkan, sebagai majikan dari serikat pekerja mempekerjakan (magang dan pekerja harian) yang tidak diizinkan untuk berorganisasi.

Serikat pekerja dan perundingan bersama dilarang paling lambat pertengahan abad ke-14, ketika Ordonansi Buruh diberlakukan di Kerajaan Inggris , tetapi cara berpikir mereka bertahan selama berabad-abad, menginspirasi evolusi dan kemajuan dalam pemikiran yang akhirnya memberi pekerja hak-hak mereka yang diperlukan. Ketika perundingan bersama dan serikat pekerja awal tumbuh dengan dimulainya Revolusi Industri , pemerintah mulai menekan apa yang dilihatnya sebagai bahaya kerusuhan rakyat pada saat Perang Napoleon.

Pada 1799, Undang-Undang Kombinasi disahkan, yang melarang serikat pekerja dan perundingan bersama oleh pekerja Inggris. Meskipun serikat pekerja sering mengalami penindasan hebat hingga tahun 1824, mereka sudah tersebar luas di kota-kota seperti London . Militansi tempat kerja juga memanifestasikan dirinya sebagai Luddisme dan telah menonjol dalam perjuangan seperti Kebangkitan 1820 di Skotlandia, di mana 60.000 pekerja melakukan pemogokan umum , yang segera dihancurkan. Simpati atas penderitaan para pekerja membawa pencabutan tindakan pada tahun 1824, meskipun Undang-Undang Kombinasi 1825 sangat membatasi aktivitas mereka.

Pada tahun 1810-an, organisasi buruh pertama yang mengumpulkan pekerja dari berbagai jenis pekerjaan dibentuk. General Union of Trades, juga dikenal sebagai Philanthropic Society, didirikan pada tahun 1818 di Manchester. Nama terakhir adalah untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari organisasi di saat serikat pekerja masih ilegal.

Senin, 22 September 2008

Asal Nama Indonesia


Asal-usul nama Indonesia mulai dikenal pada medio tahun 1800-an. Menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia.

Logan adalah orang Skotlandia yang menjadi editor majalah Penang Gazette, wilayah Straits Settlement-kini Negara Bagian Penang, Malaysia-yang bermukim di sana kurun waktu 1842-1847.
"Nama yang diperkenalkan adalah Indonesia untuk menyebut Kepulauan Hindia yang waktu itu merupakan jajahan Belanda sehingga disebut Hindia-Belanda," kata Carey.

Bangsa Eropa mengenal dua wilayah Hindia, yakni Hindia-Barat, yaitu wilayah Kepulauan Karibia yang ditemukan Christopher Columbus yang semula diyakini sebagai wilayah Hindia (India)-pusat rempah-rempah yang dicari orang Eropa.

Sesudah ekspedisi Vasco da Gama dan Magellan, ditemukanlah Hindia Timur, yakni Kepulauan Nusantara, yang merupakan pusat rempah-rempah yang selama berabad-abad dicari orang Eropa. Wilayah Nusantara tersebut merupakan persimpangan peradaban dan pengaruh budaya India dan Tiongkok sehingga ilmuwan Perancis, Dennis Lombard, menyebutnya sebagai carrefour de civilization atau silang budaya.


Sejarawan Yayasan Nation Building (Nabil), Didi Kwartanada, menambahkan, informasi tentang seorang priayi Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), dalam karya ilmiah berjudul On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations (1850) mengusulkan sebutan khusus bagi warga Kepulauan Melayu atau Kepulauan Hindia (Hindia-Belanda) dengan dua nama yang diusulkan, yakni Indunesia atau Malayunesia.


Tokoh lain yang disebutkan Peter Carey dan Didi Kwartanada adalah ilmuwan Jerman, Adolf Bastian (1826-1905), Guru Besar Etnologi di Universitas Berlin, yang memopulerkan nama Indonesia di kalangan sarjana Belanda.

