Tampilkan postingan dengan label mandailing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mandailing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2026

Willem Iskander: Pelopor Pendidikan Modern dari Tanah Mandailing

Oleh: Abdul Majid Nasution

Tidak banyak tokoh dari Sumatera Utara pada abad ke-19 yang meninggalkan warisan intelektual sedemikian besar sebagaimana Willem Iskander. Di tengah situasi masyarakat Nusantara yang masih sangat terbatas memperoleh akses pendidikan, ia tampil sebagai seorang guru, pemikir, penulis, sekaligus pelopor pendidikan modern bagi masyarakat bumiputra.

Nama Willem Iskander memang belum sepopuler Ki Hajar Dewantara atau Mohammad Syafei dalam sejarah pendidikan Indonesia. Namun jika ditelusuri lebih jauh, gagasan dan perjuangan yang ia lakukan telah hadir jauh sebelum pendidikan nasional berkembang seperti sekarang. Oleh karena itu, sudah saatnya bangsa Indonesia memberikan penghargaan yang layak kepada putra terbaik Mandailing ini melalui penetapannya sebagai Pahlawan Nasional.

Putra Mandailing yang Mendedikasikan Hidup untuk Pendidikan

Willem Iskander lahir di Mandailing dengan nama asli Sati Nasution pada tahun 1840. Ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang pada masa itu masih memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pendidikan formal. Sejak usia muda, ia dikenal memiliki kecerdasan, semangat belajar yang tinggi, serta kemampuan intelektual yang menonjol dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Potensi tersebut kemudian membawanya memperoleh kesempatan yang sangat langka, yaitu menempuh pendidikan di Belanda. Kesempatan itu menjadi titik balik yang membentuk dirinya sebagai seorang intelektual yang kelak memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pendidikan di tanah air.

Pada pertengahan abad ke-19, memperoleh pendidikan tinggi di Eropa merupakan sebuah privilese yang hampir mustahil diraih oleh seorang pribumi. Sistem kolonial pada masa itu belum memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat bumiputra untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan bangsa Eropa. Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Willem Iskander berhasil membuktikan bahwa anak bangsa memiliki kemampuan intelektual yang tidak kalah apabila diberi akses, kesempatan, dan lingkungan belajar yang memadai. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh asal-usulnya, melainkan oleh kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Belanda, Willem Iskander dihadapkan pada berbagai pilihan untuk meniti karier yang menjanjikan dalam lingkungan pemerintahan kolonial. Dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, ia sesungguhnya memiliki peluang untuk memperoleh jabatan yang lebih mapan dan kehidupan yang lebih nyaman. Namun, ia memilih jalan pengabdian yang berbeda dengan kembali ke Mandailing, daerah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Keputusan tersebut didasari oleh keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bermakna apabila dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang masih tertinggal dalam bidang pendidikan.

Pilihan hidup Willem Iskander menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar profesi untuk mencari penghidupan, melainkan sebuah panggilan moral dan bentuk pengabdian kepada bangsa. Ia meyakini bahwa kemajuan suatu masyarakat hanya dapat dicapai apabila rakyatnya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik. Oleh karena itu, seluruh kemampuan yang diperolehnya selama belajar di Eropa diarahkan untuk membangun sistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi terdidik di Mandailing. Semangat pengabdian inilah yang kemudian menjadikan Willem Iskander dikenang sebagai salah seorang pelopor pendidikan modern yang meletakkan dasar penting bagi kemajuan sumber daya manusia di Nusantara.

Mendirikan Kweekschool Tanobato

Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Willem Iskander adalah pendirian Kweekschool Tanobato pada tahun 1862 di Tanobato, Mandailing. Lembaga ini merupakan sekolah pendidikan guru yang didirikan untuk mempersiapkan tenaga pendidik pribumi yang memiliki pengetahuan, keterampilan mengajar, serta karakter yang baik. Pada masanya, keberadaan sekolah tersebut menjadi sebuah terobosan penting karena merupakan salah satu lembaga pendidikan modern pertama bagi masyarakat pribumi di luar Pulau Jawa. Kehadiran Kweekschool Tanobato menandai dimulainya upaya sistematis untuk membangun kualitas pendidikan melalui pembentukan guru-guru yang profesional dan berwawasan luas.

Keberadaan Kweekschool Tanobato memiliki arti yang sangat strategis dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia. Willem Iskander memahami bahwa keberhasilan suatu sistem pendidikan sangat bergantung pada kualitas para guru yang berada di garis depan proses pembelajaran. Menurut pandangannya, membangun sekolah tanpa menyiapkan tenaga pendidik yang kompeten hanya akan menghasilkan kemajuan yang bersifat sementara. Oleh karena itu, ia lebih memilih mendirikan lembaga yang secara khusus mencetak calon guru, sehingga manfaat pendidikan dapat menyebar secara lebih luas dan berkelanjutan ke berbagai daerah.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa Willem Iskander memiliki visi yang jauh melampaui zamannya. Ia menyadari bahwa seorang guru tidak hanya mendidik puluhan murid dalam satu kelas, tetapi juga membentuk karakter, pola pikir, dan masa depan generasi yang akan datang. Seorang guru yang berkualitas akan melahirkan murid-murid yang cerdas, yang pada gilirannya dapat menjadi guru, pemimpin, maupun tokoh masyarakat di kemudian hari. Dengan demikian, investasi pada pendidikan guru merupakan investasi jangka panjang yang memberikan dampak berlipat ganda bagi kemajuan bangsa.

Konsep pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan guru yang diperjuangkan Willem Iskander tetap relevan hingga saat ini. Berbagai kebijakan pendidikan modern, baik di Indonesia maupun di berbagai negara, masih menempatkan peningkatan kualitas tenaga pendidik sebagai salah satu prioritas utama dalam reformasi pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Willem Iskander telah mendahului zamannya dan sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan kontemporer yang menempatkan guru sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan sosial. Atas dasar itu, Kweekschool Tanobato tidak hanya dapat dipandang sebagai sebuah institusi pendidikan, tetapi juga sebagai simbol lahirnya gagasan besar tentang pentingnya membangun peradaban melalui penguatan kualitas guru.

