Tampilkan postingan dengan label akreditasi rs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akreditasi rs. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2025

Langkah Awal di Tahun Baru: Komitmen untuk Logistik Rumah Sakit yang Lebih Baik


Hari ini, saya mencoba untuk penuh semangat dan optimisme memulai tahun baru, terutama setelah menghabiskan waktu merenungkan peran yang saya emban di Unit Logistik Umum Rumah Sakit Umum Permata Madina Panyabungan. Betapa pentingnya keberadaan logistik umum dalam mendukung operasional rumah sakit membuat saya merasa bahwa tanggung jawab ini adalah bagian dari kontribusi saya bagi masyarakat.

Saya memulai hari dengan meninjau draft program kerja Unit Logistik Umum untuk tahun 2025. Program ini disusun berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya dan kebutuhan yang terus berkembang. Membaca kembali detailnya, saya semakin memahami bahwa setiap langkah yang diambil harus berorientasi pada efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan. Dalam kepala saya terlintas visi: bagaimana kami dapat mendukung rumah sakit menjadi penyedia layanan kesehatan yang profesional dan terpercaya, dengan pengelolaan logistik yang responsif dan transparan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama saya hari ini adalah rencana peningkatan manajemen persediaan dan sistem pencatatan. Saya sadar, dengan jumlah pasien yang terus meningkat, tantangan untuk memastikan ketersediaan logistik akan semakin besar. Namun, saya yakin dengan koordinasi lintas unit yang lebih baik, kami bisa mengatasinya.

Selain itu, efisiensi anggaran juga menjadi titik fokus. Kami harus lebih bijak dalam mengelola sumber daya, memastikan tidak ada pemborosan sekaligus menghindari kekurangan stok barang. Dalam pikiran saya, upaya ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tanggung jawab moral untuk memastikan setiap langkah membawa manfaat bagi pasien dan semua pihak yang terlibat. 

Hari ini ditutup dengan refleksi. Saya merasa bersyukur diberi kesempatan untuk terlibat dalam sesuatu yang besar, yang tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga pada masyarakat luas. Tahun 2025 adalah awal baru yang penuh tantangan, tetapi saya percaya, dengan komitmen dan kerja keras, kami bisa mencapainya.

Semoga semua usaha ini membawa keberkahan dan manfaat.

Rabu, 14 April 2021

Pelatihan Internal Emergency Neonatus di RSU Permata Madina Panyabungan: Meningkatkan Kompetensi untuk Keselamatan Pasien

Pada Selasa–Rabu, 13–14 April 2021, Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan internal sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Kegiatan kali ini mengusung tema Emergency Neonatus, sebuah pelatihan yang sangat penting mengingat kegawatdaruratan pada bayi baru lahir membutuhkan respon cepat, tepat, dan terstandar.

Pelatihan dilaksanakan di Aula Saung RSU Permata Madina PanyabunganSuasana antusias terlihat sejak awal, dimana peserta yang terdiri dari perawat, bidan, serta tenaga kesehatan terkait hadir dengan semangat untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani kasus-kasus neonatal emergensi.

Pemateri Berkompeten: dr. Bambang Herianto, MM

Sebagai pemateri, RSU Permata Madina menghadirkan dr. Bambang Herianto, MM, seorang dokter dengan pengalaman luas dalam manajemen kegawatdaruratan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dalam dua hari pelatihan, beliau menyampaikan materi secara komprehensif, mulai dari:

Dipadukan dengan pendekatan interaktif, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak melakukan simulasi langsung, sehingga memahami bagaimana tindakan cepat dan terkoordinasi dapat menyelamatkan nyawa bayi baru lahir.

Komitmen RSU Permata Madina untuk Pelayanan Lebih Baik

Kegiatan diklat seperti ini merupakan salah satu bentuk komitmen RSU Permata Madina Panyabungan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang pelayanan neonatal. Dengan meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani kondisi gawat darurat pada neonatus, rumah sakit berharap dapat memberikan pelayanan yang semakin aman, profesional, dan sesuai standar nasional.

