Kumpulan aksara sebagai jejak perjalanan menembus ruang dan waktu dalam mengeksplorasi diri dan dunia.
Minggu, 28 Januari 2018
Cara Pelaksanaan Diklat di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 21 Januari 2018
Tahapan Program Pendidikan dan Pelatihan di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 14 Januari 2018
Pentingnya Rencana Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) di RSU Permata Madina Panyabungan
Minggu, 07 Januari 2018
Manajemen Pelatihan dan Pengembangan Karyawan di RSU Permata Madina Panyabungan
Selasa, 02 Januari 2018
Sabtu, 30 Desember 2017
Muhasabah 2017
Wahai diriku, jangan malas.
Mungkin kamu punya sifat alami yang malas, jangan turuti itu!
Semua bakat dan kreativitas yang kamu punya akan sia-sia kalau kamu malas..
Mengapa rencana tahun lalu ada yang tidak tercapai.
Jangan ulangi lagi tahun depan.
Kali ini, kamu harus memastikan kalau resolusimu harus tercapai.
Bukan sekadar angan-angan saja.
Minggu, 17 Desember 2017
Satu Kata Ajaib yang Mengubah Hidup
Selasa, 12 Desember 2017
Analisis Kebutuhan Diklat (Training Need Analysis)
Pelatihan pada dasarnya diselenggarakan sebagai sarana untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesenjangan antara kinerja yang ada saat ini dengan kinerja standard atau yang diharapkan untuk dilakukan oleh si pegawai. Analisis kebutuhan pelatihan merupakan alat untuk mengidentifikasi kesenjangan-kesenjangan yang ada tersebut dan melakukan analisis apakah kesenjangan-kesenjangan tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan melalui suatu pelatihan. Melalui analisis kebutuhan pelatihan maka pihak penyelenggara pelatihan juga dapat memperkirakan manfaat-manfaat apa saja yang bisa didapatkan dari suatu pelatihan, baik bagi partisipan sebagai individu maupun bagi perusahaan.
Dalam mengidentifikasi atau menganalisis kebutuhan diklat banyak teknik atau metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menghimpun informasi dan data untuk keperluan identifikasi kebutuhan diklat. Metode dan teknik tersebut antara lain metode wawancara atau interview, metode kuisioner atau angket dan metode skala.
Beberapa faktor penentu yang yang harus dikumpulkan atau diketahui dalam melakukan analisis kebutuhan diklat dapat diuraikan sebagai berikut:
Alasan. Alasan mengapa sebuah pelatihan perlu diadakan merupakan faktor yang penting untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan dalam pelatihan nantinya. Oleh karena itu, pada tahapan ini perancang program pelatihan dituntut untuk benar-benar jeli dalam melihat kebutuhan yang ada.
Peserta. Harus dapat ditentukan siapa yang akan menjadi peserta pelatihan tersebut. Peserta yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah mencakup partisipan pada pelatihan tersebut.
Pekerjaan. Data atau informasi yang harus dikumpulkan dan dianalisis mencakup hal-hal seperti jenis pekerjaan (jabatan) apa yang sedang di review dan apa fungsi utama pekerjaan (jabatan) tersebut, apa saja kompetensi yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan secara optimal, apa standard kinerja yang harus dipenuhi oleh pegawai, dan apakah pegawai sudah memenuhi standard kinerja yang diharapkan.
Materi. Hal yang mendasar untuk diketahui dalam menentukan materi yang akan dirancang dalam sebuah program pelatihan adalah apakah materi yang akan diberikan merupakan suatu hal yang bersifat essential atau tidak.
Dukungan. Dukungan tersebut adalah berupa komitmen dari para manager atau supervisor untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi para partisipan untuk dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam pelatihan.
Biaya. Sekecil apapun kegiatan pelatihan pasti membutuhkan dana. Oleh karena itu amat penting untuk menghitung untung rugi dari pelaksanaan suatu pelatihan.
Memilih Metode. Sebelum menentukan metode yang akan digunakan dalam pengumpulan data, maka perlu dipikirkan sumber-sumber data yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan.