Pendidikan sebagai Jalan Kemajuan Bangsa

Willem Iskander memandang pendidikan sebagai jalan utama untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sarana membentuk karakter, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Ia meyakini bahwa masyarakat yang terdidik akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta mengambil keputusan secara bijaksana. Oleh karena itu, pendidikan ditempatkannya sebagai fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang maju, mandiri, dan bermartabat.

Menurut Willem Iskander, kemajuan suatu masyarakat tidak dapat dicapai hanya melalui pembangunan infrastruktur atau peningkatan kesejahteraan ekonomi semata. Pembangunan yang sesungguhnya harus diawali dengan pembangunan kualitas manusia sebagai pelaku utama perubahan. Manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan akhlak yang baik akan mampu mengelola sumber daya secara lebih efektif serta menciptakan berbagai inovasi bagi kemajuan masyarakatnya. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa jauh sebelum konsep pembangunan sumber daya manusia menjadi perhatian dunia modern, Willem Iskander telah menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Melalui berbagai karya tulis dan aktivitas pendidikannya, Willem Iskander terus mendorong masyarakat agar menghargai pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bekal kehidupan. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui disiplin, ketekunan, kerja keras, serta kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak sejak usia dini karena merekalah yang akan menentukan masa depan masyarakat. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat Mandailing, gagasan-gagasan tersebut mampu menjangkau kalangan yang lebih luas dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Pemikiran Willem Iskander dapat dikatakan sangat progresif untuk ukuran abad ke-19. Pada masa ketika sebagian besar masyarakat Nusantara masih memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pendidikan formal, ia telah berbicara tentang pentingnya membangun manusia melalui ilmu pengetahuan, karakter, dan etos kerja. Gagasan-gagasannya bahkan memiliki kesesuaian dengan berbagai konsep pendidikan modern yang berkembang pada abad ke-21, seperti pengembangan sumber daya manusia, pembelajaran sepanjang hayat, dan pendidikan karakter. Nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap relevan hingga saat ini, ketika Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama untuk menghadapi tantangan global dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Pelopor Sastra dan Literasi Daerah

Selain dikenal sebagai seorang pendidik, Willem Iskander juga merupakan sastrawan yang memiliki peran penting dalam perkembangan literasi di Mandailing. Ia memanfaatkan kemampuan menulisnya untuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang pendidikan, kehidupan bermasyarakat, dan pentingnya perubahan sosial. Berbeda dengan banyak penulis pada zamannya yang menggunakan bahasa kolonial atau bahasa Melayu, Willem Iskander memilih menulis dalam bahasa Mandailing agar pesan-pesannya dapat dipahami secara luas oleh masyarakat setempat. Pilihan tersebut menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian bahasa daerah sekaligus komitmennya untuk menjadikan sastra sebagai sarana mencerdaskan rakyat.

Melalui kumpulan karya tulisnya, Willem Iskander menjadikan sastra sebagai media pendidikan yang efektif. Ia tidak hanya menyajikan keindahan bahasa, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai moral, etika, dan semangat pembaruan yang dapat menjadi pedoman bagi masyarakat. Tulisan-tulisannya mengajak pembaca untuk menghargai ilmu pengetahuan, membangun kebiasaan hidup disiplin, bekerja keras, serta memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan sosial. Dengan demikian, karya-karyanya tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung fungsi edukatif yang kuat.

Tema-tema yang diangkat Willem Iskander mencerminkan kepeduliannya terhadap masa depan masyarakat Mandailing dan Nusantara secara umum. Ia menulis mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak, penghormatan terhadap orang tua, kecintaan kepada tanah kelahiran, serta perlunya membangun masyarakat yang beradab melalui ilmu pengetahuan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa menurut pandangannya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas melalui interaksi antara guru dan murid, tetapi juga dapat dilakukan melalui bacaan yang membentuk cara berpikir dan karakter masyarakat. Sastra, dalam pandangannya, merupakan salah satu instrumen yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan dan membangun kesadaran sosial.

Warisan literasi yang ditinggalkan Willem Iskander menjadi bukti bahwa ia merupakan seorang intelektual yang mampu memadukan pendidikan, budaya, dan bahasa lokal dalam satu kesatuan pemikiran yang utuh. Ia memahami bahwa kemajuan suatu bangsa tidak cukup hanya dibangun melalui lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui penguatan budaya literasi yang tumbuh di tengah masyarakat. Dengan menjadikan bahasa Mandailing sebagai medium penyampaian gagasan, ia turut berkontribusi dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya khazanah sastra Nusantara. Atas dasar itulah, karya-karya Willem Iskander tidak hanya memiliki nilai historis dan sastra, tetapi juga menjadi warisan intelektual yang memperlihatkan besarnya kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat melalui kekuatan pendidikan dan literasi.

Mengapa Layak Menjadi Pahlawan Nasional?

Pahlawan Nasional tidak selalu identik dengan perjuangan bersenjata atau keterlibatan langsung dalam medan peperangan. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang pengabdian, termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, kesehatan, diplomasi, maupun pemikiran. Negara memberikan penghargaan kepada individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa dan berdampak luas bagi perjalanan bangsa, tanpa membatasi bentuk perjuangannya hanya pada perlawanan fisik terhadap penjajah. Pandangan ini mencerminkan bahwa makna kepahlawanan dalam konteks Indonesia bersifat luas dan mencakup setiap upaya yang secara nyata memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks tersebut, jasa Willem Iskander memiliki relevansi yang sangat kuat. Pertama, ia merupakan pelopor pendidikan modern bagi masyarakat pribumi di Sumatera. Kedua, ia mendirikan lembaga pendidikan guru yang memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan pendidikan di wilayah Sumatera. Ketiga, ia menghasilkan karya-karya pemikiran yang mendorong kemajuan masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Keempat, seluruh pengabdiannya dilakukan jauh sebelum lahirnya gerakan kebangkitan nasional pada awal abad ke-20.

