Kumpulan aksara sebagai jejak perjalanan menembus ruang dan waktu dalam mengeksplorasi diri dan dunia.
Rabu, 18 Juni 2008
Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Minggu, 08 Juni 2008
Sejarah Kerajaan Hindu-Buddha
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, dari mana asal identitas bangsa ini, dan bagaimana peradaban yang pernah berdiri mempengaruhi cara kita hidup hari ini. Dari berbagai babak sejarah Nusantara, periode kerajaan Hindu–Buddha selalu menjadi salah satu yang paling memikat bagi saya. Bukan hanya karena kejayaannya, tetapi karena warisan intelektual, budaya, dan nilai-nilai yang masih terasa hingga kini.
Awal Peradaban Hindu–Buddha di Nusantara
Masuknya pengaruh Hindu–Buddha ke kepulauan Indonesia bukanlah proses paksaan, melainkan interaksi panjang antara pedagang India dan masyarakat lokal sejak abad pertama Masehi. Dari pertukaran dagang, muncul pertukaran gagasan—tentang religi, filsafat, sastra, hingga tata kelola pemerintahan. Di sinilah Nusantara mulai mengenal konsep kerajaan, hierarki sosial, dan administrasi politik yang lebih terstruktur.
Kerajaan pertama yang mendapat catatan sejarah adalah Kutai Martadipura di Kalimantan Timur, dengan prasasti Yupa yang memuat nama Raja Mulawarman. Dari sini, kita melihat bahwa bangsa kita sejak awal sudah mampu menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitasnya.
Masa Kejayaan: Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit
Tidak bisa dipungkiri bahwa puncak kejayaan Hindu–Buddha tercermin pada dua kerajaan besar: Sriwijaya dan Majapahit.
-
Sriwijaya, dengan pusatnya di Sumatera, menjadi kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan internasional. Namun di balik kejayaan ekonominya, Sriwijaya juga berkembang menjadi pusat pembelajaran Buddha berkelas dunia. Catatan I-Tsing menunjukkan bahwa banyak pelajar dari Asia datang ke Nusantara untuk belajar agama, bahasa, dan filsafat.
-
Majapahit, di sisi lain, melambangkan era konsolidasi politik dan budaya. Dibawah Gajah Mada, Indonesia mencapai penyatuan wilayah terluas dalam sejarahnya. Bukan hanya itu, Majapahit melahirkan karya-karya monumental seperti Nagarakretagama dan Sutasoma, karya yang kelak memberi kita semboyan Bhinneka Tunggal Ika—sebuah prinsip persatuan yang masih relevan hingga hari ini.
Pengaruh Hindu–Buddha dalam Kehidupan Indonesia Modern
Ketika menelusuri jejak sejarah itu, saya semakin yakin bahwa pengaruh Hindu–Buddha tidak berhenti pada masa lalu. Ia meresap hingga ke kehidupan kita hari ini—baik disadari maupun tidak.
-
Sistem pemerintahan dan konsepsi raja/negara dalam tradisi Nusantara banyak dipengaruhi oleh pola kerajaan Hindu-Buddha.
-
Bahasa Sanskerta menyumbang banyak istilah penting seperti desa, manusia, bahagia, agama, pustaka, raja, hingga nama bulan dalam kalender nasional.
-
Arsitektur dan seni masih terlihat dalam bentuk candi, motif batik, tarian, dan simbol-simbol kerajaan.
-
Bahkan nilai-nilai seperti toleransi, harmoni, dan persatuan dalam keberagaman merupakan warisan intelektual yang lahir dari interaksi budaya panjang di masa tersebut.
Sebagai seseorang yang menggemari sejarah, saya merasa bahwa memahami periode Hindu–Buddha tidak hanya membantu kita mengenali jati diri bangsa, tetapi juga mengajarkan bagaimana leluhur kita mampu merangkul perubahan tanpa kehilangan karakter lokal. Mereka menerima pengaruh luar, mengolahnya, dan menjadikannya bagian dari kebudayaan Nusantara—sebuah sikap bijak yang tetap relevan di tengah derasnya modernisasi zaman ini.
Mengapa Sejarah Ini Penting Bagi Saya?
Menengok kembali sejarah Hindu–Buddha membuat saya selalu teringat bahwa Indonesia adalah hasil dari proses panjang perjumpaan budaya. Periode ini menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang pasif, melainkan bangsa kreatif yang mampu berdialog, mengolah gagasan, dan membentuk peradaban sendiri.
Ketika melihat candi, membaca prasasti, atau mempelajari sistem kerajaan kuno, saya merasakan semacam “hubungan batin” dengan masa lalu—seakan kembali kepada akar yang memberi kekuatan bagi karakter bangsa kita hari ini.
Sejarah Hindu–Buddha bukan sekadar cerita kejayaan, melainkan fondasi yang membentuk cara berpikir, berbudaya, dan hidup sebagai bangsa Indonesia. Dan bagi saya pribadi, memahami sejarah ini seperti menyusun kepingan jati diri, satu per satu.
