Tampilkan postingan dengan label Pelatihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelatihan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2021

Pelatihan Internal Emergency Neonatus di RSU Permata Madina Panyabungan: Meningkatkan Kompetensi untuk Keselamatan Pasien

Pada Selasa–Rabu, 13–14 April 2021, Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan internal sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Kegiatan kali ini mengusung tema Emergency Neonatus, sebuah pelatihan yang sangat penting mengingat kegawatdaruratan pada bayi baru lahir membutuhkan respon cepat, tepat, dan terstandar.

Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina PanyabunganSuasana antusias terlihat sejak awal, dimana peserta yang terdiri dari perawat, bidan, serta tenaga kesehatan terkait hadir dengan semangat untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani kasus-kasus neonatal emergensi.

Pemateri Berkompeten: dr. Bambang Herianto, MM

Sebagai pemateri, RSU Permata Madina menghadirkan dr. Bambang Herianto, MM, seorang dokter dengan pengalaman luas dalam manajemen kegawatdaruratan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dalam dua hari pelatihan, beliau menyampaikan materi secara komprehensif, mulai dari:

Dipadukan dengan pendekatan interaktif, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melakukan simulasi langsung, sehingga memahami bagaimana tindakan cepat dan terkoordinasi dapat menyelamatkan nyawa bayi baru lahir.

Komitmen RSU Permata Madina untuk Pelayanan Lebih Baik

Kegiatan diklat seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen RSU Permata Madina Panyabungan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang pelayanan neonatal. Dengan meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi gawat darurat pada neonatus, rumah sakit berharap dapat memberikan pelayanan yang semakin aman, profesional, dan sesuai standar nasional.

Penutup

Diklat Internal Emergency Neonatus ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan tim medis RSU Permata Madina. Semangat peserta, kualitas pemateri, serta dukungan manajemen menjadi modal berharga dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang unggul, khususnya bagi pasien-pasien terkecil dan paling rentan: bayi baru lahir.

Senin, 07 Oktober 2019

Mengenal Pentingnya Pelatihan Early Warning System dan Code Blue di Rumah Sakit






Di rumah sakit, setiap detik bisa berarti nyawa. Karena itu, pelayanan gawat darurat harus bekerja cepat, tepat, dan profesional. Di ruang IGD, perawat dan dokter menghadapi pasien dengan kondisi yang bisa berubah mendadak—mulai dari sakit yang memburuk tiba-tiba, kecelakaan, hingga situasi yang sama sekali tak terduga.
Berbeda dengan ruang perawatan biasa, perawat IGD harus mengambil keputusan dalam hitungan menit. Informasi sering terbatas, waktu sangat sempit, dan prioritasnya jelas: menyelamatkan pasien dari ancaman nyawa. Evaluasi dilakukan cepat, bukan jam atau hari.

Apa itu Code Blue?
Di banyak rumah sakit, ada satu isyarat yang sangat penting: Code Blue.
Begitu pengumuman ini terdengar, artinya ada pasien yang mengalami henti jantung atau henti napas. Tim Code Blue—kelompok tenaga medis terlatih yang siap siaga 24 jam—akan segera datang untuk menangani keadaan darurat tersebut. Respons cepat ini bisa menjadi penentu hidup dan mati.

Early Warning System: Mendeteksi Bahaya Sebelum Terlambat
Sebelum pasien sampai pada kondisi gawat, ada sistem bernama Early Warning Scoring System (EWSS). Sistem ini membantu petugas memantau tanda-tanda vital pasien secara berkala, lalu memberikan skor berdasarkan kondisi fisiologis mereka.
Dengan skor ini, tenaga medis bisa mengetahui apakah pasien masih stabil, mulai memburuk, atau sudah dalam kondisi yang perlu tindakan segera.
EWSS sangat penting terutama di IGD, di mana overcrowding sering terjadi. Ketika ruang penuh sesak dan waktu tunggu memanjang, pemantauan bisa kurang optimal. Akibatnya, pasien yang tadinya kategori kuning (butuh observasi ketat) bisa tiba-tiba berubah menjadi merah (gawat darurat).