Artinya, Willem Iskander telah menanamkan benih-benih kemajuan bangsa melalui pendidikan pada masa ketika kesadaran nasional Indonesia masih berada dalam tahap awal pembentukannya. Pada pertengahan abad ke-19, identitas sebagai satu bangsa Indonesia belum berkembang sebagaimana yang kemudian dimaknai pada era Kebangkitan Nasional. Masyarakat di berbagai daerah masih lebih mengenal identitas kedaerahan, sementara akses terhadap pendidikan modern bagi kaum pribumi masih sangat terbatas. Dalam situasi seperti itulah Willem Iskander memilih menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk membangun cara berpikir yang lebih maju, terbuka, dan berorientasi pada masa depan.

Momentum Menghargai Warisan Intelektual Bangsa

Pengusulan Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional bukan semata-mata untuk memberikan penghormatan kepada seorang tokoh yang berasal dari Mandailing. Lebih dari itu, langkah ini merupakan bentuk penghargaan negara terhadap kontribusi para pelopor pendidikan yang telah meletakkan dasar-dasar kemajuan bangsa jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan. Pengakuan tersebut juga mencerminkan komitmen untuk menghadirkan sejarah nasional yang lebih utuh dengan memberikan tempat yang layak bagi tokoh-tokoh yang berjasa melalui bidang pendidikan, pemikiran, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selama ini, narasi sejarah nasional sering kali lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh yang berasal dari wilayah tertentu atau yang berperan dalam perjuangan politik dan militer. Padahal, proses pembentukan bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan hasil kontribusi kolektif dari putra-putri terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Setiap wilayah memiliki tokoh yang memberikan sumbangan penting sesuai dengan konteks zamannya, baik melalui pendidikan, kebudayaan, keagamaan, diplomasi, maupun perjuangan sosial. Oleh karena itu, pengakuan terhadap Willem Iskander juga menjadi bagian dari upaya memperkaya perspektif sejarah nasional agar lebih mencerminkan keberagaman kontribusi yang membentuk Indonesia.

Mengangkat Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional berarti memperluas khazanah sejarah bangsa dengan menghadirkan sosok yang membuktikan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan masyarakat. Melalui pendirian Kweekschool Tanobato, karya-karya tulisnya, serta gagasan-gagasan pembaruannya, ia telah menunjukkan bahwa perubahan yang berkelanjutan dimulai dari pembangunan kualitas manusia. Kontribusi tersebut memiliki dampak yang melampaui batas ruang dan waktu karena nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap relevan dalam pembangunan bangsa hingga saat ini. Dengan demikian, jasa Willem Iskander tidak hanya memiliki arti penting bagi Mandailing, tetapi juga bagi sejarah pendidikan Indonesia secara keseluruhan.

Pengakuan terhadap jasa Willem Iskander juga akan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat diwujudkan melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, dan keteladanan, selain melalui perjuangan fisik di medan perang. Sosoknya memperlihatkan bahwa ruang kelas, buku, pena, dan dedikasi seorang guru mampu melahirkan perubahan yang dampaknya bertahan lintas generasi. Atas dasar itu, penetapan Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas jasa masa lalu, tetapi juga investasi moral untuk menanamkan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa kepada generasi masa depan.

Penutup

Willem Iskander telah membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk membangun peradaban. Ia mengabdikan ilmu, tenaga, dan pemikirannya demi mencerdaskan masyarakat pada masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas.

Warisan yang ditinggalkannya bukan hanya sebuah sekolah, melainkan sebuah visi tentang masa depan bangsa: bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui manusia yang terdidik.

Atas jasa-jasa tersebut, pengusulan Willem Iskander sebagai Pahlawan Nasional merupakan ikhtiar yang memiliki landasan historis, akademis, dan moral yang kuat. Penghargaan itu bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pendidiknya.

Sudah saatnya nama Willem Iskander menempati posisi yang semestinya dalam jajaran tokoh besar Indonesia—sebagai pelopor pendidikan modern dari Tanah Mandailing dan salah satu peletak fondasi kemajuan bangsa melalui ilmu pengetahuan.

Rabu, 20 Mei 2026

Sebuah Amanah di Tengah Keluarga Besar Ikanas Mandailing Natal

Tanggal 19 Mei 2026 kemarin menjadi salah satu hari yang cukup berkesan bagi saya dalam perjalanan berorganisasi di lingkungan keluarga besar IKANAS Kabupaten Mandailing Natal. Pada hari itu, kami berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk membahas berbagai persiapan menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Khusus IKANAS Kabupaten Mandailing Natal, termasuk agenda pemilihan ketua panitia pelaksana.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh nuansa persaudaraan. Saya melihat bagaimana semangat silaturahmi masih begitu kuat di tengah keluarga besar IKANAS. Banyak tokoh, senior, dan rekan-rekan hadir memberikan pandangan serta masukan demi terselenggaranya muscab yang baik dan bermartabat. Diskusi berjalan dengan cukup dinamis, tetapi tetap dalam suasana yang sejuk dan saling menghargai.

Di tengah proses musyawarah tersebut, saya menerima amanah dan kepercayaan sebagai Ketua Panitia Muscab DPC Khusus IKANAS Kabupaten Mandailing Natal. Bagi saya pribadi, amanah ini bukan sekadar jabatan kepanitiaan, melainkan bentuk kepercayaan yang harus dijaga dengan kerja, tanggung jawab, dan komitmen bersama.

Saya menyadari bahwa tugas ini tentu tidak ringan. Muscab bukan hanya agenda administratif organisasi, tetapi juga momentum penting untuk mempererat hubungan kekeluargaan, memperkuat persatuan, serta menentukan arah organisasi ke depan. Karena itu, sejak awal saya merasa bahwa kepanitiaan ini harus dibangun dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Dalam diskusi awal bersama rekan-rekan panitia dan pengurus, kami mulai membicarakan beberapa langkah persiapan yang akan segera dilakukan. Mulai dari penyusunan struktur panitia, pembagian tugas, koordinasi dengan para senior dan pengurus IKANAS, hingga persiapan teknis pelaksanaan muscab nantinya. Selain itu, kami juga ingin memastikan bahwa proses muscab berjalan secara tertib, terbuka, demokratis, dan tetap menjunjung tinggi nilai kekeluargaan yang selama ini menjadi ciri khas IKANAS.

