Saya sering memikirkan satu hal sederhana: kenapa setelah pemilu selesai, hubungan antara yang dipilih dan yang memilih terasa seperti putus kontak?
Saat kampanye, komunikasi begitu intens. Calon datang, berdialog, mendengar keluhan, mencatat aspirasi. Nomor telepon dibagikan, janji disampaikan, harapan dibangun. Tapi setelah terpilih, jalur itu sering terasa menyempit — bahkan hilang. Rakyat tidak tahu harus bertanya ke mana, sementara pejabat merasa sudah bekerja karena hadir di kantor dan rapat.
Sebagai orang yang aktif di partai politik dan punya keinginan untuk ikut dalam pemilihan legislatif, ini bukan sekadar kritik — ini juga kegelisahan pribadi saya.
Politik Terasa Jauh, Padahal Harusnya Dekat
Banyak orang di sekitar kita sebenarnya tidak terlalu peduli siapa tokoh politiknya. Yang mereka peduli sederhana:
-
bisa dihubungi atau tidak
-
mau mendengar atau tidak
-
ada tindak lanjut atau tidak
Bukan soal pidato hebat. Bukan soal baliho besar. Tapi soal respons.
Saya beberapa kali mendengar kalimat seperti:
“Kami cuma dibutuhkan saat pemilu.”
Kalimat itu terdengar klise — tapi jujur, ada benarnya.
Jabatan Itu Bukan Garis Finish
Kita sering memperlakukan kemenangan politik seperti garis finish. Padahal seharusnya itu garis start. Setelah dilantik, justru kewajiban komunikasi dimulai, bukan selesai.
Menurut saya, wakil rakyat seharusnya:
-
rutin memberi kabar apa yang sedang dikerjakan
-
menjelaskan sikapnya terhadap isu penting
-
membuka ruang tanya jawab
-
tidak alergi dikritik
Tidak harus selalu formal. Kadang cukup pertemuan kecil. Diskusi warung kopi. Forum warga. Laporan singkat berkala. Yang penting: ada sambungan.
Saya Juga Mengkritik “Rumah Sendiri”
Sebagai pengurus partai, saya juga merasa partai politik perlu jujur berbenah. Partai jangan hanya aktif saat rekrut suara — tapi pasif saat merawat hubungan.
Kader jangan hanya dilatih cara menang, tapi juga cara mempertanggungjawabkan amanah.
Menurut saya, ke depan partai harus mendorong budaya:
-
dialog konstituen terjadwal
-
kanal aspirasi yang benar-benar dijawab
Kalau tidak, partai akan makin dilihat hanya sebagai kendaraan, bukan jembatan.
Kalau Saya Diberi Kesempatan
Saya tidak ingin menjual janji besar. Tapi saya punya niat sederhana: kalau dipercaya, saya ingin mudah dihubungi dan jelas kabarnya.
Bukan berarti semua aspirasi bisa langsung selesai — politik dan anggaran punya batas. Tapi paling tidak:
-
warga tahu prosesnya
-
tahu posisinya
-
tahu jawabannya
Saya ingin membiasakan laporan berkala, dialog rutin, dan komunikasi terbuka. Karena menurut saya, kepercayaan publik tidak dijaga dengan slogan — tapi dengan kebiasaan hadir.
Politik yang Lebih Manusiawi
Mungkin yang kita butuhkan bukan politik yang makin rumit — tapi politik yang lebih manusiawi. Lebih banyak mendengar. Lebih sering menjelaskan. Lebih siap dikoreksi.
Hubungan antara rakyat dan wakilnya tidak boleh hanya aktif lima tahunan. Harus hidup setiap bulan, setiap masa sidang, setiap keputusan.
Kalau sambungan itu terjaga, demokrasi terasa nyata. Kalau tidak, demokrasi hanya terasa sebagai acara.
Dan saya tidak ingin ikut meramaikan acara. Saya ingin ikut memperbaiki sambungan.