Bastian memopulerkan nama Indonesia dalam bukunya berjudul Indonesien; Oder Die Inseln Des Malayischen Archipel terbitan 1884 sebanyak lima jilid. Buku tersebut memuat hasil penelitiannya di Nusantara dalam kurun 1864-1880. Menurut Carey, Bastian membagi wilayah Nusantara dalam zona etnis dan antropologi.

Minggu, 17 Agustus 2008

Tanggal-Tanggal Penting Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.

Tanggal Penting

29 Mei 1945

Pada sidang BPUPKI, diajukan pertanyaan “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan ini dijawab oleh Bung Karno dengan Pancasila. Jawaban dan uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi ini menjadi temuan baru dalam sejarah Indonesia yang memaparkan kembali fakta bahwa Soekarno adalah Bapak Bangsa pencetus Pancasila.

6 Agustus 1945

Sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau disebut juga "Dokuritsu Junbi Inkai" dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

9 Agustus 1945

Bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya terkait dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang berencana menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, yang akan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Tidak mengetahui telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.

10 Agustus 1945

Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

12 Agustus 1945

Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, berdasarkan tim PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

14 Agustus 1945

Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).

Jepang secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.


16 Agustus 1945

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Rapat tersebut tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta BPUPKI Dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Radjiman adalah satu-satunya orang yang terlibat secara akif dalam kancah perjuangan berbangsa dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Manuvernya di saat memimpin Budi Utomo yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat disetiap daerah di Indonesia (kesadaran memiliki tentara rakyat) dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari Boedi Utomo.

17 Agustus 1945

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik.

Pagi harinya, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Istana Merdeka.

Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.

18 Agustus 1945

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.

Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.




Rabu, 16 Juli 2008

Kolonialisasi Portugis di Indonesia


Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya Kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Inggris dan Belanda.

Dari Sungai Tejo yang bermuara ke Samudra Atlantik, armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, yang mungkin memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.

”Pada abad 16 saat petualangan itu dimulai biasanya para pelaut negeri Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui Sungai Tagus,” kata Teresa. Biara St Jeronimus atau Biara Dos Jeronimos dalam bahasa Portugis itu didirikan oleh Raja Manuel pada tahun 1502 di tempat saat Vasco da Gama memulai petualangan ke timur.

Museum Maritim atau orang Portugis menyebut Museu de Marinha didirikan oleh Raja Luis pada 22 Juli 1863 untuk menghormati sejarah maritim Portugis. Selain patung di taman, lukisan Afonso de Albuquerque juga menjadi koleksi museum itu. Di bawah lukisan itu tertulis, ”Gubernur India 1509-1515. Peletak dasar Kerajaan Portugis di India yang berbasis di Ormuz, Goa, dan Malaka. Pionir kebijakan kekuatan laut sebagai kekuatan sentral kerajaan”. Berbagai barang perdagangan Portugis juga dipamerkan di museum itu, bahkan gundukan lada atau merica.

Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado da India, Kerajaan Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511 membawa 15 kapal besar dan kecil serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka 10 Agustus 1511. Sejak itu Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat rempah-rempah.

Minggu, 13 Juli 2008

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia


Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.

Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini tampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, Kerajaan Iha, Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.

Selasa, 01 Juli 2008

Ringkasan Sejarah Perkembangan dan Pengaruh Islam di Indonesia

Nabi Muhammad SAW mengembangkan Islam di Jazirah Arab dimulai dari Kota Mekkah, kemudian berpindah ke Kota Madinah dimulai sejak tahun 611 M, pada usia 40 tahun setelah menerima wahyu kenabian. Muhammad berhasil mengembangkan masyarakat Islam dengan pusat di Madinah. Setelah Muhammad wafat, para penggantinya yakni Khulafaurrasyidin berhasil mengembangkan Islam ke luar Jazirah Arab. Bahkan ketika Dinasti Umayyah dan Abasiyah berkuasa Islam telah tersebar luas dari Andalusia sampai ke Asia Tenggara.

Perkembangan Islam di Indonesia perlu dirinci tentang tiga hal dengan lebih tegas, yakni antara kedatangan Islam, proses penyebaran Islam, dan perkembangan Islam.