Bagi saya, organisasi seperti IKANAS memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada sekadar wadah formal. Ia adalah ruang silaturahmi, ruang belajar, sekaligus tempat menjaga identitas budaya dan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat Mandailing Natal. Karena itu, muscab ini semoga tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga menghadirkan semangat baru untuk memperkuat organisasi agar lebih bermanfaat bagi keluarga besar Nasution dan masyarakat secara luas.

Saya pribadi berharap seluruh rangkaian persiapan hingga pelaksanaan muscab nantinya dapat berjalan lancar. Tentu hal itu tidak mungkin tercapai tanpa dukungan, doa, serta partisipasi seluruh anggota dan keluarga besar IKANAS Kabupaten Mandailing Natal.

Semoga setiap langkah yang sedang dipersiapkan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga persaudaraan, memperkuat silaturahmi, dan membawa organisasi ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Sabtu, 04 April 2026

Universitas Barat dan Kembalinya Perhatian pada Ilmu Lokal

Selama ini banyak orang mengira universitas-universitas di Barat hanya mengakui sains modern dan memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno atau tidak ilmiah. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam beberapa dekade terakhir, justru semakin banyak kampus besar di Barat yang memberi perhatian serius pada pengetahuan lokal, budaya tradisional, bahasa daerah, hingga sistem pengetahuan masyarakat adat.

Di dunia akademik modern, hal-hal seperti itu dipelajari dalam berbagai bidang seperti antropologi, sejarah budaya, linguistik, Indigenous Studies, folklore, hingga studi lingkungan. Pengetahuan lokal tidak selalu dianggap bertentangan dengan sains modern. Banyak akademisi melihatnya sebagai bagian penting dari pengalaman manusia: warisan budaya, sistem adaptasi terhadap alam, sekaligus identitas suatu masyarakat.

Yang biasanya menjadi pembeda adalah soal metode. Universitas modern tetap membedakan antara pengetahuan yang dipelajari sebagai warisan budaya dengan pengetahuan yang diklaim sebagai “sains universal”. Karena itu, tradisi lokal dipelajari dengan serius, tetapi tetap melalui pendekatan kritis dan ilmiah.

Beberapa universitas besar bahkan memiliki tradisi panjang dalam kajian seperti ini.

Di Harvard University misalnya, ada banyak penelitian tentang masyarakat adat, agama tradisional, hingga dokumentasi bahasa-bahasa yang terancam punah. Fakultas antropologinya banyak meneliti pengetahuan lokal masyarakat Amazon, Afrika, dan Asia.

Sementara University of Oxford dikenal kuat dalam studi antropologi budaya, hukum adat, folklore, dan sistem sosial masyarakat tradisional. Banyak penelitian mereka membahas ritual lokal, sistem kekerabatan, hingga pengetahuan pertanian tradisional.

Hal serupa juga berkembang di University of Cambridge yang aktif mengkaji hubungan antara kolonialisme dan pengabaian terhadap pengetahuan lokal masyarakat jajahan.

Di Amerika Utara, University of California, Berkeley terkenal dalam penelitian bahasa-bahasa pribumi dan “Traditional Ecological Knowledge” (TEK), yaitu pengetahuan ekologis masyarakat adat yang diwariskan turun-temurun.

Sedangkan di Kanada, University of British Columbia memiliki program Indigenous Studies yang cukup kuat, termasuk kajian hukum adat dan kesehatan berbasis budaya lokal.

Di Australia, Australian National University juga aktif meneliti masyarakat Aborigin, kosmologi lokal, bahasa adat, dan hubungan tradisi dengan ekologi.

Menariknya, banyak pengetahuan lokal kini justru dipakai dalam kajian modern. Misalnya dalam pengelolaan lingkungan. Teknik membaca cuaca, pola tanam tradisional, pengelolaan air, hingga cara masyarakat adat menjaga hutan mulai dipelajari kembali karena dianggap memiliki nilai praktis dalam menghadapi krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Salah satu contoh terkenal adalah praktik pembakaran hutan tradisional masyarakat Aborigin Australia yang ternyata efektif membantu mencegah kebakaran besar. Pengetahuan seperti ini sekarang tidak lagi dipandang sekadar “tradisi”, tetapi juga sumber pengalaman ekologis yang berharga.

Hal yang sama terjadi pada pengobatan tradisional. Banyak universitas Barat meneliti herbal Cina, Ayurveda India, tanaman obat Amazon, bahkan jamu Nusantara. Namun semuanya diuji melalui metode ilmiah seperti farmakologi, toksikologi, dan uji klinis. Jadi bukan diterima mentah-mentah, melainkan dipelajari secara sistematis.

Bahasa dan sastra lokal juga mendapat perhatian besar. Banyak kampus memiliki pusat studi bahasa-bahasa minoritas dan manuskrip tradisional karena bahasa dianggap menyimpan cara berpikir suatu peradaban.

Perubahan sikap ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya.

Pertama, perkembangan akademik modern sendiri yang mulai melihat pengetahuan manusia sebagai sesuatu yang beragam. Kedua, muncul kritik terhadap kolonialisme. Banyak akademisi Barat mulai menyadari bahwa pada masa lalu budaya lokal sering dianggap “primitif” hanya karena tidak sesuai dengan standar Eropa.

Selain itu, ada juga semacam kritik terhadap modernitas. Sebagian ilmuwan melihat masyarakat modern mulai kehilangan hubungan dengan alam, solidaritas komunitas, dan kebijaksanaan hidup tradisional. Karena itu, pengetahuan lokal kembali dipandang penting untuk dipelajari.

Namun tentu saja ada batasnya. Universitas modern tetap membedakan antara sesuatu yang dipelajari sebagai budaya dengan sesuatu yang diterima sebagai kebenaran ilmiah universal. Mitologi, ritual, dan kepercayaan spiritual bisa dipelajari secara serius dalam humaniora dan antropologi, tetapi tidak otomatis dianggap sains. Begitu pula obat tradisional atau pengetahuan cuaca lokal tetap perlu diverifikasi secara ilmiah.

Karena itu pendekatan yang berkembang sekarang sebenarnya cukup menarik: budaya lokal tidak lagi diremehkan, tetapi juga tidak diterima tanpa kritik.