Fungsi utama EWS adalah:
  • Melacak perubahan kondisi pasien sedini mungkin
  • Memicu respons cepat dari tim medis sebelum keadaan menjadi kritis

Dengan deteksi awal, kondisi mengancam jiwa bisa ditangani lebih cepat, bahkan dicegah sebelum terjadi.

Diklat Internal EWS & Code Blue di RSU Permata Madina
Untuk meningkatkan pengetahuan staf klinis dan Tim Code Blue—terutama bagi yang belum familiar dengan EWS—RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan “Diklat Internal Early Warning System (EWS) dan Simulasi Code Blue”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja tahun 2019 dan diprakarsai oleh Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina.

Tujuan Diklat:
  • Memahami prinsip dan komponen EWS–Code Blue
  • Mempelajari parameter fisiologi yang digunakan dalam penilaian
  • Mengetahui cara pelaksanaan EWS dan alur aktivasi Code Blue

Pelaksanaan Kegiatan:
  • Hari/Tanggal: Senin, 07 Oktober 2019
  • Waktu: 14.00 – 18.00 WIB
  • Tempat: Aula Saung RSU Permata Madina Panyabungan
  • Pemateri: dr. Sofian Hasibuan, Sp.An.

Pesertanya adalah seluruh staf klinis dan tenaga medis di RSU Permata Madina. Selain materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan simulasi Code Blue agar peserta dapat memahami situasi nyata di lapangan.


Sabtu, 05 Oktober 2019

Pelatihan Bantuan Hidup Lanjutan untuk Staf Klinis RSU Permata Madina Panyabungan Tahun

Sebagai bagian dari implementasi program kerja Diklat RSU Permata Madina Panyabungan tahun 2019, Unit Personalia dan Diklat kembali melaksanakan kegiatan pelatihan internal yang bertujuan meningkatkan kompetensi staf klinis. Pada hari Sabtu, 05 Oktober 2019, sebuah Diklat Bantuan Hidup Lanjutan (BHL) atau Advanced Life Support digelar di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pelatihan ini menghadirkan pemateri berpengalaman, dr. Sofian Hasibuan, Sp.An, yang membagikan ilmu dan praktik terbaik dalam penanganan kegawatdaruratan.

Mengapa Bantuan Hidup Lanjutan Penting?

Bantuan Hidup Lanjutan merupakan tindakan lanjutan setelah Bantuan Hidup Dasar (BHD) diberikan. Jika BHD berfokus pada upaya mempertahankan jalan napas dan sirkulasi melalui metode seperti pernapasan bantuan dan kompresi dada, maka BHL melibatkan penggunaan obat-obatan serta teknik lanjutan untuk memperpanjang kehidupan pasien, terutama pada kasus henti jantung atau henti napas.

BHD sendiri dikenal luas sebagai bagian penting dari Resusitasi Jantung Paru (RJP)—sebuah keterampilan dasar yang dapat dilakukan siapa saja untuk membantu korban dalam keadaan darurat sebelum pertolongan medis profesional tiba.

Kebutuhan Kompetensi yang Bersifat Wajib

Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), penguasaan Bantuan Hidup Dasar merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki seluruh staf rumah sakit—baik yang terlibat langsung dalam asuhan pasien maupun yang bekerja di unit non-medis. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan tindakan penyelamatan awal sudah menjadi skill mendasar yang harus dimiliki setiap orang, bukan hanya tenaga medis.