Kedatangan Islam di Indonesia berdasar pada beberapa sumber dan argumen yang ada terjadi secara bersamaan dengan ramainya jalur laut perdagangan Timur Tengah dengan Cina. Dengan demikian terjadi antara abad ke-7 M hingga 13 M.

Proses penyebaran Islam dilakukan para pembawa agama Islam antara lain:

a.            Pedagang;

b.            Para Mubaligh; dan

c.             Para Sufi.

Asal para pedagang itu dari Arab, Persia, India, Cina, dan Indonesia. Asal para mubaligh dari Arab, Persia, India, dan Indonesia. Sedangkan asal para sufi berasal dari Arab, Persia, India, dan Indonesia.

Saluran Islamisasi yang dipergunaka antara lain melalui:

a.            Perdagangan;

b.            Dakwah;

c.             Perkawinan;

d.            Pendidikan;

e.            Kesenian; dan

f.             Tasawuf.

Perkembangan Islam di Indonesia tercermin dari munculnya kerajaan Islam seperti Peurlak, Samudera Pasai, Ternate dan Tidore, Demak, Pajak, Mataram, Banten, Cirebon, dan Gowa. Sekarang Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.

Perkembangan Islam di Indonesia membawa pengaruh pada semua bidang kehidupan seperti bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Peninggalan sejarah yang bercorak Islam antara lain dapat dilihat pada: bangunan tempat ibadah, bangunan makam, seni rupa dan ukir, kesusasteraan, seni musik, dan wayang.

Rabu, 18 Juni 2008

Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia

Penemuan 7 buah prasasti Yupa dari Kutai di pinggir sungai Mahakam pada abad ke 4 Masehi dipandang sebagai tonggak penting dalam penulisan sejarah Indonesia (Indonesia kini). Hal ini dikarenakan untuk pertama kalinya sebuah wilayah di Indonesia terekam dalam sebuah sumber sejarah tertulis berupa prasasti. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun namun berdasarkan perbandingan huruf yang dipakai (dalam hal ini pallawa) maka dapat ditentukan secara relatif usia prasasti tersebut, yaitu berkisar pada akhir abad ke IV M.

Penemuan ini sekaligus sebagai bukti bahwa pengaruh Hindu telah masuk ke Indonesia berdasarkan beberapa bukti terkait, yaitu terdapat beberapa nama raja yang menggunakan gelar berbau India bukan lagi nama lokal, penyebutan Dewa Ańsuman yang dikenal dalam agama Hindu. Selain itu diberitakan pula adanya upacara dengan menyebut tempat bernama Waprakeśwara yang dapat diidentikan sebagai tempat pemujaan terhadap Trimurti (Soemadio, 1994). Pengenalan beberapa unsur Hindu ini kemudian menjadi sebuah informasi penting bahwa agama dan kebudayaan Hindu sudah dikenal oleh masyarakat pada kisaran awal abad masehi.

Bagaimana dengan agama Buddha?, Selama ini para ahli berkeyakinan bahwa agama Buddha pertama kali dikenal di Indonesia berdasarkan informasi dari prasasti Talang Tuo (684 M) yang dikeluarkan oleh Dapunta Hyaŋ Śrī Jayanāsa. Prasasti ini berisi pembuatan kebun Śrīksetra untuk kebaikan semua mahluk, dari doa-doa yang dituliskan dalam teks dikenali sebagai pujian dalam agama Buddha (Soemadio, 1994:56). Penemuan prasasti dari masa awal kerajaan Śrīwijaya ini dapat dipandang bahwa agama Buddha telah mulai berkembang di Indonesia. Selain itu, penemuan gugusan percandian di utara Karawang Jawa Barat telah memberikan arti penting mengenai penyebaran agama Buddha di Jawa yang dikenal sebagai situs percandian Batujaya. Gugusan bangunan kuil dan kemungkinan pula biara Budhis telah menambah suatu upaya baru penafsiran terhadap perkembangan agama Buddha. Gugusan percandian yang sejaman dengan keberadaan kerajaan Tārumanāgara ini mungkin dapat menjadi landasan pemikiran bahwa agama Buddha juga telah berkembang pada masa-masa awal abad masehi hampir bersamaan dengan agama Hindu.

Perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa pengaruh Hindu-Buddha ini sangat dominan dan kuat sehingga memunculkan pula sistem-sistem pemerintahan beserta bentuk kehidupan yang bercorak Hindu-Buddha. Tinggalan arkeologis dari masa ini begitu kayanya dan beberapa di antaranya dapat dikategorikan sebagai masterpiece karya manusia di dunia. Lombard (2000) mengatakan bahwa tanah di Indonesia terutama di Jawa mengandung dan masih akan terus mengeluarkan bukti-bukti warisan masa lampau yang menakjubkan. Berbagai situs percandian dan benda-benda lain terus bermunculan baik yang terdata maupun tidak, bisa jadi beberapa diantaranya masih terkubur utuh di dalam tanah selain mungkin sebagian lainnya rusak akibat bencana alam dan perusakan oleh manusia.

Di akhir masa ini terlihat bahwa berkembangnya perdagangan membawa pula pengaruh interaksi dengan pedagang asing yang juga membawa konsep dan keyakinan baru. Runtuhnya Śrīwijaya dan Majapahit memperlihatkan runtuhnya dominasi Hindu-Buddha dan memungkinkan munculnya kekuatan baru, dalam hal ini Islam naik ke panggung sejarah Indonesia. Masa transisi dan juga kemudian jauh sesudahnya ternyata tidak begitu saja menghilangkan pengaruh Hindu-Buddha dalam kebudayaan dan sistem kehidupan masa yang baru.

Minggu, 08 Juni 2008

Sejarah Kerajaan Hindu-Buddha


Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, dari mana asal identitas bangsa ini, dan bagaimana peradaban yang pernah berdiri mempengaruhi cara kita hidup hari ini. Dari berbagai babak sejarah Nusantara, periode kerajaan Hindu–Buddha selalu menjadi salah satu yang paling memikat bagi saya. Bukan hanya karena kejayaannya, tetapi karena warisan intelektual, budaya, dan nilai-nilai yang masih terasa hingga kini.

Awal Peradaban Hindu–Buddha di Nusantara

Masuknya pengaruh Hindu–Buddha ke kepulauan Indonesia bukanlah proses paksaan, melainkan interaksi panjang antara pedagang India dan masyarakat lokal sejak abad pertama Masehi. Dari pertukaran dagang, muncul pertukaran gagasan—tentang religi, filsafat, sastra, hingga tata kelola pemerintahan. Di sinilah Nusantara mulai mengenal konsep kerajaan, hierarki sosial, dan administrasi politik yang lebih terstruktur.

Kerajaan pertama yang mendapat catatan sejarah adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur, dengan prasasti Yupa yang memuat nama Raja Mulawarman. Dari sini, kita melihat bahwa bangsa kita sejak awal sudah mampu menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitasnya.

Masa Kejayaan: Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit

Tidak bisa dipungkiri bahwa puncak kejayaan Hindu–Buddha tercermin pada dua kerajaan besar: Sriwijaya dan Majapahit.

  • Sriwijaya, dengan pusatnya di Sumatera, menjadi kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional. Namun di balik kejayaan ekonominya, Sriwijaya juga berkembang menjadi pusat pembelajaran Buddha berkelas dunia. Catatan I-Tsing menunjukkan bahwa banyak pelajar dari Asia datang ke Nusantara untuk belajar agama, bahasa, dan filsafat.

  • Majapahit, di sisi lain, melambangkan era konsolidasi politik dan budaya. Dibawah Gajah Mada, Indonesia mencapai penyatuan wilayah terluas dalam sejarahnya. Bukan hanya itu, Majapahit melahirkan karya-karya monumental seperti Nagarakretagama dan Sutasoma, karya yang kelak memberi kita semboyan Bhinneka Tunggal Ika—sebuah prinsip persatuan yang masih relevan hingga hari ini.