Dalam perkembangan terbaru bahkan muncul istilah-istilah seperti Indigenous Knowledge, Postcolonial Studies, Decolonial Studies, hingga Epistemologies of the South. Tokoh-tokoh seperti Edward Said, Clifford Geertz, dan Boaventura de Sousa Santos banyak memengaruhi cara baru dunia akademik memandang ilmu dan budaya lokal.

Bagi saya pribadi, perkembangan ini menarik untuk direnungkan, terutama bagi organisasi-organisasi kultural daerah seperti Ikanas atau komunitas adat lainnya. Di tengah arus modernisasi, budaya lokal ternyata bukan sekadar nostalgia masa lalu. Ia bisa menjadi sumber identitas, pengetahuan, bahkan bahan refleksi bagi dunia modern itu sendiri.

Minggu, 04 Mei 2025

Lumpur Panas dari Roburan Dolok: Catatan Kecil dari Pinggir Bencana

Akhir April 2025 itu terasa jauh lebih panas dari biasanya. Di Roburan Dolok, sebuah desa yang tampak tenang di lereng Panyabungan Selatan, bumi tiba-tiba membuka napasnya. Pada awalnya hanya satu titik lumpur panas, dikelilingi pagar seadanya oleh warga yang masih bingung apakah harus takut atau cukup berhati-hati. Namun beberapa hari kemudian, titik itu bertambah. Lalu bertambah lagi. Hingga pada laporan terakhir dari BNPB, ada 15 titik semburan yang aktif.

Sebagian orang menyebutnya “fenomena alam”. Sebagian lain bertanya pelan: alam yang mana? Yang murni natural, atau alam yang sudah kita ganggu berpuluh tahun?

Saya mengunjungi lokasi itu pada suatu pagi. Tidak ada suara keras seperti ledakan, tidak ada teater bencana yang dramatis. Yang ada hanyalah diam yang berbahaya: tanah yang mendesis, lumpur yang pelan tapi pasti merembes dari perut bumi, tumbuhan yang mati di sekitarnya, dan bau gas samar yang menusuk hidung. Di antara titik-titik semburan itu, saya melihat satu icu kecil: selembar daun pisang yang layu, warnanya kecoklatan, seperti terbakar dari bawah.

Narasi tentang bencana di daerah ini selalu berayun antara dua ekstrem: ketakutan dan kebiasaan. Kita takut — tentu saja. Tapi kita juga terbiasa. Gunung di sini hidup; bumi ini tidak pernah betul-betul tenang. Namun justru karena terbiasa itulah kita sering menunda pertanyaan penting.

Saya bertanya kepada diri sendiri:
Mengapa semburan itu muncul sekarang?
Apa yang berubah?
Dan siapa yang mengambil risiko terbesar?

Warga memberi jawaban sederhana:

“Kami hanya ingin hidup dengan aman, bertani, membesarkan anak.”

Tetapi wilayah ini tidak steril dari aktivitas industri. Ada pengeboran panas bumi, ada eksplorasi, ada pembangunan. Tidak semua semburan harus disalahkan pada proyek-proyek itu — tapi tidak juga bijak jika kita berpura-pura bahwa keduanya tidak saling bersentuhan.

Yang saya lihat dari dekat bukan hanya lumpur yang keluar dari tanah. Saya melihat kecemasan yang keluar dari wajah-wajah orang kampung. Mereka menghitung jarak rumah, mengukur arah angin, menebak apa yang akan terjadi jika salah satu titik semburan membesar.

Sementara itu, laporan teknis terus disusun. Ahli geologi berbicara dengan bahasa yang tenang. Birokrat mengeluarkan siaran pers. Ada rapat-rapat, ada survei, ada drone yang terbang di atas ladang.

Namun di bawah itu semua, ada pertanyaan moral:
Siapa yang bertanggung jawab menjaga yang rapuh?

Dalam banyak peristiwa di Mandailing Natal, saya melihat pola yang sama:

  • Bencana muncul,

  • perhatian datang,

  • bantuan turun,

  • lalu semuanya perlahan dilupakan.

Tetapi lumpur panas adalah pengingat bahwa bumi punya memori lebih panjang dari manusia. Yang hari ini berupa semburan kecil, esok bisa menjadi pergeseran besar. Di daerah yang hidup di antara gunung dan sungai, bencana bukan sekadar kejadian — ia adalah dialog yang belum selesai.

Ketika saya meninggalkan Roburan Dolok sore hari itu, matahari terang benderang. Dari jauh, tanah yang bergolak hampir tak terlihat. Desa tampak biasa saja. Anak-anak berlari di halaman, sapi merumput, dan asap dapur naik dari rumah-rumah. Tetapi di bawah tanah, sesuatu terus bergerak.

Dan dalam pikiran saya, hanya ada satu kalimat yang mengganggu:

“Kalau alam sudah berbicara, apakah kita siap mendengarkan?”

Kamis, 13 Februari 2025

Diari Politik: Sidang PHPU Pilkada Madina 2025

Hari ini, 13 Februari 2025, menjadi salah satu hari yang menegangkan dalam perjalanan demokrasi di Mandailing Natal. Aku mengikuti siaran langsung dari Mahkamah Konstitusi di Jakarta, tempat berlangsungnya sidang lanjutan sengketa hasil Pilkada Bupati Mandailing Natal. Rasanya campur aduk—antara harap, cemas, dan penasaran.

Pasangan calon nomor urut 01, Harun Mustafa Nasution dan M. Ichwan Husein NST, menggugat hasil Pilkada. Mereka menyoroti persoalan LHKPN yang diserahkan oleh lawan mereka—pasangan nomor urut 02, Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi—yang katanya terlambat. Sebuah hal yang bisa jadi sangat teknis, tapi dalam kontestasi politik, bisa berubah menjadi sangat strategis.

Di ruang sidang MK, argumen dan sanggahan saling bersahutan. Tim hukum dari kedua belah pihak mencoba membuktikan kebenaran dari sudut pandang masing-masing. Tapi yang paling ditunggu-tunggu adalah suara palu hakim konstitusi. Dan akhirnya, putusan dibacakan: MK menolak gugatan pasangan 01. Mereka menyatakan bahwa penyerahan LHKPN oleh pasangan 02 sudah sesuai aturan, dan tidak ada pelanggaran substansial dalam proses pencalonan.

