Tampilkan postingan dengan label PPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PPI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2019

Orientasi PPI untuk Karyawan Baru: Karena Kerja di Rumah Sakit Bukan Sekadar Masuk, Absen, Pulang.

Setiap orang yang pertama kali bekerja di rumah sakit pasti punya momen “kaget”—mulai dari bau desinfektan yang khas, aturan cuci tangan yang ketat, sampai kewajiban pakai APD. Nah, supaya kagetnya nggak kepanjangan, kami di Unit Personalia dan Diklat punya agenda wajib: Orientasi PPI (Pencegahan & Pengendalian Infeksi) untuk semua karyawan baru.

Pada Jumat, 3 Agustus 2019, kami kembali menggelar sesi orientasi ini, dan seperti biasa—saya bertugas sebagai koordinator kegiatan. Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat, tugas saya bukan cuma memastikan karyawan masuk kerja, tapi juga memastikan mereka paham cara bekerja dengan benar, aman, dan sesuai standar rumah sakit.

Kenapa Harus Ada Orientasi PPI?

Karena bekerja di rumah sakit itu beda. Kita bukan hanya berhadapan dengan pasien, tapi juga berhadapan dengan risiko infeksi. Jadi sebelum mereka mulai pegang berkas, alat, makanan pasien, atau bahkan sapu sekalipun, mereka harus paham dulu:

•   Apa itu infeksi dan bagaimana penularannya
   Kenapa cuci tangan itu bukan formalitas tapi senjata utama
   Kapan harus pakai APD, dan jangan sampai dipakai cuma buat gay
   Cara membuang limbah medis supaya nggak jadi masalah baru
   Apa yang harus dilakukan kalau kena pajanan (misal tertusuk jarum)

Intinya: mencegah lebih baik daripada kena infeksi lalu panik.

Jalannya Acara

Suasananya santai, tapi tetap serius. Direktur membuka kegiatan dengan pengantar bahwa orientasi ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi pondasi keselamatan kerja. Setelah itu materi disampaikan oleh tim PPI, lengkap dengan sesi tanya jawab—dan yang paling seru: praktik cuci tangan 6 langkah.

Harapan

Sebagai orang yang bertanggung jawab memastikan semua pegawai siap kerja, bukan sekadar hadir, saya berharap:

•    Mereka paham bahwa PPI bukan tanggung jawab komite saja, tapi semua orang
    Keselamatan pasien dimulai dari kebersihan tangan pegawainya
    Bekerja di rumah sakit berarti punya budaya kerja bersih, disiplin, dan peduli

Kalau semua orang patuh PPI, kita bukan cuma menyelamatkan pasien — kita juga menyelamatkan diri sendiri.





Sabtu, 09 Desember 2017

Momen Pertama Saya Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)



Tanggal 9 Desember 2017 memiliki tempat khusus dalam perjalanan saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari itu adalah momen pertama kalinya saya menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sejak saya resmi dipercaya sebagai Koordinator Diklat di Unit Personalia & Diklat.

Awalnya, saya masih baru dalam dunia pelatihan rumah sakit. Tanggung jawabnya besar, tuntutannya tinggi, dan saya tahu bahwa PPI adalah salah satu materi paling fundamental dalam keselamatan pasien maupun keselamatan kerja tenaga kesehatan. Karena itu, saya ingin pelatihan perdana ini bukan hanya sekadar kegiatan formal, tetapi benar-benar menjadi pengalaman belajar yang hidup, menyenangkan, dan bermanfaat bagi seluruh peserta.

Suasana pagi itu cukup berbeda. Ruang pelatihan terasa lebih hangat dari biasanya—bukan karena udara, tapi karena antusiasme para peserta. Perawat, tenaga medis, dan staf pendukung memenuhi ruangan dengan semangat ingin belajar. Mereka tahu, apa yang dibahas dalam PPI akan menjadi bekal penting dalam pekerjaan sehari-hari.

Bagi saya pribadi, inilah uji panggung pertama. Mulai dari menyusun materi, mempersiapkan pemateri, menyiapkan fasilitas, hingga memastikan semua berjalan lancar—semuanya saya jalani dengan penuh keseriusan. Setiap detail terasa penting, dan setiap kejadian sekecil apa pun menjadi pengalaman yang membentuk cara saya mengelola diklat di kemudian hari.

Pelatihan berjalan lancar dan penuh interaksi. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi cerita pengalaman mereka dalam menangani situasi yang berkaitan dengan infeksi. Dari sana saya sadar: pelatihan bukan hanya tentang materi yang diberikan, tetapi tentang ruang belajar yang hidup antara sesama tenaga kesehatan.

Ketika kegiatan selesai, ada rasa lega, bangga, dan bersyukur. Lega karena semuanya berjalan baik. Bangga karena saya berhasil melewati momen besar sebagai koordinator diklat. Dan bersyukur karena didukung oleh tim yang solid dan peserta yang luar biasa.

Pelatihan 9 Desember 2017 itu menjadi langkah awal yang memperkuat jalur saya di dunia pendidikan dan pelatihan rumah sakit. Dari situ saya belajar bahwa sebuah kegiatan bisa jadi sederhana, tapi maknanya sangat panjang. Dan sampai hari ini, setiap kali mengadakan pelatihan baru, saya selalu teringat pada momen pertama itu—momen yang menjadi pondasi perjalanan saya di RSU Permata Madina Panyabungan.