Komitmen RSU Permata Madina terhadap Mutu Pelayanan

Melalui diklat seperti BHL ini, RSU Permata Madina Panyabungan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan setiap staf memiliki pengetahuan memadai dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Pelatihan ini bukan hanya memenuhi kewajiban akreditasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar rumah sakit untuk membentuk SDM yang kompeten, sigap, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
















Jumat, 04 Oktober 2019

Menguatkan Kompetensi Staf Non Klinis: Pengalaman Saya Menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar 2019

Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa mutu layanan rumah sakit bukan hanya ditentukan oleh tenaga klinis, tetapi juga oleh kesiapan seluruh unsur yang bekerja di dalamnya. Karena itu, setiap tahun saya berusaha memastikan bahwa program kerja diklat benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas SDM kami.

Salah satu kegiatan yang sangat berkesan bagi saya adalah penyelenggaraan Diklat Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi staf non klinis pada Jumat, 4 Oktober 2019. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program kerja diklat tahun 2019, dan menjadi momen penting untuk memperkuat kesiapsiagaan staf non medis dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai. Saya masih ingat bagaimana antusiasme peserta begitu terasa sejak awal kegiatan. Walaupun mereka bukan tenaga klinis, namun semangat mereka untuk belajar dan memahami keterampilan dasar penyelamatan nyawa benar-benar luar biasa.

Untuk memberikan pelatihan yang komprehensif dan akurat, kami menghadirkan dr. Sofian Hasibuan, Sp.An sebagai pemateri. Beliau menyampaikan materi dengan sangat jelas, mulai dari prinsip dasar Bantuan Hidup Dasar, teknik kompresi dada yang benar, hingga praktik penanganan kondisi henti napas dan henti jantung pada korban.

Melihat para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, bahkan berlatih langsung dengan serius, membuat saya semakin yakin bahwa diklat seperti ini penting untuk terus ditingkatkan. Bagi saya, keselamatan pasien adalah tanggung jawab seluruh komponen rumah sakit, dan memberikan pemahaman tentang BHD kepada staf non klinis adalah salah satu langkah strategis untuk memastikan itu terwujud.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Saya pribadi merasa bersyukur dapat memimpin unit yang memiliki peran penting dalam membangun budaya kompetensi dan kesiapan darurat di rumah sakit.

Semoga pelatihan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh staf serta pasien RSU Permata Madina Panyabungan.



















Jumat, 09 Maret 2018

Pengenalan SNARS: Langkah Awal Menuju Mutu Pelayanan Rumah Sakit

 


Tanggal 9 Maret 2018 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan profesional saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari ini, saya mengikuti kegiatan pengenalan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit)—sebuah standar baru yang pada saat itu mulai diperkenalkan secara luas sebagai pedoman peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.

Awalnya, saya hanya membayangkan kegiatan ini sebagai pertemuan reguler mengenai standar kerja. Namun ternyata, pengenalan SNARS membuka cara pandang saya mengenai bagaimana rumah sakit semestinya dikelola secara sistematis, aman, dan fokus pada keselamatan pasien serta tata kelola organisasi yang lebih profesional.

Apa itu SNARS?

SNARS atau Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit adalah seperangkat standar yang disusun oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) untuk memastikan rumah sakit di Indonesia memberikan pelayanan terbaik, aman, dan bermutu tinggi.

Berbeda dari standar sebelumnya, SNARS menghadirkan beberapa penekanan baru:

Sebagai seseorang yang bekerja di Unit Personalia dan Diklat, saya langsung merasa bahwa SNARS bukan sekadar standar untuk unit medis, tetapi juga acuan penting bagi seluruh sistem pendukung rumah sakit—termasuk pengelolaan SDM, pelatihan, serta pengembangan kompetensi pegawai.

Refleksi dan Kesiapan Saya Menerapkan SNARS

Saat mengikuti pengenalan SNARS tersebut, saya menyadari bahwa peran saya di unit personalia dan diklat bukanlah sekadar peran administratif biasa. Justru, unit inilah yang menjadi fondasi bagi kesiapan rumah sakit dalam memenuhi berbagai tuntutan standar akreditasi.