Aku menutup laptop dengan pelan. Di balik segala hiruk pikuk dan strategi, ternyata demokrasi masih berjalan lewat jalurnya. Kadang tak memuaskan semua pihak, tapi tetap menjadi jalan tengah yang sahih dalam menyelesaikan sengketa. Bagi rakyat seperti aku, semoga ini bukan sekadar soal siapa menang dan kalah, tapi tentang memastikan bahwa proses tetap adil dan bermartabat.

Hari ini, politik terasa begitu nyata. Bukan sekadar spanduk dan orasi, tapi tentang kepercayaan dan hukum yang sedang diuji. 

Sabtu, 05 Oktober 2024

Mengapa Pasangan Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution Layak Menjadi Bupati & Wakil Bupati Mandailing Natal 2024-2029?

Pasangan Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution muncul sebagai salah satu kandidat terkuat untuk memimpin Mandailing Natal dalam periode 2024-2029. Dengan visi yang jelas, pengalaman yang matang, serta komitmen yang tinggi, pasangan ini diyakini mampu membawa perubahan positif bagi daerah. Berikut adalah beberapa alasan mengapa mereka layak mendapatkan dukungan masyarakat.

1. Kepemimpinan yang Berpengalaman

Saipullah Nasution dan Atika Azmi memiliki rekam jejak kepemimpinan yang tidak diragukan lagi. Dengan pengalaman mereka di berbagai sektor, pasangan ini memiliki pemahaman yang mendalam tentang tata kelola pemerintahan serta kebutuhan masyarakat Mandailing Natal. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam memimpin daerah.

2. Komitmen terhadap Pembangunan Daerah

Pasangan ini memiliki komitmen kuat untuk memajukan Mandailing Natal, khususnya di bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan lapangan kerja. Mereka memahami bahwa pembangunan yang merata adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

3. Dekat dengan Rakyat melalui Pendekatan Partisipatif

Saipullah dan Atika selalu dikenal dekat dengan rakyat. Mereka sering terjun langsung ke lapangan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dan merumuskan kebijakan berdasarkan kebutuhan nyata di tengah masyarakat. Pendekatan yang humanis ini menjadikan mereka pemimpin yang tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi benar-benar memahami kondisi di lapangan.

4. Visi Ekonomi Kerakyatan

Pasangan ini membawa visi ekonomi kerakyatan yang menitikberatkan pada pemberdayaan sektor UMKM, pertanian, dan perikanan—tulang punggung ekonomi Mandailing Natal. Dengan strategi yang terukur, mereka berkomitmen menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.

5. Kredibilitas dan Integritas

Dalam dunia politik, kredibilitas dan integritas adalah hal yang sangat penting. Pasangan ini memiliki rekam jejak bersih serta komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas. Hal ini menjadikan mereka sosok pemimpin yang dapat dipercaya untuk membawa perubahan tanpa adanya kepentingan pribadi yang mendominasi.

6. Program Nyata untuk Masa Depan Berkelanjutan

Saipullah dan Atika juga memiliki perhatian besar terhadap keberlanjutan, baik dari segi lingkungan, pendidikan, maupun teknologi. Mereka berkomitmen menghadirkan program-program yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan agar Mandailing Natal mampu bersaing di era modern.

7. Prioritas pada Pendidikan dan Kesehatan

Pendidikan dan kesehatan menjadi salah satu fokus utama pasangan ini. Dengan meningkatkan akses serta kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, mereka berusaha memastikan setiap warga Mandailing Natal mendapatkan hak-hak dasarnya dengan layak. Anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang memadai, sementara masyarakat memiliki akses ke layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan berkualitas.

Dengan semua visi, misi, dan komitmen yang mereka miliki, pasangan Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution membawa harapan baru bagi Mandailing Natal. Mereka menawarkan solusi nyata untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat sekaligus membawa daerah ini ke arah yang lebih maju dan sejahtera.


Sabtu, 10 Februari 2024

Melestarikan Warisan Budaya Melalui Pengembangan Wisata Bersejarah di Kabupaten Mandailing Natal


Kabupaten Mandailing Natal, yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia, kaya akan warisan budaya yang meliputi berbagai etnis, tradisi, dan sejarah yang berharga. Salah satu cara untuk melestarikan warisan ini adalah melalui pengembangan wisata di situs-situs bersejarah yang terkait dengan adat budaya masyarakat setempat. Dengan melibatkan partisipasi aktif warga setempat, upaya ini dapat menjadi motor penggerak dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya lokal.

1. Identifikasi dan Pelestarian Situs Bersejarah

Pertama-tama, penting untuk mengidentifikasi situs-situs bersejarah yang memiliki nilai budaya yang tinggi dan perlu dilestarikan. Ini bisa meliputi bangunan-bangunan kuno, situs arkeologi, atau tempat-tempat yang memiliki makna historis dalam tradisi lokal. Upaya pelestarian seperti konservasi bangunan, penelitian sejarah, dan dokumentasi menjadi langkah awal yang penting.

2. Pengembangan Wisata Bersejarah

Setelah situs-situs bersejarah teridentifikasi, langkah berikutnya adalah mengembangkan potensi wisata di sekitar lokasi tersebut. Ini dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas pendukung, seperti papan informasi, jalur wisata, dan tempat parkir yang nyaman bagi pengunjung. Program tur bersejarah yang disertai dengan pemandu lokal dapat memberikan pengalaman yang mendalam bagi wisatawan.

3. Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Partisipasi aktif masyarakat setempat sangat penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan wisata bersejarah. Mereka dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemeliharaan situs, menjadi pemandu wisata, hingga menyediakan produk dan jasa pendukung pariwisata. Melalui pelatihan dan pendampingan, warga dapat meningkatkan keterampilan mereka serta mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari aktivitas pariwisata.

4. Edukasi dan Kesadaran Budaya

Pengembangan wisata bersejarah juga harus didukung oleh program-program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Ini bisa dilakukan melalui workshop, seminar, dan kegiatan sosial lainnya yang melibatkan masyarakat lokal, pelajar, dan wisatawan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang nilai budaya, diharapkan akan muncul komitmen yang lebih kuat dalam menjaga warisan tersebut.

5. Kolaborasi dengan Pihak Terkait

Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga budaya, dunia usaha, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga sangat penting dalam memperkuat upaya pelestarian dan pengembangan wisata bersejarah. Sinergi antara berbagai pihak dapat menghasilkan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dalam mempromosikan warisan budaya Kabupaten Mandailing Natal.

Pengembangan wisata bersejarah yang melibatkan partisipasi warga setempat bukan hanya tentang melestarikan warisan budaya, tetapi juga tentang menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat lokal. Dengan upaya yang terus menerus dan kolaborasi yang solid, Kabupaten Mandailing Natal memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata bersejarah yang terkenal tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga internasional.

Jumat, 11 Juni 2021

Bondar ngada Gadu


Bondar baya ngada gadu
Naisuan di rodang-rodang
Pala bonggal baya ngada lalu
Ngada tartontang mata ni dongan..

Bondar baya ngada gadu
Panyiborangan ni siri-siri
Pala bonggal baya ngada lalu
Tudia doma au mambuang diri..

Jumat, 25 September 2020

Malamun Lasiak Rata



malamun lasiak rata..

naioban tu parjagalanan..

malungun manyiak do ulala..

Patunda ni dongan saparmayaman..

Senin, 15 Juni 2020

Ikan Cucut di Kayu Laut


Keta dik e manjalai ikan cucut..

Manjalaina sampe tu kayulaut..

Ulang be adik dabo buncut..

Bope baut tai nida les imut..

 

Pala kehe tu kayulaut..

Mangan ita dot ingkayu nairepus..

Ulang ho adik be buncut..

Takok usibit jolo upulos marpelus..

 

Aso aso dapot di kayulaut..

Ima ibaen jadi pangaronca..

Aso pe antong ho angkon nabuncut..

Na so do iba ison mambaca baca..

 

Nga uboto sayurmatinggi..

Tu sidimpuan ido boluson..

Nga mangua be anggi i..

Buncut maho abiskon sabornginon..

 

Bope anggi naso marbaut..

Padati i totop do marroda..

Bope songon ikan cucut..

Les totop doho imut uida..

 

(Panyabungan, 14/06/20 22.29)

Sabtu, 30 Mei 2020

Mikimmu Mambaen Au Pingsan

Hum tu hutabangun dope bolusonku..

Madung sosak ulala tu sidimpuan..

Hum mikim pe ho dosar taroktokku..

Mur ma tata ho aropku aupe pingsan..


(Panyabungan, 30/05/20 08.02)

Minggu, 05 Februari 2012

Fungsionaris Pemerintahan Tradisional Mandailing


Pada masa dahulu di Mandailing terdapat suatu bentuk pemerintahan tradisional yang memiliki banyak fungsionaris. Masing-masing fungsionaris itu menjalankan tugasnya untuk memelihara dan membina masyarakat yang rukun, aman, tenteram, arif, bijaksana, dan sejahtera lahir dan batin.

Adapun fungsionaris-fungsionaris pemerintahan tradisional tersebut adalah sebagai berikut.

1. Raja Panusunan Bulung (kepala adat, kepala pemerintahan),
2. Imbang Raja (wakil Raja Panusunan Bulung),
3. Jombeng Raja (sepadan Mangkubumi kalau di Jawa),
4. Pangkalbiri (sekretaris),
5. Mutia Raja (bendahara),
6. Suhut Raja (juru bicara),
7. Martua Raja (panglima perang),
8. Orang Kaya Bayo-Bayo (penanggung jawab urusan generasi muda),
9. Malim Maulana (datu pangubati, tabib),
10. Manjuang Kato (wartawan),
11. Tungkot Raja (ajudan raja),
12. Goruk-Goruk Hapinis (penjaga dan pemelihara ketertiban),
13. Imbang Lelo (penasihat),
14. Barita Raja (penyiasat, intelijen),
15. Tongku Imom (penanggung jawab urusan keagamaan),
16. Panto Raja (ahli sejarah, sastera, parturi),
17. Sialang Raja (jaksa),
18. Khotib Maraja (juru penerang),
19. Manyusun Dagang (pengawas, pembina penduduk pendatang)
20. Gading Raja (penanggung jawab urusan luar kampung)
21. Gading Na Poso (wakil gading raja),
22. Paima Raja (ketua delegasi, juru runding),
23. Mangkampi Raja (hakim ketua),
24. Kahanggi Ni Raja (pengawas kelompok masyarakat),
25. Satia Raja (golongan hulubalang).

Sumber: Greget Tuanku Rao, Basyral Hamidy Harahap (2007).

Rabu, 29 September 2010

Tangis Mon-monon

sian kotanopan lalu tu pastap
oban silua baen lehenon
saputangan baya madung tap-tap
patunda ni tangis marcapur mon-mon

(Tangis ni namarun do daon, mancit ulu sampe marilu, marcampur mon mon muse.. ngada baen nasedih sanga mangua koum..)

Senin, 30 Agustus 2010

Saludang Madabu tu Aek Mata

Madabu mada saludang.
Namadabu tu aek mata.
Ulang mada anggi marsianyang.
Hara ni hodo ippol ni mata.

Molo lindot ko dipau.
Tolong gargari garang gariang.
Molo giotko anggi di au.
Tolong sapai damang dainang.

Aek su ulak ulak
Na marmuara tu Gunung barani
Anso ro pe hami mar ulak ulak
Nagiot iado sapahan nami.

Hodong naso hindot.
Rere ho tumalpok pau.
Hodo anggi naso giot.
Kehe ho tinggalkon au

Sopo gopak-gopak.
Pasaran ni tampua.
Padiar ona dopak.
Asal dapot boru ni katua

Minggu, 07 Februari 2010

Pulo Jawa Pulo Sumatera

pulo jawa pulo sumatera..
selat sunda baya mangolatna..
malungun muse ma baya ulala..
pasampe solom ma jolo dohot tona.. (AMN)

dalan lidang panyabungan
di tonga nai pidoli lombang
anggo memang mdg nalungunan
putarma logu onang-onang ...(hans lbs)

jambatan mada ninna ale di pidoli an.....
ibolus dalan lidang baya lalu tu aek godang..
songonon ma boto ulala ma nalungunan..
martona ma baya tu unggas da na habang.. (AMN)

Pulau jawa abang topotna di sunda.
Bahat gadis abang namanis-manis.
Anggo lungun nasangat diroha.
Ligima abang gambarki namanis....(DRN)

alak huraba markobun botik..
di pidoli lalu batang gadis..
murak do baya ulala sotik..
pala uligi gambarmi namanis..... (AMN)

Facebook, Februari 2010

Kamis, 14 Januari 2010

Oli-oli di Ola-ola

Adong oli-oli ni gulaen, 
Nasangkot ulala di ola-ola.. 
Antong jogina ho anggi napaten, 
Ro ulala baya giot tergila-gila..