Daftar Pustaka:
Lynton, Rolf R. & Pareek, Udai, (1994), Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja (Terjemahan), Jakarta : PT. Prenhalindo.
Sabtu, 09 Desember 2017
Momen Pertama Saya Menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Awalnya, saya masih baru dalam dunia pelatihan rumah sakit. Tanggung jawabnya besar, tuntutannya tinggi, dan saya tahu bahwa PPI adalah salah satu materi paling fundamental dalam keselamatan pasien maupun keselamatan kerja tenaga kesehatan. Karena itu, saya ingin pelatihan perdana ini bukan hanya sekadar kegiatan formal, tetapi benar-benar menjadi pengalaman belajar yang hidup, menyenangkan, dan bermanfaat bagi seluruh peserta.
Suasana pagi itu cukup berbeda. Ruang pelatihan terasa lebih hangat dari biasanya—bukan karena udara, tapi karena antusiasme para peserta. Perawat, tenaga medis, dan staf pendukung memenuhi ruangan dengan semangat ingin belajar. Mereka tahu, apa yang dibahas dalam PPI akan menjadi bekal penting dalam pekerjaan sehari-hari.
Bagi saya pribadi, inilah uji panggung pertama. Mulai dari menyusun materi, mempersiapkan pemateri, menyiapkan fasilitas, hingga memastikan semua berjalan lancar—semuanya saya jalani dengan penuh keseriusan. Setiap detail terasa penting, dan setiap kejadian sekecil apa pun menjadi pengalaman yang membentuk cara saya mengelola diklat di kemudian hari.
Pelatihan berjalan lancar dan penuh interaksi. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, bahkan berbagi cerita pengalaman mereka dalam menangani situasi yang berkaitan dengan infeksi. Dari sana saya sadar: pelatihan bukan hanya tentang materi yang diberikan, tetapi tentang ruang belajar yang hidup antara sesama tenaga kesehatan.
Ketika kegiatan selesai, ada rasa lega, bangga, dan bersyukur. Lega karena semuanya berjalan baik. Bangga karena saya berhasil melewati momen besar sebagai koordinator diklat. Dan bersyukur karena didukung oleh tim yang solid dan peserta yang luar biasa.
Pelatihan 9 Desember 2017 itu menjadi langkah awal yang memperkuat jalur saya di dunia pendidikan dan pelatihan rumah sakit. Dari situ saya belajar bahwa sebuah kegiatan bisa jadi sederhana, tapi maknanya sangat panjang. Dan sampai hari ini, setiap kali mengadakan pelatihan baru, saya selalu teringat pada momen pertama itu—momen yang menjadi pondasi perjalanan saya di RSU Permata Madina Panyabungan.
Senin, 13 November 2017
Pengertian, Dasar, dan Manajemen Pelatihan
Ketika kita berbicara tentang pelatihan, sebenarnya kita sedang berbicara tentang proses perubahan manusia. Sikula dalam Sumantri (2000) menyebut pelatihan sebagai proses pendidikan jangka pendek yang sistematis, dengan tujuan mempelajari pengetahuan dan keterampilan praktis. Veithzal Rivai (2004) menambahkan bahwa pelatihan adalah cara mengubah perilaku pekerja agar tujuan organisasi tercapai. Dari dua pandangan ini saya menangkap inti yang sama: pelatihan bukan sekadar aktivitas, tetapi usaha serius untuk meningkatkan kompetensi, sikap, dan keterampilan seseorang dalam waktu yang relatif singkat.
Dengan
kata lain, pelatihan adalah investasi untuk meningkatkan kinerja hari ini dan
menyiapkan kinerja yang lebih baik di masa depan.
Mengapa Dasar Pelatihan itu Penting?
Setiap
kali kami merancang sebuah program, saya selalu mencoba melihat kembali pada
dasar-dasar pelatihan. Dale Yoder sejak 1962 sudah menegaskan prinsip-prinsip
umum: perbedaan individu, motivasi, partisipasi aktif, pemilihan peserta dan
pelatih, metode, hingga prinsip belajar. Meskipun sudah setengah abad lebih
berlalu, prinsip-prinsip itu selalu terasa relevan.