Beberapa hal yang langsung saya siapkan setelah mengikuti kegiatan tersebut adalah:

1. Penataan Ulang Dokumen SDM

Saya mulai merapikan kembali dokumen kepegawaian, memastikan semua staf memiliki file kompetensi, SK, uraian tugas, hingga bukti pelatihan yang diperlukan SNARS.

2. Penyusunan Program Diklat yang Relevan

Saya mengintegrasikan materi-materi seperti keselamatan pasien, komunikasi efektif, PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), serta K3RS ke dalam agenda pelatihan tahunan.

3. Meningkatkan Kesadaran Mutu di Internal Staf

Setiap pegawai harus memahami bahwa mutu bukan hanya tugas komite mutu, tetapi budaya yang harus dibangun bersama.

4. Berkomitmen pada Prinsip "Do – Document – Prove"

Tiga hal ini menjadi pedoman saya: setiap proses harus dikerjakan, didokumentasikan, dan bisa dibuktikan saat audit.

Melangkah Bersama Menuju Rumah Sakit yang Lebih Baik

Pengenalan SNARS pada 9 Maret 2018 bukan sekadar kegiatan sosialisasi, tetapi titik awal transformasi cara kerja kami di RSU Permata Madina Panyabungan. Dari sana, saya semakin memahami bahwa akreditasi bukan sekadar memenuhi indikator, tetapi membentuk budaya kerja yang disiplin, tertib, dan mengutamakan keselamatan.

Saya percaya, komitmen pribadi untuk menerapkan SNARS—mulai dari pengelolaan SDM hingga diklat—adalah bagian kecil yang dapat saya kontribusikan untuk memastikan rumah sakit ini terus berkembang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terpercaya di Mandailing Natal.

Mutu adalah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Dan saya bersyukur telah melangkah di dalamnya sejak hari itu.

Minggu, 04 Februari 2018

Karyawan sebagai Sasaran Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan

Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan, saya selalu meyakini bahwa kekuatan utama rumah sakit bukan hanya pada fasilitas atau teknologi yang dimiliki, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. Di tengah pesatnya perkembangan industri pelayanan kesehatan, tuntutan terhadap ketepatan, kecepatan, dan kepuasan pelanggan semakin tinggi. Karena itu, saya merasa penting untuk memastikan bahwa manajemen SDM di RSU Permata Madina selalu berjalan secara profesional, terarah, dan berkelanjutan.

Bagi saya, SDM adalah jantung dari organisasi. Mereka bukan sekadar bagian dari struktur rumah sakit, tetapi penggerak utama yang membawa visi dan misi RSU Permata Madina Panyabungan menjadi nyata. Oleh sebab itu, saya berkewajiban memastikan bahwa setiap tenaga yang bekerja di lingkungan rumah sakit memiliki kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan kompetensinya.

Salah satu langkah yang terus saya dorong adalah penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi seluruh karyawan. Program ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga bentuk komitmen kami dalam menciptakan SDM yang profesional, tangguh, dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan masa kini dan masa depan.

Melalui pengembangan SDM yang terarah, saya percaya RSU Permata Madina Panyabungan dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Dengan SDM yang unggul, visi besar rumah sakit bukan hanya sekadar cita-cita, tetapi sesuatu yang benar-benar dapat diwujudkan.




Sabtu, 09 Desember 2017

Momen Pertama Saya Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)



Tanggal 9 Desember 2017 memiliki tempat khusus dalam perjalanan saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari itu adalah momen pertama kalinya saya menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) sejak saya resmi dipercaya sebagai Koordinator Diklat di Unit Personalia & Diklat.

Awalnya, saya masih baru dalam dunia pelatihan rumah sakit. Tanggung jawabnya besar, tuntutannya tinggi, dan saya tahu bahwa PPI adalah salah satu materi paling fundamental dalam keselamatan pasien maupun keselamatan kerja tenaga kesehatan. Karena itu, saya ingin pelatihan perdana ini bukan hanya sekadar kegiatan formal, tetapi benar-benar menjadi pengalaman belajar yang hidup, menyenangkan, dan bermanfaat bagi seluruh peserta.