Jumat, 01 Januari 2010

Palagak-lagakkon

mardalan au pupu longang..
lao manjalai parjagal lomang..
kabarna sehat inda nian ronyang..
mur malagak ulala nga mangido urang..

bope dao dabo manden..
hutantai leng ningot do marpupu..
ison ma ita marbalas commen..
ulang nian jabat maraburan ilu muyu..

indu baya pau ison muse aluo..
rap ioban alak laos tu lombang..
inda hum au, hope songoni juo..
rap lagakta nga mangido urang.....

Potang ni ari udan nadoras..
Ari ngali bitua pe male..
Por roha namilas-milas..
Mangan minum laos manangion ende..

Lagakna lalana nga mangido urang..
Tu jae tu julu leng napupu longang..
Dolok tu lombang kecek badongkang..
Nga pe simpang madung targompang..

Molo mangan pake ancimun,
Namaloi dongan marpantun.

Buah kedong-dong di tarimbaru,
sar-sar dong-dong niadaboru.

(patunda ni pantunmu lae)

Kupiah lobe sangkot di bulu, tola dope dot marguru?

Jaka sembung pergi mandehe, manyambundo ido ho lae?

molo mangan pake ancimun..
ulang lupa 'kang pake lasiak..
malo naso malo marpantun..
uparbaeni soni bope maturapak..

pala kupiah lobe sangkot di bulu..
palan-palan angkang baen mambuatna..
aropku angkang do napade ami parguru..
pantun ni angkang nasantak dabo patenna..

jaka sembung lopus mandehe..
manyambung naso manyambung pokokna torus kehe..

Pala ube donganna parcak,
Pake rimbang namacom dot balanak.
Imada ubege songon namaturapak,
Usangka lae hamu nasom2 tu andang nialak.....

Molo lobe tibalanna di ulu,
Simpang tu jae baya mangamun.
Ulang lae baen au guru,
Naso malo do au marpantun.

Ikan kembung di asom padeh, bope somanyambung asal les kehe..

rimbang ibaen donganni parcak,
mur matabo dung ro balanak.
targompang au ima so maturapak..
baen longangna mangida alak..

pala manyimpang tu siamun..
oban silua 'kang jami ancimun..
pupu ning angkang naso malo marpantun..
paten-paten doma bo marroan marsusun..

baen sayur marrimbang, ima dongan ni asom podeh..
patogu sarusur angkang, so ke ita kehe..
Tabo namangan pake bolgang,
Bulung ni pisang jadi amparan.

Molo mardalan ulang lae longang,
Tokok tu tiang annon obaran....
(marbutul naron boi sapining..hahaha)

sidung mangan ancimun..
di nalao mangan mar asom podeh
pantun tu pantun ibaen marsusun..
kaji sabornginon madung lopeh..

Minggu, 27 Desember 2009

Songon Siala Sampagul

Songon siala na sampagul, rap tu ginjang rap tu toru. Muda malamun saulak lalu, muda magulang rap margulu. 

Sahata saoloan, na sapangambe sapanaili. Satahi dohot dongan, maroban sonang pangarohai. 

Muda sabara asa sabustak, asa salumpat saindege boti sapangambe sapanili. Hasonangan na so unjung mantak, bo baritana sai tarbege. 

Muda manyuruk rap unduk, muda mangambur rap gas. 

Lambok bulung ni eme, na lambok marluyun-luyun. Lambok lidung binege, i ma dalan marhalalungun.

Tando batu ni pangkat, lomlom gorsing songon simbora. Tandona hita na sapokat, bulung botik mardai mera. 

Holong do mangalap holong. Antusanna, muda holong rohaniba di dongan, tauken holong ma roha ni dongan di iba. Hara ni i inda tola iba mantak patidahon holong ni roha i tu dongan, anso di hatihana muse manjagit iba hadengganan sian dongan. 

Muda pahae simanggurak, pahulu sitimpulon, antusanna muda nibaen na denggan tu dongan, laing na denggan ma jagiton balosna. 

Mata guru roha sisean. Umpama on nidok ma i tu halak anso sai ra ia maniru na denggan di pangalaho na niidana sian dongan.

Muda jongjong di na tigor batu mamak di andora. 

Pantun hangoluan, teas hamatean. 

Patar songon indahan di balanga. 

Rukrek parau mambaen tu rapotna. 

Sada do martoktok hite, sude markitehonsa. 

Sada huat tu jolo, dua huat tu pudi. 

Sadao-dao ni obok-obok ujungna laing madabu tu tano. 

Talu do gogo dibaen bisuk. 

Tubu dingin-dingin, di toru ni andomang. Horas tondi madingin, sian menek lopus magodang.


Selasa, 22 Desember 2009

Mandurung di Pau

Pala mandurung ko baya di pau..
Tampulkon ma da simardulang-dulang..
Pala malungun ko baya di au..
Tatap ma da rumondang bulan..

habang baya dao-dao..
nasonggop marihot-uhot..
jarupe baya da napadao-dao..
anggo ho totop do hupaingot-ingot..

Mandurung baya di paya goti,,
Arerang pe so marisi lelan.
Malungun pe iba baya tu Bayo Suti,,
si Rumondang pe so marsuo Bulan

mandurung bayo na thangkang..
na manjalai arerang dohot lelan..
sibukna gale marcampur ronyang..
patunda ni naso marsuo bulan..

Bia mada silehenon,
Buah kapundung margala-gala,
Bia male baenon,
Madung nasib si bayo panjala..