Ada
juga lima syarat minimal yang praktis untuk digunakan:
- sesuai dengan kondisi peserta,
- materi cukup dan bermutu,
- tepat waktu dan tujuan,
- pesan mudah diterima dan
diterapkan,
- serta biaya yang wajar.
Di
lapangan, pertimbangan-pertimbangan ini terasa nyata. Kadang sebuah pelatihan
gagal bukan karena materinya salah, tetapi karena metode tidak cocok dengan
peserta, atau biaya dan fasilitas tidak memungkinkan. Karena itu, sebuah
pelatihan yang berhasil, bagi saya, selalu bertumpu pada dasar-dasar yang
sederhana namun penting ini.
Manajemen Pelatihan: Dari Analisis Hingga Evaluasi
Bagian
yang sering diabaikan adalah manajemen pelatihan. Banyak orang melihat
pelatihan hanya pada tahap pelaksanaan, padahal itu hanya satu bagian dari
rangkaian panjang.
Langkah
paling awal adalah penilaian kebutuhan. Ini pondasi. Tanpa penilaian
kebutuhan, pelatihan hanya menjadi acara rutin, bukan solusi. Analisis bisa
dilakukan pada tiga tingkat: organisasi, program, dan individu. Dari sinilah
kita menemukan celah dan peluang yang tepat.
Setelah
itu barulah desain program, pelaksanaan, dan akhirnya evaluasi. Bagi saya,
evaluasi yang baik bukan hanya mengukur apakah pelatihan selesai, tetapi
menjawab pertanyaan: apakah terjadi transformasi pada peserta?
Sondang
P. Siagian (1994) menyebut bahwa transformasi itu terlihat dari dua hal:
- peningkatan kemampuan kerja,
- perubahan perilaku: sikap,
disiplin, dan etos.
Sebagai
koordinator, ini indikator yang selalu saya cari.
Isi Program dan Prinsip Belajar
Isi
program pelatihan adalah wujud dari penilaian kebutuhan: keterampilan,
pengetahuan, dan sikap yang harus dibangun. Materi harus relevan dengan
pekerjaan nyata. Peserta akan bertanya: “Apa manfaatnya bagi saya?” Jika
kita tidak menjawab, pelatihan kehilangan ruhnya.
Prinsip
belajar yang efektif, menurut Sondang Siagian, berkisar pada lima hal:
- partisipasi,
- repetisi,
- relevansi,
- transfer,
- dan umpan balik.
Dalam
pengalaman saya, bagian yang paling sering dilupakan adalah umpan balik.
Pelatihan bukan kegiatan satu arah. Kita perlu mendengar pengalaman peserta,
melihat reaksi, dan menyusun penyesuaian. Tanpa umpan balik, pelatihan menjadi
ceramah — bukan proses belajar.
Pelaksanaan: Situasional dan Fleksibel
Di
ruang kelas, rencana yang indah kadang bertemu dengan realitas yang keras. Di
sinilah sifat pelatihan menjadi sangat situasional. Jumlah peserta, waktu,
fasilitas, bahkan mood hari itu — semuanya berpengaruh. Karena itu saya selalu
membuka ruang improvisasi, selama tetap menjaga tujuan.
Metode
bisa berbeda, tetapi prinsipnya tetap: pelatihan bukan untuk pelatih, tetapi
untuk peserta.
Evaluasi: Bagaimana Kita Tahu Pelatihan Berhasil?
Bagi
saya, evaluasi bukan sekadar form kepuasan yang diisi di akhir sesi. Evaluasi
yang baik menjawab pertanyaan: apakah peserta berubah? apakah organisasi
merasakan dampaknya?
Jika
setelah pelatihan terlihat:
- tugas dilaksanakan lebih baik,
- sikap kerja membaik,
- disiplin meningkat,
- dan etos kerja tumbuh,
maka
transformasi sudah terjadi.
Itulah
alasan mengapa saya melihat pelatihan bukan hanya agenda rutin, tetapi proses
pembelajaran tentang manusia, organisasi, dan perubahan. Setiap pelatihan
adalah kesempatan untuk tumbuh, baik bagi peserta maupun bagi penyelenggara.