Pengaruh Hindu–Buddha dalam Kehidupan Indonesia Modern

Ketika menelusuri jejak sejarah itu, saya semakin yakin bahwa pengaruh Hindu–Buddha tidak berhenti pada masa lalu. Ia meresap hingga ke kehidupan kita hari ini—baik disadari maupun tidak.

Sebagai seseorang yang menggemari sejarah, saya merasa bahwa memahami periode Hindu–Buddha tidak hanya membantu kita mengenali jati diri bangsa, tetapi juga mengajarkan bagaimana leluhur kita mampu merangkul perubahan tanpa kehilangan karakter lokal. Mereka menerima pengaruh luar, mengolahnya, dan menjadikannya bagian dari kebudayaan Nusantara—sebuah sikap bijak yang tetap relevan di tengah derasnya modernisasi zaman ini.

Mengapa Sejarah Ini Penting Bagi Saya?

Menengok kembali sejarah Hindu–Buddha membuat saya selalu teringat bahwa Indonesia adalah hasil dari proses panjang perjumpaan budaya. Periode ini menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang pasif, melainkan bangsa kreatif yang mampu berdialog, mengolah gagasan, dan membentuk peradaban sendiri.

Ketika melihat candi, membaca prasasti, atau mempelajari sistem kerajaan kuno, saya merasakan semacam “hubungan batin” dengan masa lalu—seakan kembali kepada akar yang memberi kekuatan bagi karakter bangsa kita hari ini.

Sejarah Hindu–Buddha bukan sekadar cerita kejayaan, melainkan fondasi yang membentuk cara berpikir, berbudaya, dan hidup sebagai bangsa Indonesia. Dan bagi saya pribadi, memahami sejarah ini seperti menyusun kepingan jati diri, satu per satu.

Kamis, 08 Mei 2008

Sejarah (Awal) Indonesia

Sejarah Awal

Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra atau Swarnadwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada abad ke-5, yaitu: Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.

Di saat Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah mempunyai warisan peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali menjadi vazal tetangganya yang lebih kuat atau saling terhubung dalam semacam ikatan perdagangan (seperti di Maluku).

Sejarah Indonesia dalam tulisan ini dimaknai sebagai catatan mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi di kepulauan antara Benua Asia dan Benua Australia sebelum berdirinya Republik Indonesia.
Wilayah utama daratan Nusantara terbentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum (250 juta tahun yang lalu), namun bagian dari lempeng benua yang berbeda. Dua bagian ini bergerak mendekat akibat pergerakan lempengnya, sehingga di saat Zaman Es terakhir telah terbentuk selat besar di antara Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul di timur. Pulau Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya mengisi ruang di antara dua bagian benua yang berseberangan. Kepulauan antara ini oleh para ahli biologi sekarang disebut sebagai Wallacea, suatu kawasan yang memiliki distribusi fauna yang unik. Situasi geologi dan geografi ini berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, sebaran makhluk hidup (khususnya tumbuhan dan hewan), serta migrasi manusia di wilayah ini.

Bagian pertemuan Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di selatan, dan Lempeng Pasifik di timur laut menjadi daerah vulkanik aktif yang memberi kekayaan mineral bagi tanah di sekitarnya sehingga sangat baik bagi pertanian, namun juga rawan gempa bumi. Pertemuan lempeng benua ini juga mengangkat sebagian dasar laut ke atas mengakibatkan adanya formasi perbukitan karst yang kaya gua di sejumlah tempat. Fosil-fosil hewan laut ditemukan di kawasan ini.

Terletak di daerah tropika, yang berarti memiliki laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari terus-menerus sepanjang tahun dengan intensitas tinggi. Situasi ini mendorong terbentuknya ekosistem yang kaya keanekaragaman makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Lautnya hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera besar. Selat di antara dua bagian benua (Wallacea) merupakan bagian dari arus laut dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang kaya sumberdaya laut. Terumbu karang di wilayah ini merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kekayaan alam di darat dan laut mewarnai kultur awal masyarakat penghuninya. Banyak di antara penduduk asli yang hidup mengandalkan pada kekayaan laut dan membuat mereka memahami navigasi pelayaran dasar, dan kelak membantu dalam penghunian wilayah Pasifik (Oseania).