Penutup

Diklat Internal Emergency Neonatus ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan tim medis RSU Permata Madina. Semangat peserta, kualitas pemateri, serta dukungan manajemen menjadi modal berharga dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang unggul, khususnya bagi pasien-pasien terkecil dan paling rentan: bayi baru lahir.

Senin, 07 Oktober 2019

Mengenal Pentingnya Pelatihan Early Warning System dan Code Blue di Rumah Sakit






Di rumah sakit, setiap detik bisa berarti nyawa. Karena itu, pelayanan gawat darurat harus bekerja cepat, tepat, dan profesional. Di ruang IGD, perawat dan dokter menghadapi pasien dengan kondisi yang bisa berubah mendadak—mulai dari sakit yang memburuk tiba-tiba, kecelakaan, hingga situasi yang sama sekali tak terduga.
Berbeda dengan ruang perawatan biasa, perawat IGD harus mengambil keputusan dalam hitungan menit. Informasi sering terbatas, waktu sangat sempit, dan prioritasnya jelas: menyelamatkan pasien dari ancaman nyawa. Evaluasi dilakukan cepat, bukan jam atau hari.

Apa itu Code Blue?
Di banyak rumah sakit, ada satu isyarat yang sangat penting: Code Blue.
Begitu pengumuman ini terdengar, artinya ada pasien yang mengalami henti jantung atau henti napas. Tim Code Blue—kelompok tenaga medis terlatih yang siap siaga 24 jam—akan segera datang untuk menangani keadaan darurat tersebut. Respons cepat ini bisa menjadi penentu hidup dan mati.

Early Warning System: Mendeteksi Bahaya Sebelum Terlambat
Sebelum pasien sampai pada kondisi gawat, ada sistem bernama Early Warning Scoring System (EWSS). Sistem ini membantu petugas memantau tanda-tanda vital pasien secara berkala, lalu memberikan skor berdasarkan kondisi fisiologis mereka.
Dengan skor ini, tenaga medis bisa mengetahui apakah pasien masih stabil, mulai memburuk, atau sudah dalam kondisi yang perlu tindakan segera.
EWSS sangat penting terutama di IGD, di mana overcrowding sering terjadi. Ketika ruang penuh sesak dan waktu tunggu memanjang, pemantauan bisa kurang optimal. Akibatnya, pasien yang tadinya kategori kuning (butuh observasi ketat) bisa tiba-tiba berubah menjadi merah (gawat darurat).

Fungsi utama EWS adalah:
  • Melacak perubahan kondisi pasien sedini mungkin
  • Memicu respons cepat dari tim medis sebelum keadaan menjadi kritis

Dengan deteksi awal, kondisi mengancam jiwa bisa ditangani lebih cepat, bahkan dicegah sebelum terjadi.

Diklat Internal EWS & Code Blue di RSU Permata Madina
Untuk meningkatkan pengetahuan staf klinis dan Tim Code Blue—terutama bagi yang belum familiar dengan EWS—RSU Permata Madina Panyabungan mengadakan kegiatan “Diklat Internal Early Warning System (EWS) dan Simulasi Code Blue”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja tahun 2019 dan diprakarsai oleh Unit Personalia dan Diklat RSU Permata Madina.

Tujuan Diklat:
  • Memahami prinsip dan komponen EWS–Code Blue
  • Mempelajari parameter fisiologi yang digunakan dalam penilaian
  • Mengetahui cara pelaksanaan EWS dan alur aktivasi Code Blue

Pelaksanaan Kegiatan:
  • Hari/Tanggal: Senin, 07 Oktober 2019
  • Waktu: 14.00 – 18.00 WIB
  • Tempat: Aula Saung RSU Permata Madina Panyabungan
  • Pemateri: dr. Sofian Hasibuan, Sp.An.

Pesertanya adalah seluruh staf klinis dan tenaga medis di RSU Permata Madina. Selain materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan simulasi Code Blue agar peserta dapat memahami situasi nyata di lapangan.