Suasana pagi itu cukup berbeda. Ruang pelatihan terasa lebih hangat dari biasanya—bukan karena udara, tapi karena antusiasme para peserta. Perawat, tenaga medis, dan staf pendukung memenuhi ruangan dengan semangat ingin belajar. Mereka tahu, apa yang dibahas dalam PPI akan menjadi bekal penting dalam pekerjaan sehari-hari.

Bagi saya pribadi, inilah uji panggung pertama. Mulai dari menyusun materi, mempersiapkan pemateri, menyiapkan fasilitas, hingga memastikan semua berjalan lancar—semuanya saya jalani dengan penuh keseriusan. Setiap detail terasa penting, dan setiap kejadian sekecil apa pun menjadi pengalaman yang membentuk cara saya mengelola diklat di kemudian hari.

Pelatihan berjalan lancar dan penuh interaksi. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi cerita pengalaman mereka dalam menangani situasi yang berkaitan dengan infeksi. Dari sana saya sadar: pelatihan bukan hanya tentang materi yang diberikan, tetapi tentang ruang belajar yang hidup antara sesama tenaga kesehatan.

Ketika kegiatan selesai, ada rasa lega, bangga, dan bersyukur. Lega karena semuanya berjalan baik. Bangga karena saya berhasil melewati momen besar sebagai koordinator diklat. Dan bersyukur karena didukung oleh tim yang solid dan peserta yang luar biasa.

Pelatihan 9 Desember 2017 itu menjadi langkah awal yang memperkuat jalur saya di dunia pendidikan dan pelatihan rumah sakit. Dari situ saya belajar bahwa sebuah kegiatan bisa jadi sederhana, tapi maknanya sangat panjang. Dan sampai hari ini, setiap kali mengadakan pelatihan baru, saya selalu teringat pada momen pertama itu—momen yang menjadi pondasi perjalanan saya di RSU Permata Madina Panyabungan.

Senin, 13 November 2017

Pengertian, Dasar, dan Manajemen Pelatihan


Ketika kita berbicara tentang pelatihan, sebenarnya kita sedang berbicara tentang proses perubahan manusia. Sikula dalam Sumantri (2000) menyebut pelatihan sebagai proses pendidikan jangka pendek yang sistematis, dengan tujuan mempelajari pengetahuan dan keterampilan praktis. Veithzal Rivai (2004) menambahkan bahwa pelatihan adalah cara mengubah perilaku pekerja agar tujuan organisasi tercapai. Dari dua pandangan ini saya menangkap inti yang sama: pelatihan bukan sekadar aktivitas, tetapi usaha serius untuk meningkatkan kompetensi, sikap, dan keterampilan seseorang dalam waktu yang relatif singkat.

Dengan kata lain, pelatihan adalah investasi untuk meningkatkan kinerja hari ini dan menyiapkan kinerja yang lebih baik di masa depan.

Mengapa Dasar Pelatihan itu Penting?

Setiap kali kami merancang sebuah program, saya selalu mencoba melihat kembali pada dasar-dasar pelatihan. Dale Yoder sejak 1962 sudah menegaskan prinsip-prinsip umum: perbedaan individu, motivasi, partisipasi aktif, pemilihan peserta dan pelatih, metode, hingga prinsip belajar. Meskipun sudah setengah abad lebih berlalu, prinsip-prinsip itu selalu terasa relevan.

Ada juga lima syarat minimal yang praktis untuk digunakan:

  1. sesuai dengan kondisi peserta,
  2. materi cukup dan bermutu,
  3. tepat waktu dan tujuan,
  4. pesan mudah diterima dan diterapkan,
  5. serta biaya yang wajar.