Benua Australia dan perairan Samudera Hindia dan Pasifik di sisi lain memberikan faktor variasi iklim tahunan yang penting. Nusantara dipengaruhi oleh sistem muson dengan akibat banyak tempat yang mengalami perbedaan ketersediaan air dalam setahun. Sebagian besar wilayah mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Bagi pelaut dikenal angin barat (terjadi pada musim penghujan) dan angin timur. Pada era perdagangan antarpulau yang mengandalkan kapal berlayar, pola angin ini sangat penting dalam penjadwalan perdagangan.

Dari sudut persebaran makhluk hidup, wilayah ini merupakan titik pertemuan dua provinsi flora dan tipe fauna yang berbeda, sebagai akibat proses evolusi yang berjalan terpisah, namun kemudian bertemu. Wilayah bagian Paparan Sunda, yang selalu tidak jauh dari ekuator, memiliki fauna tipe Eurasia, sedangkan wilayah bagian Paparan Sahul di timur memiliki fauna tipe Australia. Kawasan Wallacea membentuk "jembatan" bagi percampuran dua tipe ini, namun karena agak terisolasi ia memiliki tipe yang khas. Hal ini disadari oleh sejumlah sarjana dari abad ke-19, seperti Alfred Wallace, Max Carl Wilhelm Weber, dan Richard Lydecker. 

Berbeda dengan fauna, sebaran flora (tumbuhan) di wilayah ini lebih tercampur, bahkan membentuk suatu provinsi flora yang khas, berbeda dari tipe di India dan Asia Timur maupun kawasan kering Australia, yang dinamakan oleh botaniwan sebagai Malesia. Migrasi manusia kemudian mendorong persebaran flora di daerah ini lebih jauh dan juga masuknya tumbuhan dan hewan asing dari daratan Eurasia, Amerika, dan Afrika pada masa sejarah.

Sabtu, 05 April 2008

Prasejarah Indonesia



Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 sampai 70 000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang berfenotipe kulit gelap dan rambut ikal rapat, menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). 

Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). 

Pada abad pertama SM sudah terbentuk permukiman-permukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.

Rabu, 05 Maret 2008

Sejarah: Konsep Dasar


Pentingnya Sejarah

Sejarah adalah guru besar kehidupan karena kita tahu masa lalu manusia, menjelaskan kejadian masa kini dan memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang sifat manusia.

Sumber Sejarah

Siapapun yang memberi kesaksian dengan pengetahuan sejarah adalah sumbernya, ada dua macam: langsung dan tidak langsung. Sumber langsung tradisi lisan dan dokumen. Sumber tidak langsung adalah sisa-sisa itu (monumen, bangunan, peralatan, senjata, dll.) Yang perlu dipelajari dan ditafsirkan oleh para arkeolog.

Ilmu Bantu Sejarah

Untuk memainkan sumber, biasanya menggunakan ilmu pengetahuan lain, begitulah yang disebut ilmu bantu, termasuk menyoroti Geografi dan Kronologi; yang pertama menemukan fakta sejarah di luar angkasa, dan yang kedua kalinya, mengikuti Arkeologi yang bertanggung jawab atas monumen dan sisa-sisa budaya yang telah punah, Epigrafia mendekripsi prasasti tersebut, Numismatik menangani studi koin dan medali, bahasa-bahasa Filologi yang mempelajari bahasa, tradisi cerita rakyat.

Pembagian: Prasejarah dan Sejarah

Untuk memudahkan penelitian mereka, kami membagi sejarah menjadi dua bagian: Prehistory and History. Prasejarah mulai dari penampilan manusia sampai penemuan tulisan dan ceritanya berkisar dari penemuan tulisan sampai hari ini dan terbagi dalam empat periode: Zaman Tua, Abad Pertengahan, Zaman Modern dan Era Modern.