Sabtu, 05 Oktober 2019

Pelatihan Bantuan Hidup Lanjutan untuk Staf Klinis RSU Permata Madina Panyabungan Tahun

Sebagai bagian dari implementasi program kerja Diklat RSU Permata Madina Panyabungan tahun 2019, Unit Personalia dan Diklat kembali melaksanakan kegiatan pelatihan internal yang bertujuan meningkatkan kompetensi staf klinis. Pada hari Sabtu, 05 Oktober 2019, sebuah Diklat Bantuan Hidup Lanjutan (BHL) atau Advanced Life Support digelar di Aula Saung RSU Permata Madina mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Pelatihan ini menghadirkan pemateri berpengalaman, dr. Sofian Hasibuan, Sp.An, yang membagikan ilmu dan praktik terbaik dalam penanganan kegawatdaruratan.

Mengapa Bantuan Hidup Lanjutan Penting?

Bantuan Hidup Lanjutan merupakan tindakan lanjutan setelah Bantuan Hidup Dasar (BHD) diberikan. Jika BHD berfokus pada upaya mempertahankan jalan napas dan sirkulasi melalui metode seperti pernapasan bantuan dan kompresi dada, maka BHL melibatkan penggunaan obat-obatan serta teknik lanjutan untuk memperpanjang kehidupan pasien, terutama pada kasus henti jantung atau henti napas.

BHD sendiri dikenal luas sebagai bagian penting dari Resusitasi Jantung Paru (RJP)—sebuah keterampilan dasar yang dapat dilakukan siapa saja untuk membantu korban dalam keadaan darurat sebelum pertolongan medis profesional tiba.

Kebutuhan Kompetensi yang Bersifat Wajib

Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), penguasaan Bantuan Hidup Dasar merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki seluruh staf rumah sakit—baik yang terlibat langsung dalam asuhan pasien maupun yang bekerja di unit non-medis. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan melakukan tindakan penyelamatan awal sudah menjadi skill mendasar yang harus dimiliki setiap orang, bukan hanya tenaga medis.

Komitmen RSU Permata Madina terhadap Mutu Pelayanan

Melalui diklat seperti BHL ini, RSU Permata Madina Panyabungan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan setiap staf memiliki pengetahuan memadai dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Pelatihan ini bukan hanya memenuhi kewajiban akreditasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya besar rumah sakit untuk membentuk SDM yang kompeten, sigap, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
















Minggu, 04 Agustus 2019

Orientasi PPI untuk Karyawan Baru: Karena Kerja di Rumah Sakit Bukan Sekadar Masuk, Absen, Pulang.

Setiap orang yang pertama kali bekerja di rumah sakit pasti punya momen “kaget”—mulai dari bau desinfektan yang khas, aturan cuci tangan yang ketat, sampai kewajiban pakai APD. Nah, supaya kagetnya nggak kepanjangan, kami di Unit Personalia dan Diklat punya agenda wajib: Orientasi PPI (Pencegahan & Pengendalian Infeksi) untuk semua karyawan baru.

Pada Jumat, 3 Agustus 2019, kami kembali menggelar sesi orientasi ini, dan seperti biasa—saya bertugas sebagai koordinator kegiatan. Sebagai Kepala Unit Personalia dan Diklat, tugas saya bukan cuma memastikan karyawan masuk kerja, tapi juga memastikan mereka paham cara bekerja dengan benar, aman, dan sesuai standar rumah sakit.

Kenapa Harus Ada Orientasi PPI?

Karena bekerja di rumah sakit itu beda. Kita bukan hanya berhadapan dengan pasien, tapi juga berhadapan dengan risiko infeksi. Jadi sebelum mereka mulai pegang berkas, alat, makanan pasien, atau bahkan sapu sekalipun, mereka harus paham dulu:

•   Apa itu infeksi dan bagaimana penularannya
   Kenapa cuci tangan itu bukan formalitas tapi senjata utama
   Kapan harus pakai APD, dan jangan sampai dipakai cuma buat gay
   Cara membuang limbah medis supaya nggak jadi masalah baru
   Apa yang harus dilakukan kalau kena pajanan (misal tertusuk jarum)

Intinya: mencegah lebih baik daripada kena infeksi lalu panik.

Jalannya Acara

Suasananya santai, tapi tetap serius. Direktur membuka kegiatan dengan pengantar bahwa orientasi ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi pondasi keselamatan kerja. Setelah itu materi disampaikan oleh tim PPI, lengkap dengan sesi tanya jawab—dan yang paling seru: praktik cuci tangan 6 langkah.