Di lapangan, pertimbangan-pertimbangan ini terasa nyata. Kadang sebuah pelatihan gagal bukan karena materinya salah, tetapi karena metode tidak cocok dengan peserta, atau biaya dan fasilitas tidak memungkinkan. Karena itu, sebuah pelatihan yang berhasil, bagi saya, selalu bertumpu pada dasar-dasar yang sederhana namun penting ini.

Manajemen Pelatihan: Dari Analisis Hingga Evaluasi

Bagian yang sering diabaikan adalah manajemen pelatihan. Banyak orang melihat pelatihan hanya pada tahap pelaksanaan, padahal itu hanya satu bagian dari rangkaian panjang.

Langkah paling awal adalah penilaian kebutuhan. Ini pondasi. Tanpa penilaian kebutuhan, pelatihan hanya menjadi acara rutin, bukan solusi. Analisis bisa dilakukan pada tiga tingkat: organisasi, program, dan individu. Dari sinilah kita menemukan celah dan peluang yang tepat.

Setelah itu barulah desain program, pelaksanaan, dan akhirnya evaluasi. Bagi saya, evaluasi yang baik bukan hanya mengukur apakah pelatihan selesai, tetapi menjawab pertanyaan: apakah terjadi transformasi pada peserta?

Sondang P. Siagian (1994) menyebut bahwa transformasi itu terlihat dari dua hal:

  • peningkatan kemampuan kerja,
  • perubahan perilaku: sikap, disiplin, dan etos.

Sebagai koordinator, ini indikator yang selalu saya cari.

Isi Program dan Prinsip Belajar

Isi program pelatihan adalah wujud dari penilaian kebutuhan: keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang harus dibangun. Materi harus relevan dengan pekerjaan nyata. Peserta akan bertanya: “Apa manfaatnya bagi saya?” Jika kita tidak menjawab, pelatihan kehilangan ruhnya.

Prinsip belajar yang efektif, menurut Sondang Siagian, berkisar pada lima hal:

  • partisipasi,
  • repetisi,
  • relevansi,
  • transfer,
  • dan umpan balik.

Dalam pengalaman saya, bagian yang paling sering dilupakan adalah umpan balik. Pelatihan bukan kegiatan satu arah. Kita perlu mendengar pengalaman peserta, melihat reaksi, dan menyusun penyesuaian. Tanpa umpan balik, pelatihan menjadi ceramah — bukan proses belajar.

Pelaksanaan: Situasional dan Fleksibel

Di ruang kelas, rencana yang indah kadang bertemu dengan realitas yang keras. Di sinilah sifat pelatihan menjadi sangat situasional. Jumlah peserta, waktu, fasilitas, bahkan mood hari itu — semuanya berpengaruh. Karena itu saya selalu membuka ruang improvisasi, selama tetap menjaga tujuan.

Metode bisa berbeda, tetapi prinsipnya tetap: pelatihan bukan untuk pelatih, tetapi untuk peserta.

Evaluasi: Bagaimana Kita Tahu Pelatihan Berhasil?

Bagi saya, evaluasi bukan sekadar form kepuasan yang diisi di akhir sesi. Evaluasi yang baik menjawab pertanyaan: apakah peserta berubah? apakah organisasi merasakan dampaknya?

Jika setelah pelatihan terlihat:

  • tugas dilaksanakan lebih baik,
  • sikap kerja membaik,
  • disiplin meningkat,
  • dan etos kerja tumbuh,

maka transformasi sudah terjadi.

Itulah alasan mengapa saya melihat pelatihan bukan hanya agenda rutin, tetapi proses pembelajaran tentang manusia, organisasi, dan perubahan. Setiap pelatihan adalah kesempatan untuk tumbuh, baik bagi peserta maupun bagi penyelenggara. Dan sebagai seseorang yang baru mendapat amanah menjadi koordinator diklat, saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari proses kecil namun bermakna itu.