Pentingnya Geografi dalam Sejarah

Faktor geografis mempengaruhi secara signifikan kehidupan masyarakat di bawah kondisi negara, stepa, padang pasir, dataran, bank, lingkungan geografis telah berperan dalam aktivitas ekonomi manusia.

Senin, 04 Februari 2008

Menjelajah Jejak Hukum Dunia: Dari Ma’at Mesir Kuno hingga Reformasi Modern



Sering kali saya berpikir, dari mana sebenarnya semua aturan yang mengatur hidup kita bermula? Mengapa sebuah masyarakat bisa berjalan tertib, sementara yang lain kacau? Rasa penasaran itulah yang membawa saya menelusuri sejarah hukum—sebuah perjalanan panjang yang ternyata jauh lebih menarik dari yang saya bayangkan.

Ketika saya membaca kembali jejak-jejak hukum tua, saya merasa seperti membuka album sejarah umat manusia. Mari saya ajak Anda melihatnya sebentar saja.

Perjalanan ini dimulai dari Mesir Kuno, sekitar 3000 SM. Di sana, para leluhur jauh kita sudah mengenal konsep keadilan bernama Ma’at—gagasan tentang keseimbangan dan kebenaran yang menjadi dasar hukum mereka. Rasanya luar biasa membayangkan bahwa ribuan tahun lalu, manusia sudah memikirkan keadilan dengan cara yang begitu dalam.

Tidak lama kemudian, saya menemukan bahwa di tanah Sumeria, penguasa bernama Ur-Nammu mulai menuliskan hukum dalam bentuk “jika… maka…”. Saya membayangkan bagaimana masyarakat pada masa itu untuk pertama kalinya melihat aturan ditulis jelas untuk semua orang. Itu pasti menjadi perubahan besar.

Lalu ada Hammurabi, sosok yang barangkali paling terkenal dalam percakapan tentang hukum kuno. Ia menuliskan aturan di batu dan menyebarkannya ke seluruh Babilonia. Saya membayangkan rakyat yang berjalan melewati stela besar itu, membaca hukum tentang hidup mereka—sebuah langkah awal menuju keterbukaan dan kepastian hukum.

Ketika saya menengok ke Yunani dan Romawi, saya merasa seperti menyaksikan kelahiran dua tiang utama hukum modern. Yunani memperkenalkan gagasan demokrasi dan pembedaan antara hukum ilahi, kebiasaan, dan aturan negara. Sementara Romawi—dengan para ahli hukumnya—membangun fondasi yang kelak menjadi dasar banyak sistem hukum di dunia. Tidak heran jika hingga hari ini, kata-kata Latin masih menghiasi ruang-ruang akademik hukum.

Perjalanan sejarah lalu membawa saya ke Eropa Abad Pertengahan. Di sana, hukum tidak hanya berkembang di pengadilan, tetapi juga di pasar. Law Merchant lahir sebagai cara para pedagang membangun aturan bersama di tengah perbedaan lokal yang rumit. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa hukum sering lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan hanya dari kekuasaan.

Di India, Arthashastra dan Manusmriti memberikan nuansa budaya yang berbeda. Sementara di Asia Timur, Jepang dan Cina melewati perubahan besar ketika mereka mulai membuka diri terhadap modernisasi hukum ala Barat. Saya selalu terkesan melihat bagaimana budaya lokal dan pengaruh asing bisa berpadu membentuk sistem yang benar-benar baru.

Dan ketika memasuki abad ke-20, terutama di Cina, saya melihat bagaimana hukum dapat berubah drastis karena ideologi dan arah politik. Pergeseran dari hukum sosialis yang sangat administratif menuju sistem yang lebih ramah terhadap ekonomi pasar menunjukkan bahwa hukum adalah sesuatu yang selalu berproses—“makhluk hidup” yang bergerak mengikuti kebutuhan zaman.

Melihat perjalanan panjang ini, saya merasakan satu hal: Hukum bukan sekadar pasal-pasal kaku. Ia adalah jejak perjuangan manusia untuk mencari keadilan, keteraturan, dan martabat.

Mengapa saya mengajak Anda melihat sejarah hukum ini?