Harapan

Sebagai orang yang bertanggung jawab memastikan semua pegawai siap kerja, bukan sekadar hadir, saya berharap:

•    Mereka paham bahwa PPI bukan tanggung jawab komite saja, tapi semua orang
    Keselamatan pasien dimulai dari kebersihan tangan pegawainya
    Bekerja di rumah sakit berarti punya budaya kerja bersih, disiplin, dan peduli

Kalau semua orang patuh PPI, kita bukan cuma menyelamatkan pasien — kita juga menyelamatkan diri sendiri.





Jumat, 09 Maret 2018

Pengenalan SNARS: Langkah Awal Menuju Mutu Pelayanan Rumah Sakit

 


Tanggal 9 Maret 2018 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan profesional saya di RSU Permata Madina Panyabungan. Hari ini, saya mengikuti kegiatan pengenalan SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit)—sebuah standar baru yang pada saat itu mulai diperkenalkan secara luas sebagai pedoman peningkatan mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.

Awalnya, saya hanya membayangkan kegiatan ini sebagai pertemuan reguler mengenai standar kerja. Namun ternyata, pengenalan SNARS membuka cara pandang saya mengenai bagaimana rumah sakit semestinya dikelola secara sistematis, aman, dan fokus pada keselamatan pasien serta tata kelola organisasi yang lebih profesional.

Apa itu SNARS?

SNARS atau Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit adalah seperangkat standar yang disusun oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) untuk memastikan rumah sakit di Indonesia memberikan pelayanan terbaik, aman, dan bermutu tinggi.

Berbeda dari standar sebelumnya, SNARS menghadirkan beberapa penekanan baru:

Sebagai seseorang yang bekerja di Unit Personalia dan Diklat, saya langsung merasa bahwa SNARS bukan sekadar standar untuk unit medis, tetapi juga acuan penting bagi seluruh sistem pendukung rumah sakit—termasuk pengelolaan SDM, pelatihan, serta pengembangan kompetensi pegawai.

Refleksi dan Kesiapan Saya Menerapkan SNARS

Saat mengikuti pengenalan SNARS tersebut, saya menyadari bahwa peran saya di unit personalia dan diklat bukanlah sekadar peran administratif biasa. Justru, unit inilah yang menjadi fondasi bagi kesiapan rumah sakit dalam memenuhi berbagai tuntutan standar akreditasi.

Beberapa hal yang langsung saya siapkan setelah mengikuti kegiatan tersebut adalah:

1. Penataan Ulang Dokumen SDM

Saya mulai merapikan kembali dokumen kepegawaian, memastikan semua staf memiliki file kompetensi, SK, uraian tugas, hingga bukti pelatihan yang diperlukan SNARS.

2. Penyusunan Program Diklat yang Relevan

Saya mengintegrasikan materi-materi seperti keselamatan pasien, komunikasi efektif, PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi), serta K3RS ke dalam agenda pelatihan tahunan.

3. Meningkatkan Kesadaran Mutu di Internal Staf

Setiap pegawai harus memahami bahwa mutu bukan hanya tugas komite mutu, tetapi budaya yang harus dibangun bersama.

4. Berkomitmen pada Prinsip "Do – Document – Prove"

Tiga hal ini menjadi pedoman saya: setiap proses harus dikerjakan, didokumentasikan, dan bisa dibuktikan saat audit.

Melangkah Bersama Menuju Rumah Sakit yang Lebih Baik

Pengenalan SNARS pada 9 Maret 2018 bukan sekadar kegiatan sosialisasi, tetapi titik awal transformasi cara kerja kami di RSU Permata Madina Panyabungan. Dari sana, saya semakin memahami bahwa akreditasi bukan sekadar memenuhi indikator, tetapi membentuk budaya kerja yang disiplin, tertib, dan mengutamakan keselamatan.

Saya percaya, komitmen pribadi untuk menerapkan SNARS—mulai dari pengelolaan SDM hingga diklat—adalah bagian kecil yang dapat saya kontribusikan untuk memastikan rumah sakit ini terus berkembang sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang terpercaya di Mandailing Natal.

Mutu adalah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Dan saya bersyukur telah melangkah di dalamnya sejak hari itu.