Minggu, 01 Juni 2008
Sistem Hukum
Sabtu, 17 Mei 2008
Sosiologi Hukum
Kamis, 08 Mei 2008
Sejarah (Awal) Indonesia
Jumat, 02 Mei 2008
Alus ni Sinuan Tunas tu Amang Inangna di na Laos Kehe tu Sikola
Ajar ni Amangna di Anakna na Laos Kehe tu Sikola
Ia bole amang sinuan tunas
Langka maho amang marguru tu sikola
Ulang humbaen song luas-luas
Tai ringgas ho amang marsipoda
Anggo panganon dohot abit
Uparkancitkon manjalaisa
Inda au nian makikit
Diho mangalehensa
Muda langka au manjala
Dapot au dua mera
Ugadis mai sada
Anso adong panabusi sira
Muda adong tuor nikopi
Dapot au dohot inangmu
Deba do i upajopi
Deba ambaen dio abit matomu
Muda nga dipangan tangkalon
Dapot kita tolu lungguk
Sada mai ugadiskon
Panabusi timbako dohot pusuk
Imale nian amang
Por nirohangku ho marbisuk
Ampot sogot mandokdok ma ulala pamatang
Anso ho doma ubaen usuk
Muda au sogot matobang
Inangmu pe nga be marnida
Da ami ma pasonang
Homa mamparkayahon kita
O… Nalobi Denggan Roa
Na umbege na upardokon on
Mangido au di Ita
Ita patorang ma pangaroai ni danak on
(Willem Iskander Nasution)
-----------------------------------------------------
Alus ni Sinuan Tunas tu Amang Inangna di na Laos Kehe tu Sikola
Inda ayah song poso ni onas
Langka ni ibana na laos kehe marsikola
Inda juo hubaen ayah song luas-luas
Tai ringgas ma ibana marsipoda
Panganon baya ni yah dohot abit
Uparkancitkon juo do mamakesa
Inda boto ayah ibana markancit
Mudape sakali tolu ari do u usa
Muda langka ayah manjala
Humsada dua mera pe inda dapot
Ulang boto da ayah mangaroa-roa
Angkon na halali do so dapot poda
Jarupe adong tuor ni kopi
Na dapot ayah dohot umak
Jarupe sude, ayah umak pajopi
Inda boto ibana ayah, umak-umak
Muda nga dipangan tangkalon
Dapot ayah umak do tolu lungguk
Inda boto ayah umak usangkal kon
Malungun do ibana rap marjuguk-juguk
U boto mada ayah umak
Por ni roha muyu au marbisuk
Jarupe ayah umak tongkin nai na juguk doma di hamak
Huboto mai nangkan na ibana do usuk
Jarupe da ayah madung matobang
Umak pe baya indaba marnida
Inda boto da ibana ayah manyonang
Angkon bisa do ibana parkayahon kita
O…. Nalobi Denggan Roa
Na umbege na hami pardokon on
Mangido ma hami di Ita
Markasehatan nian ayah umak kon
(Abdul Aziz Nasution)
Kamis, 01 Mei 2008
Disedot Sampai Pucat
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhentimaka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa
disedot
sampai pucat
Buruh-buruh - Wiji Thukul
Selasa, 22 April 2008
Kriteria Kebenaran
1. Teori Koherensi
Menurut teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyatan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Ahli filsafat yang mengembangkan teori koherensi, diantaranya Plato (427- 347 SM) dan Aristoteles (384- 322 SM).
2. Teori
Korespondensi
Menurut teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Ahli filsafat dalam aliran ini adalah Bertrand Russel (1872-1970).
3. Teori Pragmatis
Menurut teori ini, kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Teori ini dicetuskan oleh Charles S. Piece (1839- 1914).
Selasa, 15 April 2008
Sumber Pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh dari :
1. Pengalaman;
2. Wahyu;
3. Otoritas;
4. Berpikir deduktif;
5. Berpikir induktif;
6. Metode ilmiah.
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.
Kaum rasionalis beranggapan bahwa pengetahuan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak sedangkan kaum empirisme pengetahuan manusia didapatkan lewat bukti konkret. Selain rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yaitu intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Suatu masalah dalam pikiran namun menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya dan kita merasa yakin bahwa itulah jawabannya namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai ke sana. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Wahyu pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul- rasulnya.
Sabtu, 12 April 2008
Hukum dan Ekonomi
-
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, da...
-
Kesabaran dalam melaksanakan pekerjaan sering kali terdengar seperti nasihat klise, namun justru di sanalah letak kekuatannya. Di tengah dun...
-
Ada dua istilah, yakni Logical Framework (LF atau Logframe) dan Logical Framework Approach (LFA) yang terkadang membingungkan. LogFr...