Karena dengan memahami dari mana hukum berasal, kita bisa melihatnya dengan lebih arif. Kita bisa mengerti mengapa sebuah aturan lahir, bagaimana ia bekerja, dan apa nilai-nilai yang dikandungnya. Dan barangkali—kita juga bisa lebih bijak dalam menyikapi hukum yang berlaku hari ini.

Ini bukan sekadar cerita tentang bangsa-bangsa kuno. Ini adalah cerita tentang kita—tentang manusia yang terus belajar, berubah, dan berusaha menciptakan dunia yang lebih adil.

Sabtu, 02 Februari 2008

Apa Itu Sejarah?



Ada satu momen yang selalu saya ingat setiap kali mendengar kata sejarah: aroma buku catatan kuliah yang sudah mulai menguning, penuh coretan pensil dan garis stabilo yang saya buat bertahun-tahun lalu. Di salah satu halaman, ada kata Yunani yang dulu terasa begitu asing bagi saya: ἱστορία — historia. Dosen saya menjelaskan bahwa kata itu berarti penyelidikan, pengetahuan yang kita peroleh dengan mencari dan menggali. Saat itu saya baru benar-benar memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah proses memahami hidup manusia melalui bukti dan penyelidikan.

Sejarah, seperti yang saya catat kala itu, adalah studi tentang masa lalu yang terekam dalam bentuk dokumen tertulis. Apa pun yang terjadi sebelum adanya catatan disebut prasejarah—masa ketika manusia hidup, berjuang, dan berkembang tanpa meninggalkan tulisan, hanya jejak-jejak artefak.

Yang menarik, sejarah ternyata bukan cuma kumpulan tanggal atau nama tokoh. Dalam catatan saya tertulis bahwa sejarah mencakup ingatan, penemuan, pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, hingga interpretasi. Semua itu disusun oleh seseorang yang kita sebut sejarawan. Dengan kata lain, sejarah adalah jembatan yang dibangun manusia untuk memahami perjalanan hidupnya sendiri.

Dulu, saya juga sempat kagum ketika mempelajari bagaimana sejarawan menggunakan narasi untuk memetakan urutan kejadian, lalu mencari pola sebab-akibat di baliknya. Tidak heran jika banyak di antara mereka berdebat tentang bagaimana sejarah seharusnya ditulis, apa tujuannya, dan bagaimana sejarah dapat memberi kita sudut pandang baru terhadap persoalan masa kini.

Di perkuliahan, saya juga pertama kali mendengar bahwa tidak semua cerita masa lalu dianggap sejarah. Kisah-kisah seperti legenda King Arthur, karena tidak didukung sumber eksternal, lebih tepat disebut warisan budaya—bukan sejarah dalam arti akademis.

Nama yang paling sering muncul di catatan saya adalah Herodotus, yang dijuluki “Bapak Sejarah”. Bersama Thucydides, mereka menjadi fondasi cara kita mempelajari sejarah hingga sekarang. Herodotus dengan pendekatan budaya, Thucydides dengan pendekatan militer dan politik. Perbedaan pendekatan mereka, ternyata, masih menjadi perdebatan panjang hingga hari ini.

Di Asia pun tidak kalah menarik. Kita mengenal Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, salah satu kronik tertua yang disusun sejak 722 SM, meskipun naskah yang bertahan berasal dari abad ke-2 SM. Setiap kali mengingat hal ini, saya selalu merasa takjub—betapa seriusnya manusia sejak dahulu menjaga rekaman perjalanan hidupnya.

Hingga kini, pemahaman tentang sifat sejarah terus berkembang. Kajian sejarah modern semakin luas, mencakup studi wilayah tertentu hingga pendekatan teoritis yang lebih rumit. Dari ruang kelas sekolah dasar hingga bangku perguruan tinggi, sejarah selalu menjadi bagian penting dalam pendidikan kita.

Dan setiap kali saya membuka kembali catatan itu, saya selalu merasa bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara kita memahami diri sendiri—dan cara kita belajar melihat hari ini dengan lebih jernih.