Ada satu momen yang selalu saya ingat setiap kali mendengar kata sejarah: aroma buku catatan kuliah yang sudah mulai menguning, penuh coretan pensil dan garis stabilo yang saya buat bertahun-tahun lalu. Di salah satu halaman, ada kata Yunani yang dulu terasa begitu asing bagi saya: ἱστορία — historia. Dosen saya menjelaskan bahwa kata itu berarti penyelidikan, pengetahuan yang kita peroleh dengan mencari dan menggali. Saat itu saya baru benar-benar memahami bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah proses memahami hidup manusia melalui bukti dan penyelidikan.
Sejarah, seperti yang saya catat kala itu, adalah studi tentang masa lalu yang terekam dalam bentuk dokumen tertulis. Apa pun yang terjadi sebelum adanya catatan disebut prasejarah—masa ketika manusia hidup, berjuang, dan berkembang tanpa meninggalkan tulisan, hanya jejak-jejak artefak.
Yang menarik, sejarah ternyata bukan cuma kumpulan tanggal atau nama tokoh. Dalam catatan saya tertulis bahwa sejarah mencakup ingatan, penemuan, pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, hingga interpretasi. Semua itu disusun oleh seseorang yang kita sebut sejarawan. Dengan kata lain, sejarah adalah jembatan yang dibangun manusia untuk memahami perjalanan hidupnya sendiri.
Dulu, saya juga sempat kagum ketika mempelajari bagaimana sejarawan menggunakan narasi untuk memetakan urutan kejadian, lalu mencari pola sebab-akibat di baliknya. Tidak heran jika banyak di antara mereka berdebat tentang bagaimana sejarah seharusnya ditulis, apa tujuannya, dan bagaimana sejarah dapat memberi kita sudut pandang baru terhadap persoalan masa kini.
Di perkuliahan, saya juga pertama kali mendengar bahwa tidak semua cerita masa lalu dianggap sejarah. Kisah-kisah seperti legenda King Arthur, karena tidak didukung sumber eksternal, lebih tepat disebut warisan budaya—bukan sejarah dalam arti akademis.
Nama yang paling sering muncul di catatan saya adalah Herodotus, yang dijuluki “Bapak Sejarah”. Bersama Thucydides, mereka menjadi fondasi cara kita mempelajari sejarah hingga sekarang. Herodotus dengan pendekatan budaya, Thucydides dengan pendekatan militer dan politik. Perbedaan pendekatan mereka, ternyata, masih menjadi perdebatan panjang hingga hari ini.
Di Asia pun tidak kalah menarik. Kita mengenal Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, salah satu kronik tertua yang disusun sejak 722 SM, meskipun naskah yang bertahan berasal dari abad ke-2 SM. Setiap kali mengingat hal ini, saya selalu merasa takjub—betapa seriusnya manusia sejak dahulu menjaga rekaman perjalanan hidupnya.
Hingga kini, pemahaman tentang sifat sejarah terus berkembang. Kajian sejarah modern semakin luas, mencakup studi wilayah tertentu hingga pendekatan teoritis yang lebih rumit. Dari ruang kelas sekolah dasar hingga bangku perguruan tinggi, sejarah selalu menjadi bagian penting dalam pendidikan kita.
Dan setiap kali saya membuka kembali catatan itu, saya selalu merasa bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cara kita memahami diri sendiri—dan cara kita belajar melihat hari ini dengan lebih jernih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar