Jumat, 05 Juni 2015

Karang Taruna Madina Galang Dana Untuk Rohingya



PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gerakan penggalangan dana yang dilakukan Karang Taruna Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk membantu para pengungsi Rohingya, hingga Jum’at (5/6) sudah mengumpulkan uang tunai sekitar 11.760.000 rupiah.

Selain berbentuk, bantuan yang terkumpul juga meliputi 18 goni pakain bekas, 20 sak beras, 50 kardus mie instan, 50 kotak air mineral.

“Sumbangan yang terkumpul kita harapakn amsih akan bertambah, karena kita masih terus membuka posko penggalangan,” kata Ketua Karang Taruna Madina, Al Hasan Nasution menjawab Mandailing Online, Jum’at (5/6) di Panyabungan.  

Penggalangan dana ini dilakukan sejak tanggal 28 Mei lalu di berbagai tempat di kota Panyabungan.
Penyaluran bantuan tersebut kepada pengungsi Rohingya di Aceh direncanakan dalam pekan ini. Sebab Karang Taruna masih menunggu pengumpulan sumbangan di kalangan PNS  yang dilakukan Pemkab Madina.

“Kita kemarin sudah kordinasi dengan Pak Sekda. Saat ini pihak pemkab masih menggalang dana di kalangan PNS. Nantinya sumbangan yang dikumpulkan pemkab akan disalurkan bersama-sama dengan sumbangan yang kita kumpulkan. Rencananya, nanti pak Sekda yang akan langsung memimpin penyaluran sumbangan ini ke Aceh,” kata Al Hasan.

Al Hasan juga mengucapkan terimaksih kepada masyarakat Madina yang telah berpartisipasi menyumbangkan dana maupun bentuk barang dalam meringankan beban para pengungsi Rohingya.
Ucapan terimaksih juga disampaikannya kepada Buya Ibrahim yang telah turut menggerakkan pengumpulan sumbangan dari jamaah pengajiannya. Juga terimaksih kepada Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang turut berpartisipasi menyumbang.

Bagi masyarakat Madina yang masih ingin memberikan sumbangan, dapat diantar langsung ke secretariat Karang Taruna Madina, Jl. Madrasah No 4, Dalan Lidang, Panyabungan.

Editor  : Dahlan Batubara 

Sabtu, 09 Mei 2015

Filsafat dan Aku: Merenung di Antara Kopi dan Kehidupan

Hari ini aku kembali duduk di sudut kedai kopi favoritku, menyeruput secangkir hitam pekat sambil menatap hujan yang turun perlahan. Di sela-sela kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, aku sering bertanya pada diri sendiri: mengapa aku melakukan ini semua? Apa makna di balik rutinitas yang kadang terasa hampa?

Aku tak pernah mengira bahwa filsafat, yang dulu kupikir hanya milik para pemikir besar seperti Socrates atau Nietzsche, ternyata begitu dekat dengan kehidupanku. Filsafat, bagiku, adalah seni bertanya dan berani mencari jawaban, meskipun kadang tanpa kepastian.

Dalam kehidupan sehari-hari, filsafat mengajarkanku untuk tidak menerima segala sesuatu begitu saja. Ketika media sosial dibanjiri berita simpang siur, filsafat melatihku untuk berpikir kritis sebelum percaya. Saat menghadapi perbedaan pendapat, ia membimbingku untuk tidak asal menghakimi, tetapi mencoba memahami sudut pandang orang lain.

Lebih dari itu, filsafat memberiku ruang untuk merenung dan menemukan makna di balik setiap kejadian. Ketika merasa gagal atau tersesat, aku ingat pepatah dari filsuf Stoik, Epictetus: "Bukan kejadian yang mengganggu kita, melainkan cara kita menafsirkannya." Dengan begitu, aku belajar menerima hidup dengan lebih tenang.

Filsafat bukan sekadar teori di buku-buku tebal, melainkan teman dalam perjalanan hidupku. Ia hadir di setiap pertanyaan sederhana—tentang kebahagiaan, keadilan, hingga arti keberadaanku sendiri. Dan di sinilah aku sekarang, membiarkan pikiranku mengembara di antara kopi yang mulai dingin dan dunia yang tak pernah berhenti berputar.

Sabtu, 04 April 2015

Politik dalam Pandangan Immanuel Kant

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman abad ke-18, memiliki pandangan berbeda tentang politik yang berkisar pada filosofi moral dan gagasannya tentang peran pemerintah. 

Filsafat politik Kant dapat diringkas dalam beberapa prinsip utama:

1. Moralitas dan Politik: Kant percaya bahwa politik harus didasarkan pada prinsip-prinsip moral. Ia berpendapat bahwa individu mempunyai nilai dan martabat yang melekat, dan institusi politik harus menghormati dan melindungi hak-hak moral ini. Perspektif ini sering disebut sebagai “politik etis”. 

2. Prinsip Universal: Kant mengajukan gagasan tentang "imperatif kategoris", yang merupakan prinsip moral universal yang harus memandu tindakan individu dan politik. Ia percaya bahwa keputusan politik harus diambil berdasarkan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan secara universal tanpa kontradiksi. 

3. Kebebasan dan Otonomi: Kant menghargai kebebasan dan otonomi individu. Ia percaya bahwa individu harus memiliki kebebasan untuk membuat pilihan dan keputusannya sendiri, selama mereka tidak melanggar kebebasan orang lain. Gagasan ini mendasari dukungannya terhadap sistem demokrasi dan supremasi hukum. 

4. Republikanisme: Kant menyukai bentuk pemerintahan republik, yang ia lihat sebagai cara untuk mempromosikan kebebasan dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Ia percaya bahwa sebuah republik, yang ditandai dengan sistem checks and balances, dapat membantu memastikan bahwa keputusan politik selaras dengan prinsip-prinsip moral. 

5. Perdamaian dan Hubungan Internasional: Kant juga mempunyai gagasan penting tentang politik internasional. Dia berpendapat bahwa negara-negara demokratis cenderung tidak berperang satu sama lain karena mereka bertanggung jawab terhadap warga negaranya. Karya Kant tentang perdamaian abadi menguraikan visinya untuk tatanan dunia yang damai berdasarkan kerja sama dan diplomasi internasional. 

Secara keseluruhan, filsafat politik Kant menekankan pentingnya moralitas, kebebasan individu, dan prinsip-prinsip universal dalam membentuk sistem politik dan pengambilan keputusan. Ide-idenya mempunyai pengaruh yang bertahan lama terhadap pemikiran politik dan terus menjadi sumber diskusi dan perdebatan dalam filsafat politik kontemporer.