Dan sebagai seseorang yang baru mendapat amanah menjadi koordinator diklat,
saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari proses kecil namun bermakna itu.
Sabtu, 04 November 2017
Ethos, Pathos, dan Logos
Logos adalah sesuatu yang berhubungan dengan argumen yang logis.
Minggu, 29 Oktober 2017
Manfaat Pelatihan & Pengembangan dalam Organisasi
Program pelatihan dan pengembangan dapat difokuskan pada kinerja individu atau kinerja tim. Untuk memaksimalkan keefektifan program pelatihan dan pengembangan, organisasi harus terus-menerus menilai dan mengidentifikasi pelatihan dan pengembangan karyawan mereka saat ini perlu mempersiapkan mereka untuk posisi mereka berikutnya untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi. Organisasi harus mengakui bahwa karyawan yang berbeda akan memiliki kebutuhan yang berbeda dan kebutuhan ini akan berubah seiring waktu ketika para pekerja ini melanjutkan karir mereka. Ketika organisasi berinvestasi dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawannya, investasi dikembalikan dalam bentuk karyawan yang lebih produktif dan efektif. Singkatnya Pelatihan sangat penting untuk pengembangan organisasi dan keberhasilannya yang memang bermanfaat bagi pengusaha dan karyawan suatu organisasi.
Berikut adalah beberapa manfaat penting dari pelatihan dan pengembangan.
Pengurangan dalam waktu belajar: Pelatihan sistematis melalui instruktur terlatih sangat penting untuk mengurangi masa pelatihan. Jika karyawan belajar melalui trial and error, mereka akan mengambil waktu yang lebih lama dan bahkan mungkin tidak dapat mempelajari metode kerja yang benar. Di sini pelatihan menangani semua hal ini dengan cara yang kompak dan mengurangi kerangka waktu belajar mandiri secara signifikan. Semangat tim: Pelatihan dan Pengembangan membantu dalam menanamkan rasa kerja tim, semangat tim, dan kolaborasi antar-tim. Ini membantu dalam menanamkan semangat untuk belajar dalam karyawan.
Pengembangan Keterampilan: Pelatihan dan pengembangan membantu dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja karyawan di setiap tingkat. Ini membantu untuk memperluas cakrawala kecerdasan manusia dan kepribadian karyawan secara keseluruhan.
Pemanfaatan sumber daya yang optimal: Pelatihan dan Pengembangan secara signifikan membantu memberikan peluang dan struktur yang luas untuk pengembangan keterampilan teknis dan perilaku sumber daya manusia dalam organisasi yang pada akhirnya menghasilkan dalam pemanfaatan sumber daya yang optimal, selain itu juga membantu karyawan dalam mencapai pertumbuhan pribadi. Selain pelatihan dan pengembangan skenario di atas mengarah pada peningkatan profitabilitas dan sikap yang lebih positif terhadap orientasi keuntungan, itu juga membantu dalam pengembangan organisasi yaitu organisasi mendapatkan pengambilan keputusan yang lebih efektif dan penyelesaian masalah. Pelatihan dan pengembangan membantu dalam memahami dan melaksanakan kebijakan organisasi sehingga mengembangkan keterampilan kepemimpinan, motivasi, kesetiaan, sikap yang lebih baik, dan aspek lain yang biasanya ditampilkan oleh karyawan dan manajer yang berhasil. Pelatihan dan pengembangan menunjukkan komitmen untuk menjaga karyawan di ujung tombak pengetahuan dan praktik.
-
Sejak lama saya memiliki ketertarikan mendalam pada sejarah—sebuah ketertarikan yang tumbuh dari rasa penasaran tentang siapa kita, da...
-
Kesabaran dalam melaksanakan pekerjaan sering kali terdengar seperti nasihat klise, namun justru di sanalah letak kekuatannya. Di tengah dun...
-
Ada dua istilah, yakni Logical Framework (LF atau Logframe) dan Logical Framework Approach (LFA) yang terkadang membingungkan. LogFr...









